Jangan Panggil Aku Pelakor!

Jangan Panggil Aku Pelakor!
Sebuah Rencana Reyhan


__ADS_3

"Aku pulang," Reyhan membuka pintu yang tidak dikunci, ia melihat Luna yang sedang duduk di sofa seraya melipat kedua tangannya di dada.


Sudah seminggu ini Reyhan pulang ke rumah yang ia tempati bersama Luna karena paksaan dari kedua orang tuanya. Seperti biasa, Rika berpura-pura sakit untuk mengelabui anak sulungnya itu. Hingga membuat Reyhan tidak tega dan memutuskan untuk pulang ke rumah yang ditinggalinya bersama istri yang tidak dicintainya, Luna.


"Jam 11 kamu baru pulang? Kamu ngantor apa berkemah?" Sungut Luna berapi-api.


Luna merasa dirinya direndahkan sebagai seorang wanita. Reyhan tidak pernah mengabarinya jika ia pulang terlambat. Reyhan seolah tidak pernah menganggap Luna ada. Luna sangat marah akan hal itu. Padahal ia adalah istri Reyhan yang sah.


"Jangan mulai! Aku malas berdebat," Reyhan melepaskan dasinya dan melemparnya ke sembarang arah.


"Kamu harus jelasin kamu dari mana, Rey! Aku ini istri kamu," Luna mengejar langkah Reyhan yang lebar-lebar.


"Lembur," jawab Reyhan singkat.


"Jangan bilang kamu udah kencan sama si Nayla!"


Reyhan menghentikan langkah kakinya begitu nama Nayla disebut. Netranya menatap Luna nyalang.


"Kencan apanya? Lihat wajah aku pun sekarang Nayla tak sudi. Inu semua gara gara rencana busuk kamu itu. Jangan kamu bawa-bawa Nayla terus! Dia gak salah apa-apa. Lagi pula bukannya Nayla itu sahabat kamu? Bisa-bisanya kamu nusuk Nayla dari belakang. Udahlah! Aku capek, mau istirahat," Reyhan melangkahkan kakinya lagi dan segera masuk ke dalam ruang kerjanya. Reyhan menutup pintu dengan sangat keras di hadapan Luna hingga membuat gadis itu terperanjat kaget.


"Lihat aja, Rey! Kamu bakal nyesel perlakuin aku kaya gini!" Bisik Luna geram.

__ADS_1


Setelah pulang dari menenangkan diri, Reyhan dan Luna memang sudah tidak tidur dalam satu kamar. Reyhan lebih suka menghabiskan waktunya di ruang kerjanya miliknya. Ia pun sengaja memasukan perabotan penting seperti kasur dan lemari ke ruang kerjanya demi menghindari Luna. Reyhan benar-benar sudah muak dengan istrinya itu. Reyhan tak tahu sampai kapan ia akan bertahan dengan Luna, yang jelas hidupnya benar-benar tidak bahagia. Ia benar-benar sangat merindukan Nayla, tak pernah sekalipun terlintas dalam pikiran Reyhan untuk mencoba membuka hatinya kepada Luna.


Reyhan membuka jas dan kemejanya, kemudian melemparkannya ke lantai. Hidupnya sudah benar-benar berantakan, tidak ada semangat di dalam dirinya. Ia mer*mas rambutnya dengan frustasi. Diraihnya foto studio berlatar belakang monochrome, di dalam foto itu terlihat dirinya dan Nayla sedang tersenyum lebar.


"Aku kangen kamu, Nay. Apa yang harus aku lakuin buat kita kembali seperti dulu?" Lirih Reyhan parau, ia mengambil bingkai foto itu dan mengusapnya dengan jemarinya yang lentik.


"Andai dulu aku tidak menerima perjodohan ini. Pasti aku udah bahagia sama kamu, Nay. Pasti kamu udah jadi istri aku sekarang, bukan Luna," Reyhan sangat menyesali keputusannya untuk menuruti kemauan keluarganya. Reyhan mengembalikan bingkai foto itu ke atas nakas. Ia mengusap wajahnya kasar. Dengan cara apalagi Reyhan dapat mengembalikan Nayla ke dalam pelukannya lagi?


Dilihatnya kalender yang tergeletak di atas nakas, Reyhan mengingat jika tanggal 10 Nayla akan wisuda. Tiba-tiba muncul sebuah ide untuk mengembalikan Nayla menjadi miliknya lagi.


"Ya, aku harus melakukannya," Reyhan tersenyum tipis. Secercah harapan muncul di dalam hatinya.


*****


Saat Nayla berjalan di sebuah jalan menuju taman, Nayla dikejutkan oleh suara klakson mobil. Ia lantas menoleh dan melihat mobil yang tak asing baginya. Dengan terburu-buru Nayla melangkahkan kakinya lagi, ia tidak mau berurusan dengan si pengendara mobil itu.


"Nay aku mohon kasih aku waktu buat ngomong sama kamu. Ada yang aku pengen sampein dan itu penting," pengendara mobil itu keluar dan mencekal kedua tangan Nayla. Ya, pengendara mobil itu adalah mantan kekasih Nayla yang tak lain adalah Reyhan.


"Apalagi sih, Rey? Aku mohon jangan ganggu aku lagi! Aku gak mau berurusan sama keluarga kamu dan Luna," Nayla melepaskan cekalan tangan Reyhan, ia menatap mantan kekasihnya itu dengan tatapan tidak suka.


"Tapi ini penting, please kasih aku kesempatan buat ngomong, Nay!" Reyhan memohon.

__ADS_1


"Please, Nay! Ini gak ada hubungannya sama hubungan kita. Ada hal penting yang bener-bener mau aku katakan," Reyhan masih memohon ketika melihat raut wajah Nayla yang ragu.


"Urusan penting tentang pernikahan kamu dan Luna kan? Udahlah, Rey! Aku bener-bener gak minat kembali lagi sama kamu," Nayla langsung menolak tegas.


"Bukan, Nay. Ini gak ada sangkut pautnya sama Luna atau pun pernikahan aku. Ini tentang kuliah kamu," Reyhan memancing.


Beberapa detik Nayla berpikir, ia merasa penasaran apa yang akan Reyhan katakan tentang kuliahnya. Nayla pun menganggukkan kepalanya. Nayla berjalan menuju kursi taman yang ada di bahu jalan. Tempat ini memang sepi, masih jarang kendaraan melewati jalanan ini.


"Jadi, apa yang mau kamu bicarakan, Rey? Cepatlah! Aku tidak punya banyak waktu," sungut Nayla dengan wajah tak bersahabat.


Reyhan mendudukkan dirinya di samping Nayla, namun Nayla segera menggeser tubuhnya. Ia tidak mau berdekatan dengan suami orang terlebih suami sahabatnya sendiri. Sudah cukup selama ini semua keluarga Reyhan menuduhnya sebagai seorang pelakor.


Hati Reyhan merasa ngilu saat Nayla memperlakukannya sedingin es. Sikap Nayla memang sangat berubah. Namun ia sangat mengerti mengapa Nayla menjadi seperti itu. Semua masalah berpangkal dari dirinya dan keluarganya.


"Nay, kamu wisuda tanggal kan tanggal 10 ?" Reyhan memulai pembicaraannya. Ia sangat yakin dengan cara ini Nayla akan kembali kepadanya.


"Iya, memang kenapa?"


"Selama hampir 4 tahun itu aku kan yang membantu biaya pendidikan kamu, Nay. Sekarang aku ingin menagih semua dana itu. Aku minta kamu mengembalikan semua dana yang pernah aku kasih ke kamu itu sebelum tanggal 10," pinta Reyhan tanpa ada beban.


"Apa?" Nayla sangat kaget dengan apa yang ia dengar.

__ADS_1


Reyhan tersenyum tipis saat melihat wajah Nayla yang shock dan bingung. Ia yakin Nayla tidak akan bisa mengembalikan dana yang sudah diberikan Reyhan untuk biaya kuliahnya, karena total jumlahnya sangatlah besar.


"Lihatlah Nay aku akan mengikatmu dengan hutangmu itu!"


__ADS_2