
"Sepertinya ini galeri tidak asing deh, Rik!" Ujar Anita pada Rika. Mereka baru saja turun dari mobil dan sudah sampai di depan galeri WO yang sangat terkenal di kota Bandung.
"Ya, ini galeri terkenal di kota Bandung, Nit. Di galeri ini juga Nayla bekerja. Aku sengaja memilih galeri ini, agar Nayla tahu bahwa Reyhan dan Luna akan segera menikah. Dengan seperti itu, dia tidak akan berani lagi untuk mendekati Reyhan," Rika mulai menceritakan rencananya.
Anita tersenyum sinis saat mendengar ide dari calon besannya itu. Tak menyangka Rika akan mempunya ide brillian seperti itu.
"Tidak salah aku pilih besanan sama kamu. Kamu cerdas!" Puji Anita.
"Iya dong, Ayo kita langsung masuk!" Rika menuntun Anita untuk masuk ke dalam galeri.
Mereka bergandengan memasuki galeri, terlihat Nayla sedang mencatat jadwal-jadwal resepsi dan Prewed customer dengan fokus hingga tidak menyadari Rika dan Anita memasuki galeri tanpa permisi.
"Ada customer kok di anggurin. Apa seperti ini kelakuan pelayan WO yang terkenal di Bandung?" Sindir Rika saat memasuki galeri.
Nayla sontak menoleh mendengar suara yang tak asing baginya, ia sangat terkejut ketika melihat Rika dan Anita di depannya. Mau apa mereka kemari? Nayla menerka-nerka dan seketika pikirannya menuju ke arah yang negatif. Namun Nayla berusaha bersikap profesional, ia segera menutup bukunya, dan tersenyum ke arah dua ibu-ibu julid itu.
"Mohon maaf, Nyonya! Saya terlalu fokus tadi. Ada yang bisa saya bantu? Silahkan duduk dulu!" Tanya Nayla dengan senyum seribu wattnya. Ya, tentunya senyuman yang sangat dipaksakan. Tangannya menyuguhkan air mineral kemasan dan membuka toples kue yang sudah disediakan galeri untuk customer.
"Kita ke sini untuk booking tanggal. Kita mau WO ini mengurus pernikahan Luna dan Reyhan," Rika berkata dengan ketus. Namun saat mengatakan maksudnya, ia seperti memperoleh kemenangan. Ia merasa menang karena berhasil memisahkan Nayla dan putranya. Dan tentunya Rika merasa bangga karena perjodohannya berhasil. Rika merasa bangga, karena yang mendampingi Reyhan bukanlah Nayla si gadis miskin, tapi Luna si gadis yang memiliki strata sosial yang sederajat dengannya.
Deg...
Mendengar Luna dan Reyhan akan segera menikah, seperti ada berton-ton batu yang menindih kepala Nayla. Mengapa semuanya terasa berat dan sakit? Nayla mencoba memaksakan senyumnya. Ia tak boleh memperlihatkan kesedihannya di hadapan Rika dan Anita. Kini kepedihan hatinya bertambah karena harus melayani pernikahan Luna dan Reyhan.
"Baik. Untuk tanggal berapa, Nyonya? Biar saya catat," Nayla mengambil buku jadwal. Lalu ia mengambil sebuah pulpen dan bersiap untuk mencatat.
"Pernikahan putriku dan Reyhan akan digelar 13 Januari," kini Anita yang berbicara.
"Mohon maaf, Nyonya! Tapi tanggal 13 Januari sudah full booked," Nayla memperlihatkan jadwalnya kepada Rika dan Anita. Nayla juga merasa heran tanggal 13 Januari itu tinggal 3 minggu lagi. Mengapa sangat mendadak sekali?
Sontak saja Rika dan Anita merasa kesal, mereka menatap Nayla seolah ingin mencabik-cabik gadis mungil itu.
__ADS_1
"Full booked? Ya usahakan dong biar ada MUA yang ready! Masa WO sepopuler ini MUA nya sedikit. Kita bayar dengan harga paling tinggi lho. Kita gak minta harga nawar!" Dengus Rika dengan geram.
"Lagi pula Luna juga ingin dihias disini, pokoknya kita gak mau tahu. 13 Januari harus ada MUA yang free," Anita ikut bercoleteh.
Mendengar keributan dari ruang khusus customer. Nia yang sedang melihat-lihat gaun pengantin yang baru saja datang, langsung memusatkan perhatiannya. Ia berjalan menuju ruang Customer. Betapa terkejutnya Nia karena melihat Rika rivalnya saat sekolah SMA dulu.
"Rika?" Panggil Nia dan mencoba menyapa.
Bertahun-tahun setelah lulus SMA, mereka jarang sekali bertemu. Saat SMA mereka sangat tak akur, bahkan terkesan bermusuhan. Rika dan Nia sama-sama pandai dalam ekskul tari. Ketika akan pentas, mereka selalu berlomba menampilkan tarian terbaik. Puncak masalahnya saat mantan Rika menyukai Nia dan menyatakan perasaan. Hal itulah yang membuat Rika benci pada Nia. Rika selalu menganggap Nia sebagai perempuan perebut kekasihnya.
"Nia mengapa kamu ada di sini?" Rika terkejut melihat Nia ada dihadapannya.
"Ini galeriku. Sudah lama ya tidak bertemu?" Nia berbasa-basi, ia ikut mendudukan dirinya di samping Nayla.
"Oh ternyata ini WO milikmu. Baguslah! Karena aku ingin membooking tanggal pernikahan untuk putraku. Tolong siapkan yang Terbaik untuk anakku! Riasan, attire, dekorasi, siraman, katering, hiburan. Pokoknya semua harus sempurna dan pastinya glamour!" Titah Rika dengan wajah angkuhnya.
"Nyonya, tanggal 13 sudah full booked!" Nayla memperingatkan lagi.
Nia menggenggam lengan Nayla, ia tersenyum ramah lalu melihat 2 customer yang ada di hadapannya.
"Nah itu kata ownermu bisa, Nay. Kok kata kamu gak bisa? Gak suka ya lihat Luna nikah? Padahal Luna sahabatmu lho. Harusnya kamu juga ikut bahagia!" Sindir Anita dengan jengkel.
"Bukan begitu tapi-"
"Ya sudah kita pamit dulu ya, Nia? Sudah sore. Besok kita ke sini lagi buat bicarain konsep prewedding Rey dan Luna," potong Rika dengan cepat.
Mereka segera berpamitan dan meninggalkan galeri. Kini ada Nia dan Nayla yang duduk saling berdekatan.
"Bu, tanggal 13 kan memang full booked. Nanti siapa yang akan merias pengantinnya?" Nayla bertanya dengan bingung.
"Kamu Nay. Tanganmu sudah dingin untuk merias. Ibu percayakan padamu. Ibu pun sangat puas saat kamu merias wajah ibu. Tenang saja, nanti ibu tambahkan bonus seperti ibu menambahkan bonus untuk MUA yang ada di sini," Nia berkata dengan lembut.
__ADS_1
Nayla tampak berpikir, ia sangat tidak mau bertemu dengan Reyhan lagi. Namun bonus yang Nia tawarkan pasti sangat besar. Mengingat gaji dan bonus MUA tidaklah sedikit. Dan pasti cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari.
"Baiklah, Nay mau Bu," Nayla memutuskan pada akhirnya.
Lima hari kemudian....
Nayla dan tim WO sudah berada di dalam mobil. Hari ini mereka akan pergi ke Ranca Upas untuk melakukan sesi prewedding untuk Luna dan Reyhan. Tiga hari yang lalu Rika dan Anita mendatangi lagi galeri. Mereka menyusun prewedding dengan konsep Back to Nature. Dengan cepat Nayla meng iyakan dan segera menyusun acara.
Kini mereka sudah sampai di tempat penginapan yang sudah dibooking oleh Rita dan Anita. Lokasinya sangat dekat dengan Ranca Upas. Nayla mendorong kotak make up yang sangat berat sekali. Nampak Luna sedang duduk di kursi yang terletak di kamar khusus untuk berhias. Sedangkan Reyhan sedang berdiri di dekat jendela. Tatapan mereka kini beradu. Luna dan Reyhan menatap Nayla dengan sendu.
Luna dan Reyhan sudah diberitahukan bahwa Nayla yang akan merias make-up pengantin dan prewedding. Reyhan sudah tentu menolak dengan sangat keras. Namun penolakan yang ia lontarkan tidak sama sekali digubris oleh Rika. Hingga lagi-lagi ia terpaksa mengiyakan keinginan ibunda tercinta.
"Nay, maafkan aku! " Lirih Luna.
"Nay?" Reyhan berusaha mendekati Nayla. Namun tangan Nayla mengisyaratkan agar Reyhan berhenti.
"Tolong jangan persulit kerjaku hari ini! Aku akan merias kalian. Jadi tolong kerja samanya dan jangan ada drama lagi! Jangan membuat aku salah lagi di hadapan mama kalian," sindir Nayla pedas.
Tangan Nayla membuka kotak make up yang isinya sangat lengkap, ia menundukan kepalanya berpura-pura mencari koas make-up. Namun saat itu, Nayla mengerjapkan matanya, jangan sampai air matanya tumpah saat ini juga. Ia tak ingin Luna dan Reyhan melihat sisi dirinya yang hancur dan lemah.
"Ayo, Lun! Kita di make-up dulu," Nayla mendekati Luna, ia membaurkan make-up di wajah cantik Luna dengan cekatan. Reyhan hanya memperhatikan Nayla dengan hati yang hancur. Bagaimana tidak? Mimpinya untuk menikahi Nayla harus hancur seketika karena keputusan ibunya untuk menjodohkan Reyhan dengan Luna.
"Jangan dibuat jelek ya, Nay! Aku ingin tampil cantik," rengek Luna dengan manja.
"Aku mengerti makanya jangan banyak gerak!"
Setelah selesai membaurkan make-up pada wajah Luna. Kini gantian Reyhan yang didandani. Nayla menyisir rambut Reyhan, lalu memberikannya minyak rambut agar rapi. Tangannya bergetar saat menyentuh rambut Reyhan. Hatinya menjerit, kini ia harus merelakan pria yang ia cintai menikahi sahabatnya. Mimpinya harus kandas begitu saja. Sungguh sangat menyedihkan. Nayla si gadis malang yang ditinggal nikah setelah berpacaran bertahun-tahun lamanya. Dan yang paling menyedihkan adalah sang mantan kekasih menikahi sahabatnya sendiri.
"Nay?" Reyhan menggenggam tangan Nayla saat tangan gadis itu mengolesi rambutnya dengan minyak rambut.
"Aku cinta kamu, Nay. Dan akan selamanya begitu," lirih Reyhan dengan suara yang bergetar.
__ADS_1
Dengan cepat, Nayla menghempaskan tangan Reyhan, ia segera menjauhkan tangannya dari kepala Reyhan. "Tolong jangan kurang ajar!"
Sementara itu Luna melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Entah mengapa, hati kecilnya merasa terusik mengingat Reyhan akan segera menjadi suaminya.