
Setelah pertengkarannya dengan Luna, Reyhan memutuskan untuk pergi ke villa miliknya yang berada di Lembang. Ia ingin menenangkan dirinya atas semua yang menimpanya. Reyhan pergi tanpa memberitahukan siapa pun, termasuk Luna.
"Ma, satpam bilang Reyhan pergi membawa tas besar," Luna mengadu kepada Rika via telfon. Sebelumnya, Luna sudah mengadu jika ia dan Reyhan terlibat pertengkaran yang cukup besar.
"Kamu jangan khawatir ya, Lun! Mama tahu anak itu pergi ke mana. Biarkan dia dulu. Nanti juga kalau pikirannya udah dingin pasti Reyhan pulang," Rika memberikan nasehat.
"Tapi gimana Ma kalau Reyhan engga pulang?" Cemas Luna.
"Kalau dia tidak pulang, kita susul bareng-bareng. Mama tahu dia pergi ke mana," tegas Rika yang memang sudah hafal Reyhan akan pergi ke mana jika suasana hatinya sedang panas.
Luna pun merasa tenang mendengar ucapan ibu mertuanya. Sedangkan Reyhan saat ini tengah termenung menatap hamparan kebun teh yang luas.
"Nay, kenapa nasibku jadi begini? Harus nikah dengan wanita licik seperti Luna," gumam Reyhan sembari terduduk di halaman vilanya.
"Aku sangat yakin, perjuangan aku buat dapetin kamu bakal lebih keras setelah kamu tahu apa yang terjadi kemarin."
****
Hari minggu telah tiba, Nayla memutuskan untuk bersepeda mengitari Jalanan kota Bandung. Semasa berpacaran bersama Reyhan dulu, ketik akhir pekan datang mereka sering bersepeda bersama.
"Rasanya bersepeda sendirian seperti ini ya?" Nayla berbicara sendiri sambil mengayuh sepeda lipat miliknya. Nayla mengayuh sepeda itu ke kawasan wisata Lembang, yang terkenal dengan kebun teh, panorama alam dan juga suasana sejuk.
"Ini yang aku butuhkan. Me time," Nayla turun dari sepeda dan duduk di sebuah bukit yang di bawahnya adalah hamparan kebun teh yang luas.
"Mang, rujaknya satu ya?" Nayla memesan rujak kepada pedagang yang sedang mangkal di daerah sana.
"Iya, Neng," timpal pedagang itu lalu langsung menyiapkan pesanan Nayla.
Nayla langsung melahap rujak yang sudah dibuatkan oleh pedagang itu. Pikirannya kembali teringat saat ia dulu bersepeda dan makan rujak berdua dengan Reyhan.
"Jodoh memang tidak ada yang tahu," Nayla tersenyum sambil terus memakan rujak itu.
Setelah membayar, Nayla pun langsung meneruskan perjalanannya. Akan tetapi, di tengah jalan hujan langsung turun dengan lebat.
"Cuaca memang tidak bisa diprediksi. Tadi panas sekarang hujan," gerutu gadis cantik itu. Nayla berteduh di sebuah bekas warung yang kosong. Ia melepaskan sarung tangan bersepedanya agar tidak basah.
Terlihat segerombolan pemuda yang membawa sepeda gunung meneduh juga di warung yang sama dengan Nayla. Sepertinya mereka komunitas sepeda gunung.
"Gadis hujan?" Seru suara seseorang yang sudah mulai familiar di telinga Nayla.
"Kamu lagi?" Nayla memutar bola matanya saat melihat Aditya berada di kerumunan para pemuda itu.
"Lagi-lagi aku bertemu denganmu saat hujan begini. Kamu memang gadis hujan!" Aditya tertawa.
__ADS_1
"Siapa, Dit?" Tanya seseorang yang merupakan teman Aditya.
"Dia karyawan mama," jawab Aditya singkat.
"Kukira kekasihmu," timpal temannya yang lain dengan senyuman yang menggoda Aditya.
"Bukan," sahut Nayla dan Adit bersamaan.
"Kalau katamu gadis ini gadis hujan, berarti kamu pawang hujan nya dong, Dit?" Goda teman Aditya yang lain yang membuat Aditya langsung salah tingkah.
"Emang aku ular!" Nayla mengerucutkan bibirnya.
"Gini aja deh, dibalik aja. Gadis ini pawangnya si Adit! Dia harus puber. Ya gays ya?" Teman Aditya yang lain menyahuti. Serempak mereka tertawa bersama, kecuali Aditya dan Nayla yang merasa canggung.
Sesaat kemudian, Nayla pun hanya terdiam. Sementara Aditya asik berbincang dengan teman-temannya untuk mengalihkan kecanggungannya.
"Sudah lumayan reda. Aku pulang saja," batin Nayla sembari ia berjalan meninggalkan warung itu. Aditya pun menatap kepergian Nayla.
"Ya ampun! Kenapa bannya jadi bocor parah gini?" Seru Nayla saat mendapati sepeda lipatnya sudah dalam keadaan bannya bocor.
"Ada apa?" Aditya mendekati Nayla.
"Bannya bocor."
"Bahaya jika kamu memakainya lagi. Jalanan juga licin setelah hujan tadi."
"Ada apa, Dit?" Tanya teman Aditya yang lain.
"Sepeda gadis ini bannya bocor," Aditya ikut mengamati ban sepeda Nayla.
"Bahaya sih Dit kalau maksain meluncur ke bawah," teman Aditya yang lain memberikan analisa.
"Jadi, gimana aku harus pulang?" Resah Nayla yang mulai bingung dengan situasi saat ini.
"Di sini tidak ada angkot. Biar Aditya aja yang bonceng kamu. Kamu bisa duduk di depan," teman Aditya memberikan idenya.
"Gila ya? Sepeda aku bisa patah," Aditya berdecak kesal dengan ide temannya.
"Gak akan, Dit. Paling goyang sedikit tapi bisa dibenerin entar ke bengkel," jawab temannya.
"Jalan kaki aja sampai alun-alun Lembang, sesudah itu naik angkot!" Aditya memberikan ide.
"Dit, jangan tega deh! Jauh banget ke alun-alun," temannya melotot ke arah Aditya.
__ADS_1
Aditya pun tampak berpikir dalam waktu yang lama.
"Ya sudah. Aku bonceng kamu sampai alun-alun," Aditya memutuskan.
"Tapi sepeda lipat aku gimana?" Cerocos Nayla.
"Nanti bisa dibawain temen aku. Dia bagian ngerekam kami tadi. Dia bawa mobil dan bentar lagi pulang dari The Loudge. Nanti aku suruh bawa sepedanya terus di kasih ke Adit," jawab teman Aditya.
"Kalau begitu mending Nayla nunggu teman kamu aja naik mobil," Aditya tersenyum senang.
"E-eh masih lama Dit," teman Aditya tampak gugup. Sepertinya mereka memang sengaja agar Aditya membonceng Nayla.
"Iya, Dit. Apalagi dia hobi balap-balapan. Gimana kalau Nayla kenapa-kenapa?"
"Mending kamu aja yang bonceng Nayla!" Dukung temannya yang lain.
"Ya sudah," Aditya menghembuskan nafasnya pelan. Tanpa ia lihat, semua teman-temannya tersenyum senang.
Aditya pun mengambil sepedanya dan segera naik ke sepeda gunung itu.
"Ayo naik!" Perintah Aditya kepada Nayla.
"Titip sepedaku ya?" Nayla berbicara kepada teman Aditya. Nayla pun dengan kikuk naik ke sepeda Aditya, tepatnya di depannya. Nayla duduk pada batang sepeda itu.
"Rambutnya harum," batin Aditya saat Nayla sudah duduk di depannya.
"Jangan ngebut ya?" Pinta Nayla sebelum mereka pergi.
"Cieeeee!!!" Teman-teman Aditya serentak menggoda mereka.
"Apa sih?" Aditya tampak salah tingkah. Begitu pun dengan Nayla yang hanya menundukan kepalanya.
"Pegangan! Kita bakal meluncur," Aditya mengingatkan. Memang jalanan yang melewati kebun teh sangat terjal dan menurun.
Aditya pun mulai mengayuh sepedanya.
"Hati-hati!" Nayla terus berteriak saat mereka meluncur dari atas.
Aditya tidak menjawab, ia terus fokus melajukan sepedanya. Nayla m*encengkram baju Aditya karena ketakutan terjatuh.
"Deg-degan lagi!" Batin Aditya saat Nayla memegang kaosnya dari depan.
"Tidak usah takut. Nikmati saja! Anginnya segar!"
__ADS_1
Nayla pun mulai bersikap santai. Ia menghirup udara Lembang yang terkenal sangat segar itu dengan dalam.
"Ini menyenangkan! Lebih kencang, Dit!" Nayla berteriak. Aditya pun ikut tersenyum mendengar ucapan Nayla.