Jangan Panggil Aku Pelakor!

Jangan Panggil Aku Pelakor!
Terluka


__ADS_3

Nayla sedang menunggu Reyhan datang, pemuda itu memang meminta bertemu hari minggu ini di dekat kampus Nayla. Nayla mendudukan dirinya di sebuah gazebo yang ada di taman. Nayla menunggu kedatangan kekasihnya itu dengan perasaan gembira.


Sembari menunggu Reyhan, Nayla meneliti tugas kuliah yang baru saja diberikan oleh dosennya. Nayla memang hanya masuk kuliah saat akhir pekan saja karena ia mengambil kelas karyawan.


"Rey, mana ya?" Nayla menutup buku tugasnya dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling, berharap Reyhan akan segera muncul.


"Sebenarnya Rey mau ngomong apa ya? Kok terdengar serius sekali tadi," Nayla menggaruk rambutnya.


Pertanyaan yang berputar putar di kepalanya segera sirna setelah melihat mobil Rey datang dan parkir tepat di sebuah area parkir yang tak jauh dari tempat Nayla duduk. Nayla tersenyum saat Rey keluar dari dalam mobil, tapi senyumnya seketika menghilang ketika Luna keluar dari mobil milik Rey.


"Mengapa Luna bisa bersama Rey?" Gumam Nayla.


Reyhan dan Luna pun berjalan beriringan menuju gazebo tempat Nayla duduk.


"Kok kalian bisa barengan?" Nayla langsung mengajukan pertanyaan yang sedari tadi sudah ingin ia tanyakan.


"Emm," wajah Reyhan tampak sangat pias. Bahkan Nayla dapat melihat bibir pria itu sedikit bergetar.


"Aku sama Rey mau bicara sama kamu, Nay," kali ini Luna yang berbicara. Raut wajahnya terlihat sangat tegang.


"Kalian ini kenapa?" Nayla merasa bingung sendiri.


"Ayo duduk! Kalian pasti sedang lapar kan?" Nayla menarik tangan Luna dan Reyhan untuk duduk di sisinya.


"Mang Cuanki!!" Panggil Nayla kepada pedagang cuanki yang sedang mangkal tak jauh dari tempat mereka duduk.


"Aku tidak lapar, Nay," Reyhan menolak.


"Kita makan dulu, baru kita ngobrol."


"Berapa mangkok, Neng?" Tanya penjual cuanki itu saat ia berhenti di depan Nayla.


"Tiga ya, Mang. Yang satu siomaynya aja. Yang satu tahu sama siomay, satu lagi baso dan tahunya aja," Nayla mendikte pesanannya. Ia memang sangat hafal betul porsi kesukaan Luna dan Rey.


Penjual cuanki itu pun memberikan masing-masing satu mangkok untuk Nayla, Luna dan juga Reyhan. Nayla langsung menyabet sambel dan menuangkan ke dalam mangkok miliknya.


"Nay, aku kan sudah bilang jangan terlalu banyak makan pedas! Apalagi setelah ini gak bakal ada yang ngingetin kamu lagi," Reyhan berkata dengan lirih sambil mengambil botol sambel yang ada di tangan Nayla.


"Maksud kamu, Rey?" Nayla tampak tidak mengerti.

__ADS_1


"Habiskan saja dulu, Nay!" Potong Luna.


Nayla pun memakan cuanki miliknya dengan perasaan bingung. Hatinya entah mengapa sudah merasakan tidak ada yang beres. Mereka pun menikmati hidangan makanan khas Bandung itu dengan sunyi, tidak ada yang bersuara. Semuanya sibuk dengan pikirannya masing-masing. Bahkan rasa gurih dan lezat dari makanan itu terasa sangat hambar di mulut Reyhan dan Luna.


"Jadi, kalian mau bicara apa? Kenapa bisa barengan? Tumben," Nayla langsung mengajukan pertanyaan yang sedari tadi sudah ia tahan.


Reyhan dan Luna pun saling berpandangan.


"Nay, maafkan aku!" Luna berhambur memeluk Nayla dan menangis.


"Kamu kenapa, Lun?" Nayla tersentak kaget mendengar Luna menangis tersedu.


"Aku memang bukan sahabat yang baik buat kamu. Bahkan aku juga tidak tahu apa aku pantas disebut sahabatmu atau tidak," Luna semakin mengencangkan tangisnya.


"Lun, kamu bicara apa? Aku tidak mengerti."


Luna pun menarik dirinya dari pelukan Nayla. Ia mengambil tisu dari tasnya dan menyeka air matanya.


"Rey, ada apa?" Kali ini Nayla melirik kepada Reyhan.


"Nay, aku minta maaf. Aku rasa kita sudah tidak bisa melanjutkan hubungan kita," Reyhan berkata dengan kepala yang tertunduk.


"Ma-maksudnya?" Nayla terlonjak saat kata yang ia takutkan akhirnya keluar dari bibir Reyhan.


"Ta-tapi kenapa? Mengapa tiba-tiba?" Pertahanan Nayla akhirnya roboh. Air mata sudah tidak bisa ia bendung lagi.


"Karena mama sudah menjodohkanku dengan wanita lain, Nay. Aku tidak ingin jadi anak yang durhaka," Reyhan berbicara dengan pelan.


Air mata Reyhan pun ikut merembes dari pelupuk matanya. Ia begitu tidak menyangka hari ini akan tiba, hari perpisahannya bersama wanita yang sudah bertahun-tahun menjadi kekasihnya dan menemani hari-harinya.


"Mengapa tidak dari dulu kamu bicara padaku, Rey? Jika kamu bercerita dari dulu kamu sudah dijodohkan, aku pasti mundur dan aku tidak perlu merasakan sesakit ini," Nayla meninggikan suaranya.


"Aku pikir, aku masih bisa menolak permintaan mama dan bisa menikah denganmu, Nay. Tapi pada akhirnya aku tidak bisa. Aku terpaksa harus menerimanya. Mama wanita yang sudah melahirkanku, Nay. Aku tidak ingin menjadi anak durhaka," jemari Reyhan terangkat untuk menghapus air mata Nayla. Nayla langsung menjauhkan wajahnya.


"Haha," Nayla tertawa dengan berderai air mata.


"Aku memang bodoh. Dari awal hubungan kita memang sudah tidak direstui, tapi mengapa aku masih memaksakan untuk bersamamu? Aku memang naif," Nayla tertawa dan menyeka air matanya.


Kemudian tatapannya pun beralih kepada Luna yang sedari tadi bungkam seribu bahasa.

__ADS_1


"Jangan bilang jika kamu yang dijodohkan dengan Rey!" Nayla menajamkan matanya.


"Maafkan aku, Nay!" Hanya itu kata yang mampu diucapkan oleh Luna.


"Saat kamu cerita kalau kamu dijodohkan, apa kamu sudah tahu orang itu adalah Rey?" Tanya Nayla dengan suara yang berat.


Luna pun mengangguk tanpa menjawab.


"Tapi mengapa kamu tidak memberitahuku saat itu, Lun? Kenapa?!!" Bentak Nayla.


"Karena aku tidak ingin membuat kamu bersedih," Luna menangis dengan sesenggukan.


"Dengan kamu rahasiakan tentang ini, kamu sudah lebih jauh menyakiti aku, Lun. Andai aku tahu dari dulu, aku pasti akan berhenti dan berusaha melupakan Rey. Dan sekarang aku tahu semuanya saat Rey langsung memutuskan hubungannya denganku," Nayla menjerit. Untung saja taman ini cukup sepi hingga tidak ada orang yang menonton pertengkaran mereka.


"Nay, tenanglah!" Reyhan hendak menyentuh tangan Nayla.


"Jangan pernah kamu sentuh aku lagi! Aku rasa pembicaraan kita sudah selesai. Aku doakan pernikahan kalian lancar dan kalian selalu dalam kebahagiaan," Nayla merasakan seolah olah puluhan pedang menghujam jantungnya.


"Nay, tunggu!" Reyhan ikut bangkit dan menahan tangan Nayla.


"Apa lagi?" Nayla melepaskan tangannya.


"Aku tidak mencintai Luna. Aku hanya mencintaimu. Setelah menikah dengan Luna, aku akan menemukan cara untuk menceraikannya. Setelah itu aku akan kembali padamu," mata Reyhan sudah sangat memanas.


"Kembali? Dan kamh pikir, aku mau kembali lagi sama kamu? KAMU ANGGAP AKU INI WANITA APA?" Nayla berteriak dengan tangisnya yang semakin menjadi.


"Nay, tenanglah!" Luna berdiri dan menggenggam tangan Nayla.


"Percayalah aku tidak menginginkan untuk menikah dengan Rey. Kami terpaksa melakukannya untuk kedua orang tua kami. Mengertilah, Nay! Kamj pun tahu aku mempunyai kekasih. Aku akan berusaha untuk bercerai dengan Rey, setelah itu kalian bisa bersama kembali," Luna terus menggenggam tangan Nayla.


"Lun?" Nayla melepaskan tangannya yang tengah digenggam oleh Luna.


"Kamu ini seorang wanita. Bagaimana bisa kamu berencana untuk mempermainkan sebuah pernikahan? Berbahagialah! Aku sudah tidak ingin kembali kepada calon suamimu! Ambilah barang bekasku!" Nayla membalikan tubuhnya dan meninggalkan Reyhan dan Luna yang masih menatapnya dengan seribu luka.


Nayla langsung pulang ke rumahnya dengan naik bus. Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, air mata Nayla tidak bisa berhenti. Dadanya seakan dihujam ribuan belati. Sesak, sakit. Itu yang Nayla rasakan. Bagaimana tidak? Kekasihnya akan menikah dengan sahabatnya sendiri.


"Kiri, Pak!" Nayla berdiri dan keluar dari bus.


"Kakak sudah pulang?" Tanya Dwi yang melihat kakaknya tiba di rumah.

__ADS_1


"Kak Nay nangis?" Giliran adik bungsunya, Bayu yang bertanya.


Nayla tidak menjawab, ia langsung masuk ke dalam kamarnya. Nayla terduduk di lantai. Ia pun menangis saat mengingat pertemuannya tadi dengan Reyhan dan Luna.


__ADS_2