Jangan Panggil Aku Pelakor!

Jangan Panggil Aku Pelakor!
Maksud Kedatangan Keluarga


__ADS_3

Reyhan duduk termenung di ruang khusus kerjanya. Ia duduk memperhatikan pemandangan kota Bandung dari balik jendela. Jam kantor sudah usai. Namun, Reyhan masih betah berlama-lama di kantornya. Ia sungguh enggan untuk pulang ke rumah.


Reyhan memikirkan masa depannya, hidupnya kini terasa hampa seperti lembaran kertas kosong. Tujuannya untuk bahagia pupus sudah. Nayla, selama ini ia berjuang untuk meminang gadis pekerja keras itu. Reyhan bekerja keras agar bisa menghalalkan Nayla dan membangun bahtera rumah tangga yang indah dengannya. Namun kini semua harus hilang seketika. Sudah tidak ada penyemangat lagi di kehidupannya.


Reyhan menyandarkan punggungnya, ia memutar-mutar kursi tempatnya duduk. Reyhan sungguh terbebani dengan pernikahannya bersama Luna. Reyhan pernah mengutarakan maksudnya untuk menceraikan Luna pada kedua orang tuanya. Namun bukannya mendukung mereka, kedua orang tua Reyhan malah malah marah besar. Mereka mengancam tidak akan menganggap Reyhan anaknya lagi, jika Reyhan sampai berani menceraikan Luna. Mereka juga berjanji akan membuat Nayla menderita yang membuat nyali Reyhan seketika menciut.


Entah apa kehidupan yang Reyhan jalani kini, rasanya ia seperti hidup tanpa jiwa. Seperti zombie di era fantasi. Jiwa yang hanya memikirkan Nayla, namun raga tidak bisa memiliki. Mungkin takdir seakan mempermainkannya. Membiarkan hatinya yang malang tersiksa karena menahan rindu pada gadis yang tidak bisa ia miliki.


Reyhan membuka ponselnya, banyak sekali panggilan tak terjawab dari Rika, sang ibunda.


Ia pun membaca WhatsApp yang masuk dari Rika. Isinya Rika sedang menunggunya dirumah. Reyhan segera memasukan ponselnya lagi, ia segera menyambar jas yang menempel di kursi kerjanya. Dan segera pergi meninggalkan kantor tempatnya bekerja.


Reyhan kini sudah berada di dalam mobilnya, jalanan kota Bandung sangat ramai jika menjelang sore. Mungkin jam pulang kantor. Reyhan memutar musik untuk mengusir sepi.


Ia mengetuk-ngetuk stir kemudi karena jalanan agak macet, sementara perutnya terasa keroncongan. Ia memang tidak sarapan sedari pagi. Jam istirahat pun Reyhan lewati dengan menyendiri di ruang kerjanya. Sungguh hari ini Reyhan sangat tidak berselera untuk makan.


Namun cacing yang ada di perut seakan tidak bisa diajak kompromi. Reyhan menatap Kafe yang baru saja buka. Tidak ada salahnya jika Reyhan mampir sebentar di kafe itu. Begitu pikirnya. Reyhan segera menepikan mobilnya dan memasuki area parkir kafe. Dalam hati dia takjub melihat dekorasi kafe yang dibuat seapik mungkin mengikuti pasar anak muda. Ia memasuki Kafe tersebut, terlihat beberapa orang yang sedang menikmati makanan. Sepertinya pembeli belum terlalu ramai karena kafe baru saja buka.


"Silahkan! Apa ada yang bisa kami bantu?" Seorang gadis yang tak asing muncul di hadapannya dengan senyum yang menawan. Namun senyum itu langsung surut ketika menatap Reyhan. Begitu pun sebaliknya, Reyhan terpaku di tempatnya berdiri. Ia seperti bermimpi bertemu dengan gadis pujaan hati di tempat yang tidak pernah ia duga.


"Nayla. Sedang apa dia di sini?"


Tak lama muncul Aditya di belakang Nayla, hati Reyhan seketika mencelos. Apa mereka sudah sedekat ini? Mengapa mereka sampai bekerja bersama? Nayla segera pergi dari hadapan Reyhan dan digantikan oleh Aditya. Aditya mempersilahkan Reyhan duduk dan memberikan buku menu. Reyhan masih terpaku, ia masih sangat terkejut melihat Nayla.


"Silahkan menunya!" Ucap Adit dengan suara datar.


"Nayla bekerja di sini?" Bukannya menjawab, Reyhan malah balik bertanya.


"Ya, Nayla koki kafe kami," Aditya menjawab seperlunya.

__ADS_1


"Kalau begitu saya pesan bakso isi Mozarella saja. Minumnya capucino dingin," Reyhan menutup menu, ia menatap Aditya dengan tatapan tak suka.


Aditya mengangguk, lalu mengambil lagi buku menu. Ia melangkah menjauhi Reyhan.


"Tunggu, sedekat apa hubungan kalian sampai kalian bekerja bersama?" Suara Reyhan naik beberapa oktaf. Ia tidak bisa lagi membendung pertanyaan yang terus mengusik hati dan pikirannya.


"Lebih dekat dari yang anda duga," Aditya tersenyum sinis kemudian segera berlalu.


"Nay, apakah benar kamu sudah melupakan aku sepenuhnya?


Beberapa menit makanan sudah tersaji di meja Reyhan. Ia menyantap masakan Nayla dengan bersemangat. Rasanya masih sama, saat Nayla sering memasak untuknya. Reyha semakin merindukan momen kebersamaan mereka. Andai waktu bisa diputar, tentunya ia tidak akan meninggalkan Nayla. Tidak akan pernah.


****


"Rey kamu ke mana aja? Dari sore mama nunggu kamu sampai malam begini," Rika spontan mengomel saat melihat kedatangan Reyhan


"Lembur," jawab Reyhan sekenanya.


"Duduk, Rey! Tak sopan ada orang tua kamu malah berdiri seperti itu!" Titah Handi tegas.


Reyhan langsung duduk di sofa seraya memijit pelipisnya. Ia sangat pusing dengan kedatangan orang tuanya. Sudah pasti mereka akan mengatakan hal yang tidak Reyhan suka. Ya, apalagi jika bukan tentang Luna, wanita yang begitu Reyhan benci.


"Cepat, apa yang akan mama sama papa katakan?" Ucap Reyhan pada intinya.


Tak lama saat itu, Luna muncul dengan pakaian dan dandanan yang sangat cantik. Luna memakai dress merah maroon dengan potongan dada rendah. Ia membawa nampan berisi teh dan kopi lalu menghidangkannya di meja.


"Menantu mama memang paling cantik, baik dan rajin!!" Puji Rika tersenyum senang.


"Duduklah di pinggir Reyhan, Lun! Ada yang mau papa katakan," Handi memulai mengutarakan maksudnya.

__ADS_1


"Baik, Pa," Luna mengangguk senang. Ia segera duduk di samping Reyhan dan menempelkan tubuhnya dengan sengaja membuat Reyhan menggeser duduknya.


"Kedatangan kita ke sini, kita mau ngasih kalian voucher honeymoon. Berlibur lah dan berikan kami cucu!" Perintah Handi tegas, tangannya memberikan tiket pesawat dan booking hotel di sekitar Labuan Bajo.


"Tidak bisa, Pa. Aku banyak pekerjaan!" Tolak Reyhan cepat.


"Pekerjaan seperti apa, Rey? Kamu jangan banyak alasan! Lagi pula perusahaan itu milik ayahmu. Nikmatilah liburmu dan jangan terlalu keras untuk bekerja! Lagi pula mama ingin segera menimang cucu," Rika kini bersuara.


"Iya, kak. Lagian kalian belum honeymoon kan? Aku juga pengen cepat jadi aunty," Winnie ikut-ikutan menyahut.


"Onta kali ah," Reyhan mendengus.


"Aku tidak mau. Jika kalian mau berlibur, berlibur sajalah, jangan ajak aku!" Lanjutnya lagi.


"Rey, akhir-akhir ini kamu menjadi anak pembangkang! Papa kecewa sama kamu!!" Handi meninggikan suaranya, ia merasa tidak dihormati sebagai kepala keluarga.


"Kurang apa Luna sama kamu, Rey?" Lirih Rika sedih.


"Kurang apa? Andai kalian tahu kelakuan Luna seperti apa. Bangun siang, masak tidak bisa. Kerjanya cuma main HP dan nongkrong bersama geng sosialitanya. Benar-benar perempuan pemalas dan aku sangat tidak suka itu," batin Reyhan menatap Luna tajam.


"Jangan memaksaku, Pa! Aku lagi males debat. Pembicaraan kita sudah selesai. Kalau begitu, aku pamit. Aku mau mandi dulu, terus istirahat. Cape!" Tanpa menunggu persetujuan, Reyhan segera pergi meninggalkan keluarganya yang seakan tak mengenali Reyhan lagi.


"Anak itu benar-benar berubah, Pa!" Rika mulai terisak.


"Ini semua gara-gara si gadis miskin itu. Pasti kakak kena hasutan si Nayla pelakor itu!" Winnie beragumen.


"Kamu yang sabar ya, Lun? Sebentar lagi kita akan berbuat perhitungan pada gadis itu," desis Rika tajam.


Luna mengangguk dan tersenyum licik.

__ADS_1


"Satu langkah lagi, Nayla. Aku akan menghancurkanmu."


__ADS_2