Jangan Panggil Aku Pelakor!

Jangan Panggil Aku Pelakor!
Sakit Hati Luna


__ADS_3

Pasca acara resepsi, kini keluarga kedua mempelai sudah berada di hotel untuk beristirahat. Mereka membooking beberapa kamar hotel yang ada di GH Universal Bandung.


"Mah, video kak Rey tadi ada yang upload di akun lambe-lambean. Sepertinya salah satu tamu tadi ada yang cepu (ngadu). Postingan Udah dipenuhin ribuan komentar. Mereka bilang kasian nasib Kak Rey," Winie memperlihatkan ponselnya ke hadapan wajah Anita dan Rika dengan wajah yang panik.


Unggahan itu berisi caption yang menceritakan cerita antara Nayla, Reyhan, dan Luna. Postingan dipenuhi komentar hujatan. Ada yang menghujat keluarga Reyhan karena sudah menjodohkan anaknya. Ada yang merasa kasihan kepada pengantin perempuan. Ada juga yang menyalahkan orang tua mempelai karena bisa-bisanya menunjuk mantan kekasih mempelai pria sebagai tim MUA.


"Halah! Mama tidak peduli, yang penting kakakmu sudah menikah dengan Luna. Kalau netizen biarin aja, mereka gak suka tahu apa masalahnya. Selalu gampang menyimpulkan, nanti juga diem sendiri," cerocos Rika.


"Tapi Ma.. "


"Mamamu benar, Win. Buat hari ini kita gak usah mainin ponsel. Biarkan netizen ribut, di sini kita happy-happy," potong Anita membela Rika.


"Ya sudah, Nit. Ayo kita antarkan anak-anak kita ke kamarnya! Biarkan mereka menikmati kejutan," Rika tersenyum penuh maksud.


Anita dan Rika menarik-narik tangan Luna dan Reyhan, mereka mendorong pelan punggung putra putrinya untuk segera masuk ke kamar pengantin. Aroma mawar menyeruak di dalam kamar, memberikan kesan yang sangat romantis.


"Selamat menikmati malam pertama kalian! Cepat berikan kami cucu!!" Seru Rika dengan wajah yang ceria.


"Apa sih, Ma?" Gerutu Reyhan tak suka.


"Ayo kita pergi, jangan mengganggu mereka" Anita menuntun lengan Rika.

__ADS_1


Dengan cepat Reyhan menutup pintu kamar, ia segera memasuki kamar mandi. Luna merasa lega, ia tak harus terjebak dengan kondisi canggung karena berdua di kamar bersama Reyhan. Luna segera mengganti bajunya dengan piyama yang memiliki celana pendek. Ia *******-***** jemari tangannya. Hatinya merasa tak karuan.


Terdengar guyuran air dari dalam kamar mandi, sepertinya Reyhan sedang mandi. Saat pintu kamar mandi dibuka, Luna buru-buru merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia berpura-pura tertidur dan memunggungi Reyhan.


"Lun, kamu sudah tidur?" Tanya Reyhan, Reyhan memakai kimono handuk. Rambutnya masih basah karena baru saja selesai mandi.


"Baguslah kamu tidur, Lun!" Ucap Reyhan saat melihat mata Luna terpejam


Tidak ada jawaban dari Luna, Reyhan bernafas lega. Ia langsung memakai piyamanya dan mengambil ponselnya di atas nakas. Kini Reyhan mendudukan dirinya di ujung tempat tidur.


Reyhan mencoba menghubungi Nayla. Beberapa kali ia melakukan panggilan, namun Nayla tidak menjawabnya. Apa Nayla sudah tidur?


Reyhan tak kehilangan akal, ia segera memencet aplikasi telfon berwarna hijau dan membuat pesan suara.


"Nay, please jawab aku! Aku khawatirin kamu. Aku cinta sama kamu Nay. Kamu jangan khawatir! Secepatnya aku akan mencari cara untuk berpisah dengan Luna, dan saat itu aku akan kembali sama kamu."


Satu menit..


Lima menit..


Tidak ada jawaban dari Nayla. Reyhan menjambak rambutnya. Entah harus bagaimana lagi agar Nayla mau membalas pesannya. Reyhan berjalan menuju balkon. Ia berusaha menghirup angin segar. Rasanya dadanya selalu merasa sesak saat mengingat Nayla. Secinta itukah Reyhan pada Nayla? Dan jawabannya adalah Iya. Nayla adalah cinta pertamanya, dan Reyhan akan pastikan bahwa Nayla lah yang akan menjadi cinta terakhirnya.

__ADS_1


Sepeninggal Reyhan, mata Luna terbuka. Air matanya menetes. Entah apa yang ia rasakan. Namun saat mendengar pesan suara tadi, hati Luna terasa hancur. Perasaan apa ini? Tapi wanita mana yang tidak hancur, ketika mendengar suara seorang pria yang sudah resmi menjadi suaminya mengungkapkan perasaan cinta dengan penuh emosi kepada wanita lain?


Pagi harinya....


"Lun, bangun!" Reyhan agak meninggikan suaranya.


Luna mengucek-ngucek matanya, ia melihat sinar matahari masuk ke dalam kamarnya melalui gorden yang terbuka.


"Jam berapa ini? " Tanya Luna dengan suara serak.


"Sudah jam tujuh pagi. Mengapa kamu bangun sangat siang? Anak gadis tidak baik bangun siang," Reyhan memberikan petuahnya.


"Maaf aku belum terbiasa! Rey, semalam kamu tidur di mana?" Luna menatap Reyhan dengan sorot ingin tahu.


"Aku tidur di sofa. Ya sudah kamu mandi, jangan lupa dikeramas ya! Biar mama kita lihat dan menyangka kita sudah melakukannya," nada bicara Reyhan terdengar serius.


"Tapi Rey, aku sedang malas mencuci rambutku," tolak Luna dengan lembut.


"Please kamu keramas, Lun! Ini semua demi kebaikan kita berdua. Aku tidak mau kupingku panas diceramahi oleh orang tua kita," tukas Rey tak mau dibantah.


"Baiklah," Luna melangkahkan kakinya dengan gontai menuju kamar mandi. Lagi-lagi hatinya merasa sesak.

__ADS_1


"Maafkan aku Lun! Tapi ini untuk kebaikan kita," lirih Reyhan seraya menatap punggung Luna yang memasuki kamar mandi.


__ADS_2