Jangan Panggil Aku Pelakor!

Jangan Panggil Aku Pelakor!
Menyatakan Perasaan


__ADS_3

Semua karyawan berhamburan keluar dari mobil setelah mobil berhenti di area parkir Situ Patenggang. Mereka menghirup udara segar dengan dalam. Udara Situ Patenggang benar-benar sangat sejuk. Serentak mereka langsung mengeluarkan barang bawaan mereka dan membawanya ke tepi area Situ/Danau.


"Nayla belum datang ya?" Adam celingukan mencari keberadaan teman kerjanya itu.


"Biarinlah mereka lagi happy happy kali di mobil!" Ayu menjawab sembari membawa tikar.


"Gila kamu ya, Yu! Mereka belum halal!" Adam mengomel.


"Emang kamu nyangka apa, Mas? Maksudku happy happy ngobrol di mobil," Ayu menjawab dengan tawanya yang khas.


"Ya ampun! Kamu bikin aku nething deh, Yu!" Adam menepuk pelan rekan kerjanya yang juga berprofesi sebagai MUA.


"Hayu ah, cus Mas Adam! Bawa nih makanan-makanannya!" Ucap Ayu sembari berjalan membawa tikar.


"Hayu ah cus! Aku udah lapar. Udah salatri," Adam membawa tempat nasi yang lumayan besar.


Tak lama mobil Aditya memasuki area parkir. Mereka pun segera keluar dari mobil untuk menyusul yang lain. Aditya dan Nayla juga tampak membawa barang bawaan yang lumayan banyak.


"Cieeee!!!" Goda para karyawan saat melihat Nayla dan Aditya datang menghampiri mereka bersama-sama.


Aditya dan Nayla pun tampak tersipu. Merasa seperti anak ABG yang di goda oleh teman-temannya. Mereka langsung bergabung dengan yang lainnya.


"Pak Adit pasti lama-lamain mobilnya ya?" Adam menggoda bosnya itu.


"Ah engga. Nyetirnya biasa aja," Aditya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Mas, jangan godain mereka mulu!" Ucap Ayu pada Adam yang selalu saja iseng.


Nia pun tersenyum kemudian ia berdiri dan mulai berbicara kepada karyawannya. Pertama-tama Nia amat berterima kasih atas kesediaan para karyawannya untuk tamasya bersama-sama. Nia pun menghaturkan terima kasih karena berkat kinerja para karyawannya, wedding organizer miliknya kini laris dan populer sebagai wedding organizer kekinian. Bahkan tema make up pengantin "Flawless tapi pangling" yang diagung-agungkan wedding organizer Nia kini ditiru oleh organizer wedding se Bandung raya.


Saat sambutan sudah usai, Nia mempersilahkan agar para karyawannya makan hidangan yang telah dibawa. Tentu saja Nia yang menyediakan makanan itu saat sebelum berangkat.


"Makan yang banyak ya, Nay?" Aditya menyimpan beberapa lauk di piring Nayla.


"Kamu juga makan yang banyak ya, Dit?" Nayla ikut menyimpan beberapa lauk di piring Aditya. Mereka menikmati hidangan dengan saling tersenyum satu sama lain.

__ADS_1


Adam dan yang lain hanya bisa saling sikut sembari tersenyum melihat adegan itu. Mereka berharap Adit dan Nayla segera menjalin sebuah hubungan.


"Nay, nanti kita naik perahu yu kalau udah makan?" Ajak Aditya kepada gadis yang ia sukai.


"Ayo, Dit! Aku juga pengen keliling. Tapi di Situnya gak ada buaya kan, Dit?" Nayla bertanya dengan cemas.


"Gak ada, adanya Megalodon!" Aditya tertawa.


"Ih, Dit rese ya!" Nayla mencebikan bibirnya.


Aditya pun mencubit hidung Nayla dengan gemas.


"Cieee! Nikahin aja Pak biar tiap hari bisa di cubit cubit si Naynya!" Celetuk salah satu karyawan saat melihat adegan di depan matanya.


Yang lain pun tertawa mendengar godaan untuk Aditya dan Nayla. Nia pun terus tersenyum. Dalam hati, ia berharap semoga Nayla bisa menjadi menantunya. Nia memang sudah menyayangi gadis itu. Nia melihat Nayla adalah seorang gadis yang baik, pekerja keras juga mempunyai harga diri yang tinggi.


*****


Setelah makan, Aditya dan Nayla langsung ke tepi Situ /Danau. Aditya sudah menyiapkan satu perahu yang sudah dihias dengan bunga-bunga indah. Nayla tampak terpukau melihatnya.


"Udah aku sulap tadi!" Aditya langsung naik ke atas perahu.


Pria itu mengulurkan tangannya. Nayla dengan cepat menyambut tangan Aditya dan ikut naik ke perahu. Bagi Nayla, tangan Aditya selalu saja hangat. Gadis itu merasa sangat tenang dengan genggaman tangan Aditya.


Aditya mulai menyalakan mesin perahu. Perahu sudah mulai berlayar mengelilingi Situ Patenggang. Sementara Nia dan yang lain melambaikan tangan ke arah perahu Adit dan Nayla yang semakin menjauh. Nayla tampak mengamati sekitar. Ia terus tersenyum menatap pemandangan hijau yang begitu memanjakan mata. Ditambah dengan kabut yang membuat suasana semakin sahdu.


"Nay?" Panggil Aditya. Sontak gadis itu langsung menoleh.


"Iya, Dit?"


"Nay?" Aditya mengambil tangan Nayla. Ia menatap dalam ke arah mata Nayla. Mata yang selalu membuatnya enggan untuk mengalihkan pandangan.


"Apa, Dit?" Nayla tampak salah tingkah.


"Aku ngerasa nyaman kalau di dekat kamu terus, Nay. Kamu mau gak jadi-" Aditya menggantung kata-katanya.

__ADS_1


"Jadi?" Nayla tampak tidak sabar.


"Kamu mau nemenin aku di sisa hidup aku, Nay?" Aditya berkata dengan lembut.


"Nemenin? Nemenin gimana?"


"Ya, kamu mau gak jadi kekasihku, Nay? Aku jatuh cinta sama kamu," Aditya langsung bertanya pada intinya.


"Emm- gimana ya?" Nayla menarik tangannya yang tengah di genggam Aditya.


Aditya tampak kecewa. Ia mengira Nayla akan menolak dirinya.


"Aku mau, Dit!" Nayla tersenyum.


"Beneran, Nay?" Senyuman tampak merekah di wajah tampan Aditya.


"Beneran," Nayla mengangguk.


"Horeee! Nayla terima cinta aku!!" Aditya berdiri ia kemudian berjingkrak senang.


"Dit, ya ampun perahunya goyang!" Nayla panik ketika perahu mereka bergoyang ke sisi kiri dan kanan.


Perahu semakin oleng. Nayla dan Aditya pun terhempas ke danau. Semua orang yang melihat di pinggir danau berteriak. Tapi Nia hanya tersenyum kalem. Ia sangat tahu keduanya akan baik-baik saja karena Aditya sangatlah lihai berenang. Bahkan pria itu pernah menjadi atlet renang kebanggan sekolahnya saat SMA.


"Adit!!" Nayla mencoba berenang.


Aditya yang pandai berenang langsung menangkap tubuh Nayla dan menaikannya kembali ke atas perahu. Aditya pun naik kembali ke atas perahu. Kini tubuh mereka sama sama basah kuyup.


"Nay, kamu gak apa-apa? Maafin aku ya!" Aditya tampak cemas.


"Ya ampun Dit tadi itu seru!!" Nayla tertawa.


"Seru gimana, Nay? Aku gagal jagain kamu!" Aditya tampak bersedih.


"Ya pertama kalinya aku ditembak sama cowo kaya gini!!" Nayla terus tertawa.

__ADS_1


"Pokonya aku yang terakhir nembak kamu ya, Nay? Gak akan ada pria lain lagi," Aditya memgambil tangan Nayla dan menggosok-gosokannya ke tangan miliknya agar tangan Nayla menghangat. Maklum saja cuaca Situ Patenggang sangatlah dingin.


__ADS_2