
Rika terus menelfon Reyhan untuk mencari tahu di mana keberadaan putranya itu. Bahkan Rika jatuh sakit karena memikirkan masalah pelik yang sedari awal memang dia yang buat. Reyhan tak bergeming. Ia tidak mengangkat semua telfon keluarganya. Entah di mana pria itu berada.
Hingga dua minggu kemudian Rika dan keluarganya datang ke pengadilan agama. Di sana sedang dilakukan sidang mediasi antara Reyhan dan Luna. Reyhan keukeuh ingin segera mengakhiri bahtera rumah tangganya. Hingga akhirnya mediasi pun gagal dan gugatan cerai tetap dilayangkan.
Luna keluar dari ruang sidang dengan gontai. Wajah wanita itu pun tampak pias. Memang Luna beberapa hari ini tidak nafsu makan. Ia terus memikirkan perceraiannya dengan Reyhan. Bahkan pria itu tidak sudi melihat dirinya saat sidang mediasi. Reyhan memang sangat membencinya dan tidak menaruh sedikit pun simpati padanya.
Rika dan keluarganya menunggu di luar ruang sidang. Ia menunggu putranya keluar. Akhirnya setelah cukup lama tidak melihat sang putr, Rika dapat melihat kembali Reyhan. Air mata menganak sungai di pelupuk mata Rika. Apalagi saat melihat Reyhan kini jauh lebih kurus. Wajah Reyhan tampak lebih pucat.
"Rey?" Rika mendatangi putra sulungnya. Ia mendekat ke arah Reyhan dan langsung memeluknya.
"Sedang apa kalian di sini?" Tanya Reyhan dengan tidak bersahabat. Ia melepaskan pelukan Rika dengan pelan.
"Rey?" Handi, sang ayah hendak bicara.
"Kalau kalian ke sini mau bujuk aku buat tidak meneruskan perceraian ini berarti kedatangan kalian sia-sia. Tekad aku buat cerai dari wanita itu sudah bulat!" Ucap Reyhan dengan dingin.
"Justru kita ke sini mau ngasih dukungan ke kakak supaya sidang perceraian kak Rey lancar," ucap Winie sembari tersenyum.
Sontak Reyhan langsung menoleh ke arah adiknya. Ia amat terkejut mendengar ucapan Winie. Apa yang terjadi? Mengapa kini keluarganya berbalik mendukungnya untuk bercerai dari Luna? Berbagai pertanyaan terus berkecamuk di kepala Reyhan. Akan tetapi, sisi dirinya yang lain menyuruh Reyhan untuk tetap waspada. Bisa saja ini taktik keluarganya. Reyhan amat tahu betul bagaimana keluarganya.
"Jangan akting!" Reyhan berkata dengan dingin.
__ADS_1
"Adik kamu bener, Rey. Kita datang ke sini untuk mendukung sidang perceraian kamu dengan wanita ular itu!" Lanjut Rika dengan wajah nya yang penuh dengan kilat amarah.
"Apa yang terjadi?" Reyhan akhirnya percaya setelah Rika berkata demikian.
"Lebih baik kita bicara di rumah saja. Papa sudah menunjuk kuasa hukum terbaik untuk mendampingi sidang perceraian kamu," Handi menepuk bahu putranya.
Reyhan pun mengangguk. Ia dan keluarganya lantas meninggalkan gedung pengadilan agama untuk pulang ke rumah. Mereka pulang dengan mobil masing-masing. Saat di dalam mobil, Reyhan amat penasaran. Apa yang terjadi dengan keluarganya? Ada masalah apa antara keluarganya dengan Luna? Reyhan sungguh tidak sabar untuk mengetahui semuanya.
Sesampainya di rumah, mereka langsung duduk di ruang tengah. Rika duduk di sebelah Reyhan. Ia tidak mampu lagi membendung perasaannya. Rika amat merasa bersalah sudah menikahkan sang putra dengan wanita tidak baik seperti Luna.
"Maafkan mama, Rey! Maafkan mama sudah menikahkah kamu dengan Luna, wanita ular itu!" Terdengar amarah sekaligus kesedihan dan penyesalan yang mendalam dari suara Rika.
"Jadi, kita semua udah tahu kalau kak Luna pernah hamil anak dari mantannya dan kak Luna pernah ab*rsi!" Winie menjelaskan duduk perkaranya karena sedari tadi ibunya hanya menangis dan Handi terus menerus diam. Rika dan Winie tentu sudah menjelaskan semuanya pada Handi.
"Apa?" Reyhan terbeliak. Akan tetapi, Reyhan dengan cepat menguasai keterkejutannya. Bukankah dulu saat ia di perdaya Luna, memang wanita itu sudah tidak suci.
"Rey kan udah bilang ke kalian semua. Tapi kalian gak percaya dan lebih percaya sama orang baru yang kalian kenal," Reyhan tersenyum dengan sinis.
"Maafkan mama, Rey! Maafkan mama sudah menikahkan kamu dengan orang yang salah!" Rika terus terisak.
"Maafin aku juga, kak!" Winie menunduk dengan dalam. Karena dirinya pun turut bersalah atas pernikahan Reyhan dan Luna.
__ADS_1
"Maafkan papa juga, Rey!" Handi membenarkan posisi kaca matanya yang sudah mengembun.
"Maaf gak ada artinya sekarang. Status aku sebentar lagi akan jadi seorang duda. Kalian udah pisahin aku dengan wanita yang aku cintai. Kalian udah hancurin hidup aku sampai berkeping-keping. Kehilangan cinta sejati begitu menyakitkan hati, apalagi cinta itu hilang karena dihilangkan paksa oleh kalian," Reyhan tersenyum pilu yang justru membuat keluarganya semakin merasa bersalah.
"Sejak awal Nayla selalu berusaha menyayangi, menghormati kalian walau kalian terus injak harga dirinya, walau kalian terus hina dia," senyuman pilu itu kini hilang dan berganti dengan wajah yang nestapa.
"Mama akan tebus semuanya," Rika memegang tangan Reyhan.
"Gak akan ada yang bisa nebus. Karena semua sudah hilang, Ma. Nayla sudah bahagia dengan orang lain," Reyhan menepis pelan tangan Rika.
"Andai waktu bisa diputar. Papa pasti akan mengizinkan kamu dengan Nayla menikah," Handi menatap sedih pada putranya.
"Tapi nyatanya waktu tidak bisa diputar. Jangan berandai-andai sesuatu yang mustahil dan tidak akan pernah terjadi!" Reyhan berdiri dari duduknya. Hatinya merasa terus sakit bila dekat dengan keluarganya.
"Maafin kita kak, dengan cara apa kita bisa nebus segala kesalahan sama kakak?" Winie ikut berdiri mencegah kepergian kakaknya.
"Minta maaflah pada Nayla dan keluarganya! Dengan begitu, hatiku mungkin akan sedikit lebih lapang! Kalian sudah menyakiti Nayla dengan dalam. Setidaknya tolong tebus kesalahan kalian padaku dengan cara itu!" Reyhan menatap keluarganya bergantian.
"Akan kami lakukan, Rey!" Rika berdiri dari duduknya. Ia menghapus air mata yang terus saja menetes tanpa permisi.
"Lakukanlah! Reyhan permisi!" Reyhan meninggalkan keluarga dan kediaman kedua orang tuanya.
__ADS_1