Jangan Panggil Aku Pelakor!

Jangan Panggil Aku Pelakor!
Kedatangan Keluarga Reyhan


__ADS_3

"Adit, lepaskan Luna!" Perintah Nayla dengan tegas.


Aditya melepaskan cengkramannya pada lengan Luna, ia menatap Luna seolah ingin memakannya hidup-hidup. Luna langsung pergi tanpa berpamitan, ia meninggalkan galeri dan segera melajukan mobilnya.


"Aku tidak menyangka Luna bisa seperti itu," gumam Nayla tapi masih bisa terdengar oleh Adit.


"Seseorang jika sudah dibutakan oleh cinta bisa melakukan hal di luar logikanya," sahut Aditya. Pria itu pun segera berjalan meninggalkan Nayla. Namun beberapa detik kemudian, Aditya berhenti dan kembali pada gadis itu. "Kamu belum istirahat?"


"Belum," Nayla menggelengkan kepalanya.


"Ayo kita keluar cari makan!"


"Kita nyeblak yuk? Atau makan cuanki?" Timpal Nayla dengan gembira.


Aditya mengangguk. Mereka segera memasuki mobil. Sejak bersepeda bersama di Lembang, Aditya dan Nayla memang semakin dekat. Aditya melajukan mobilnya perlahan meninggalkan pelataran galeri yang sangat mewah di kota Bandung itu.


"Kamu kesibukannya sekarang apa, Dit?" Tanya Nayla saat mereka berada di dalam mobil.


"Sekarang aku fokus sama pabrik tekstil yang ada di kawasan Mohammad Toha. Itu warisan dari Ayah, aku berusaha menjalankan perusahaan itu dengan baik. Untuk galeri, biarkan Mama yang menghandle semuanya," Aditya mulai bercerita, sedangkan matanya fokus menyetir.


"Kalau kamu, Nay? Apa ada planning untuk ke depannya?" Lanjut Aditya lagi penuh keingintahuan.


"Aku ingin mempunyai Wedding Organizer sendiri di mana aku yang menjadi MUA nya langsung. Jika aku punya WO, aku ingin menamakannya Nayla Wedding atau Nay Wedding. Eh tapi bagus mana ya?"


Aditya terkekeh, ia merasa gemas dengan gadis yang ada disampingnya. Entah mengapa dengan Nayla ia merasa sangat terbuka. Sebelum mengenal Nayla, Aditya selalu menutup diri dengan gadis mana pun. Namun saat berjumpa dengan Nayla, Aditya mulai berniat untuk mengenal Nayla lebih jauh.


"Dit, itu ada cuanki! Kayanya enak," Nayla menunjuk penjual cuanki yang sedang mangkal.

__ADS_1


"Jangan tiba-tiba dong, Nay! Bahaya tau!" Gerutu Aditya.


"Maaf, Maaf!!"


Aditya dan Nayla pun duduk di kursi yang telah di sediakan, mereka segera memesan dua porsi cuanki.


" Silahkan A, silahkan Neng!" Kata penjual cuanki itu dengan ramah sambil memberikan masing satu mangkok cuanki untuk Nayla dan Aditya.


"Makasih, Mang."


Nayla segera mengambil botol sambal dan menuangkan sambal dengan sangat banyak ke cuanki miliknya, membuat Aditya membulatkan matanya karena terkejut.


"Udah Nay, itu pedes banget tahu!! Kamu emang mau sakit lambung?" Omel Aditya dengan wajah syoknya, ia segera mengambil botol sambal itu dari tangan Nayla.


"Abis enak kalau pedas," Nayla tertawa, ia langsung melahap cuanki itu dengan antusias.


Aditya hanya menatap Nayla yang sedang makan dengan lahap, rambut panjangnya tersibak angin. Membuat perasaannya semakin deg-degan dan tidak karuan.


******


"Mama, buat apa datang ke sini?" Reyhan menatap wajah ibunya dengan tatapan tak suka.


Kini Rika, Winie, dan Handi berada di Villa Lembang tempat Reyhan menenangkan diri. Mereka sangat tahu Reyhan akan berada di Villa ini untuk menenangkan pikirannya.


"Sampe kapan kakak di sini dan mengabaikan istri kakak? Kakak sadar gak sih kalau kakak udah punya istri?" Cicit Winie dengan berang.


"Aku tahu apa yang terjadi kemarin itu ulah Mama dan kamu, Win! Jadi, stop sampe di sini! Aku mau segera mengakhiri hubungan toxic ini. Aku akan ceraikan Luna," tegas Reyhan dengan berapi-api.

__ADS_1


"Karena keegoisan kalian, aku menderita. Dan karena keegoisan kalian, aku kehilangan seseorang yang aku cintai," lanjut Reyhan lagi. Kini wajahnya merah padam, ia sangat marah kepada keluarganya. Di satu sisi, hatinya merasa sangat terluka karena usahanya mendapatkan Nayla akan lebih sulit dan berliku.


"Reyhan!!" Bentak Handi. Ia seolah kehabisan kata-kata akan sikap putra sulungnya.


"Mama ngelakuin kaya kemarin cuma pengen deketin kamu sama Luna. Kurang apa Luna di matamu Rey? Dia cantik. Dan yang pasti Luna jelas bebet, bibit dan bobotnya. Dan satu lagi, Luna gadis baik-baik!!" Kini Rika yang bersuara.


Reyhan tertawa. Ia lalu memijit pelipisnya yang terasa berdenyut karena kedatangan keluarganya.


"Baik? Bahkan ketika kami melakukannya dia sudah tidak suci lagi."


Mata Rika dan Winnie membola, apakah benar ucapan Reyhan? Tapi Reyhan tidak mungkin berbohong. Rika sudah hafal bahwa Reyhan adalah anak yang sangat jujur.


"Mungkin itu masa lalu kak Luna. Yang penting sekarang dia udah jadi istri kakak. Udah pulang aja sih, disuruh pulang aja susah banget!!" Sungut Winie seraya memutar kedua bola matanya.


"Diem kamu Win atau aku yang sumpel mulut kamu!"


"Mah, lihat karena si gadis miskin itu, Kak Rey marahin aku!!" Winie pura-pura bersedih.


"Pokoknya kamu harus segera pulang, Rey! Papa gak mau ya kamu sampai cerai dengan Luna. Mau ditaruh di mana wajah papa di hadapan rekan-rekan bisnis papa?" Handi yang semula diam kini mulai terpancing emosi. Dadanya naik turun menahan amarah. Ia sudah hapal sifat Reyhan yang amat keras kepala dan teguh akan pendiriannya.


"Kalian saja yang pulang!! Orang tua mana yang rela lihat anaknya gak bahagia? Tapi semua gak berlaku buat kalian. Yang kalian pikirkan hanya ambisi kalian, kalian tidak pernah memikirkan perasaan aku! Anak kalian!!!" Suara Reyhan memenuhi langit-langit ruang tamu. Membuat Winie dan Rika terperanjat. Seumur hidup Rika, baru kali ini mendengar Reyhan membentak dirinya.


"Kau!!!" Tangan Handi terayun, ia akan menampar Reyhan namun ia masih bisa mengendalikan dirinya. Handi menarik tangannya lagi, ia mengusap wajahnya dengan gusar.


"Kalian pulanglah! Atau aku yang akan pergi dari sini!!" Reyhan berbalik arah dan masuk ke dalam kamarnya.


"Lihatlah, Mah! Gara-gara si gadis miskin itu, kak Reyhan berani membentak mama sama papa," hasut Winie dengan senyum liciknya.

__ADS_1


Handi mengepalkan tangannya menahan amarah, "Nayla memang pengaruh buruk untuk Reyhan!"


"Ya, Pah. Dia memang penghancur rumah tangga kak Rey dan kak Luna. Dia pelakor!!" Dukung Rika, namun pikirannya masih terganggu dengan perkataan Reyhan tentang Luna. Apakah semuanya itu benar?


__ADS_2