Jangan Panggil Aku Pelakor!

Jangan Panggil Aku Pelakor!
Mengakhiri Hubungan


__ADS_3

Setelah menikah, Reyhan membeli sebuah rumah untuk ia tempati bersama Luna. Hal ini Reyhan lakukan, agar kedua orang tua mereka tidak ikut campur terlalu jauh ke dalam urusan rumah tangganya.


Siang ini kedua orang tua Reyhan dan Luna mengantarkan anak-anaknya pindah rumah ke area komplek yang berada di kawasan Dago, Bandung.


"Pokoknya cucu mama harus segera launching ya?" Ucap Anita dengan begitu bersemangat.


"Santai aja, Nit! Biarkan Reyhan dan Luna honeymoon dulu. Iya kan, Pa?" Rika menyenggol tangan Handi.


"Mama benar. Rey dan Luna butuh waktu berdua," Handi mengiyakan.


"Ide bagus. Mereka harus segera bulan madu biar di sana gak ada yang ganggu," Farhan, ayah dari Luna menyetujui.


"Kok aku gak mikir sampai sana ya?" Anita tersenyum senang.


"Sepertinya Rey belum bisa bulan madu. Mama dan papa kan tahu, Rey harus segera masuk kerja lagi," Reyhan menolak dan mengatasnamakan pekerjaan.


"Rey, ini kan momen pernikahan kalian. Masa iya kalian tidak pergi bulan madu," Rika merasa kecewa akan jawaban anaknya.


"Ini tiket bulan madu ke Bali. Ini kado dari papa," Handi memberikan dua voucher bulan madu ke Bali untuk Reyhan dan juga Luna.


"Wah ke Bali?" Dengan antusias Luna mengambil voucher itu.


"Tuh kan Rey, Luna aja senang dikasih voucher bulan madu," Anita mencolek tangan Reyhan.


"Winie ingin segera punya ponakan, kak!" Winie menyahuti.


Reyhan pun hanya menghembuskan nafasnya pelan mendengar ocehan-ocehan keluarganya.


"Mau ya? Kasihan lho papamu, Rey!" Bujuk Anita.


"Oke, Rey mau. Tapi mungkin bulan depan. Rey harus bereskan dulu kerjaan," Reyhan akhirnya menyetujui.


"Nah gitu dong," Rika dan yang lainnya tersenyum puas.


Setelah selesai membantu Reyhan dan Luna pindah rumah, akhirnya Rika dan yang lainnya bergegas untuk pulang.

__ADS_1


"Lun? Kenapa kamu antusias kaya tadi?" Cecar Reyhan kepada Luna dengan wajah yang tidak bersahabat.


"Sudah lama aku tidak pergi ke Bali, Rey. Aku hanya rindu untuk pergi ke sana. Maaf ya, Rey!" Luna menunduk.


Reyhan pun hanya menghembuskan nafasnya pelan.


"Aku bakal pikirin cara buat menggagalkan rencana bulan madu kita, Lun," Reyhan meninggalkan Luna yang masih berdiri di ruang tamu dan masuk ke dalam kamar.


Luna pun tampak mondar mandir, ia begitu bingung harus bersikap seperti apa. Pada akhirnya, Luna pun menyusul Reyhan masuk ke dalam kamar.


"Rey, aku tidur di sini kan?" Tanya Luna tanpa basa-basi.


"Iya. Takutnya nanti keluarga kita tahu jika kita pisah kamar," jawab Reyhan sambil memainkan ponselnya. Reyhan masih saja mengirimkan pesan-pesan suara dan pesan teks kepada Nayla. Tak lupa, Reyhan pun terus menghubungi nomor Nayla yang tak kunjung mengangkat telfon darinya.


"Padahal aku sudah memakai nomor baru," Reyhan menyimpan ponselnya di atas nakas.


"Rey, ini barang-barang kamu? Biar aku bereskan," Luna mengambil koper Reyhan.


"Iya, Lun. Tolong ya? Aku sangat lelah," Reyhan menyelonjorkan kakinya.


Dengan cekatan, Luna pun mengambil pakaian-pakaian Reyhan dari dalam koper dan memasukannya ke dalam lemari. Saat Luna hendak mengambil potongan baju terakhir, tangannya menyentuh sesuatu. Luna mengambil sebingkai foto dari dalam koper suaminya. Entah mengapa, hati Luna begitu terganggu melihat potret yang ada di bingkai foto itu. Bingkai foto itu berisi foto Nayla dan Reyhan saat masih berpacaran dulu.


"Lun, taruh foto itu di sini!" Suruh Reyhan kepada Luna sambil menunjuk nakas di samping tempat tidur.


"Dipajang di kamar kita?" Tanya Luna dengan dada yang berdesir.


"Iya. Aku tidak akan bisa tidur jika tidak memandang wajah Nayla terlebih dahulu," sahut Reyhan dengan datar.


"Seperti inikah rasanya menikah dengan pria yang mencintai wanita lain?" Luna tersenyum getir. Kemudian ia menyimpan foto itu di tempat yang ditunjukan oleh Reyhan.


Reyhan pun mengambil remote TV dan menyalakan acara televisi yang ia sukai. Tetapi tetap saja, pikirannya terbang memikirkan Nayla yang tak kunjung mau membuka komunikasi dengannya. Reyhan begitu tenggelam dalam pikirannya mengenai Nayla, hingga ia tidak menyadari jika Luna sedang mengobrol dengan kekasihnya yang bernama Reza via telfon.


"Rey?" Luna mendekat ke arah Reyhan.


"Iya?"

__ADS_1


"Aku harus pergi. Aku akan menemui Reza. Apakah boleh?" Tanya Luna.


Reyhan pun menolehkan wajahnya ke arah istrinya itu.


"Pergi saja! Aku tidak akan melarangmu untuk bertemu siapa pun termasuk kekasihmu," jawab Reyhan dengan mimik wajah yang santai.


"Baiklah, aku pergi dulu ya, Rey?" Luna mengambil tasnya.


Reyhan hanya mengangguk. Tak lama Luna pun keluar dari dalam kamar untuk menemui kekasih yang masih ia pertahankan itu.


"Sayang, sudah lama?" Tanya Luna saat ia melihat kekasihnya tengah terduduk di dalam restoran cepat saji.


"Sudah," jawab Reza dengan senyum kecilnya.


"Selamat ya untuk pernikahanmu!" Ucap Reza dengan kecewa.


"Kamu sudah tahu?" Luna membulatkan kedua bola matanya.


Reza pun hanya mengangguk dengan senyum tipisnya. Luna memang merahasiakan perjodohannya bersama Reyhan termasuk mengenai pernikahannya. Ia juga menyuruh semua teman-temannya untuk merahasiakannya dari Reza.


"Sayang, aku akan memikirkan caranya untuk berpisah dengan dia. Aku masih menyayangimu," lirih Luna.


"Ini tidak benar, Lun. Kamu sudah menjadi istri orang sekarang. Aku tidak bisa berhubungan dengan istri dari pria lain," tutur Reza dengan serius.


"Tapi aku tidak pernah melakukan hal apapun dengan dia. Percaya sama aku ya?" Mata Luna berkaca-kaca.


"Aku tidak bisa, Lun. Lebih baik kita akhiri saja sampai di sini. Tunaikanlah kewajibanmu sebagai seorang istri yang baik! Aku doakan yang terbaik untuk pernikahanmu," ujar Reza dengan tulus.


"Tapi-"


"Aku rasa, pembicaraan kita sudah cukup, Lun. Aku pamit," Reza bangkit dari duduknya dan meninggalkan Luna yang sudah mulai menangis.


"Reza, apa ada wanita lain di hati kamu?" Luna berteriak.


Reza menghentikan langkahnya dab berbalik menatap Luna.

__ADS_1


"Tidak ada wanita lain, Lun. Aku hanya pria yang tidak mau berhubungan dengan wanita yang sudah memiliki suami. Sadarlah, Lun! Hubungan kita tidak benar. Aku kecewa sama kamu karena tidak mau jujur," tutup Reza. Kemudian pria itu langsung berjalan meninggalkan Luna.


__ADS_2