Jangan Panggil Aku Pelakor!

Jangan Panggil Aku Pelakor!
Memilih Foto


__ADS_3

Nayla beserta keluarganya melakukan sesi foto. Ada beberapa sesi foto yang diambil. Salah satunya adalah sesi foto berdua. Hanya Adit dan Nayla. Nayla dan Aditya begitu canggung saat mereka berfoto berdua. Ini adalah foto pertama mereka. Nayla dan Aditya pun berpose dengan canggung dan ekspresi yang kaku. Hati keduanya amat berdesir satu sama lain. Apakah kini mereka sudah saling jatuh cinta?


Setelah selesai berfoto, mereka keluar dari ruangan. Saat mereka keluar, terlihat keluarga Reyhan masih menunggu giliran. Mereka duduk di sebuah sofa yang empuk.


"Fotonya bisa dilihat di sini ya? Kalian bisa memilih 20 file dari file keseluruhan! Klik enter saja untuk memilih foto yang diinginkan!" Beri tahu seorang karyawan.


"Baik. Terima kasih," ucap Aditya dengan ramah. Tak lama, karyawan itu pun berlalu dari sana.


"Kalian saja yang pilih ya? Mama sama yang lain tunggu di sofa sebelah sana!" Nia menunjuk sofa yang berjauhan dengan keluarga Reyhan.


"Oke, Ma!" Aditya menjawab.


Nayla dan Aditya pun mulai memilih file foto yang akan mereka copy ke sebuah folder. Aditya tampak memilih dengan hati-hati. Layar komputer mereka kini langsung berhadapan dengan keluarga Reyhan. Jadi Reyhan dan keluarganya bisa melihat hasil foto studio mereka tadi.


Perasaan Reyhan masih biasa saja ketika melihat pose Nayla dan keluarganya. Akan tetapi, hatinya mulai bergejolak saat ia melihat sesi foto berdua Aditya dan gadis yang ia cintai. Reyhan mengepalkan tangannya ketika melihat pose Aditya dan Nayla yang sedang saling menatap dengan penuh cinta. Foto yang lain memperlihatkan keduanya tengah berpegangan tangan dengan wajah yang malu-malu. Tentu saja sang fotografer yang mengarahkan pose mereka dan mengira jika Nayla dan Aditya adalah sepasang kekasih.


"Cukup ya!!" Reyhan bangkit dari duduknya. Keluarganya tampak terkejut dengan ulah pemuda itu.


"Nay, kali ini kamu keterlaluan!" Reyhan berjalan mendekat ke arah Nayla dan Aditya yang sedang memilih foto.


"Rey!!" Luna berdiri dari duduknya.


"Ada apa ya?" Aditya berdiri dari duduknya melihat Reyhan berjalan ke arahnya. Dan kini pria itu ikut berdiri dan menatap Reyhan dengan menantang.

__ADS_1


"Nay, aku tidak ngizinin kamu pose kaya gini sama pria ini!" Reyhan berkata dengan serius.


"Hahaha!" Nayla tertawa. Tawanya seakan mengerikan di telinga Reyhan.


"Memangnya kamu siapa?" Nayla bertanya dengan sinis.


"Sadar diri!" Aditya berdiri dari duduknya.


Adit sudah sangat jengah dengan tingkah Reyhan yang juga tidak sadar bahwa selama ini Nayla menderita karena keluarganya. Akan tetapi, Reyhan tidak juga menyadari bagaimana sakit hatinya Nayla akibat perlakuan dari keluarganya.


"Rey, kamu ngapain sih?" Luna menarik tangan suaminya yang juga tengah memandang Aditya dengan tatapan penuh kebencian.


"Rey!!" Rika berteriak dan berdiri dari duduknya.


"Iya?" Seorang karyawan mendekati Nayla yang sedang terduduk di delan layar komputer.


"Saya sudah selesai memilih. Sisanya tolong pilihkan yang bagus!" Pinta Nayla dengan sopan.


Aditya pun langsung menghadap ke arah gadis yang mulai mengisi pikiran dan hatinya. Ia kemudian mencoba meredam emosi dalam dirinya. Aditya pun menoleh kepada karyawan yang dipanggil oleh Nayla.


"Saya ingin semua filenya ya!" Pinta Aditya.


"Dit, mahal dong kalau semua filenya diambil!" Nayla tampak keberatan.

__ADS_1


"Gak apa-apa, Nay. Ini momen kamu seumur hidup sekali," Aditya mengusap rambut Nayla lembut. Sementara Reyhan mengepalkan tangannya. Ingin sekali ia memukul Aditya. Tapi Luna menariknya menjauh dari Nayla dan Aditya.


"Baik, kak. Nanti kami kirim via email kakak ya?" Ucap karyawan itu. Tentunya Aditya sudah mencantumkan email dirinya saat pendaftaran guna pengiriman file foto.


"Baik, kak."


"Untuk pengambilan foto bisa dilakukan seminggu lagi ya kak!" Beri tahu karyawan itu lagi.


"Baik. Terima kasih," Aditya menarik tangan Nayla lembut untuk berlalu dari sana.


Aditya pun membawa Nayla dan keluarganya pulang dari foto studio. Tujuannya sekarang adalah rumah makan yang ada di simpang kota. Mereka langsung meninggalkan studio foto guna menghindari drama lanjutan yang diperbuat oleh Reyhan dan juga keluarganya. Reyhan pun terduduk kembali di kursinya. Matanya terus menatap Nayla yang berlalu dari studio foto itu.


"Ayo, Rey!" Luna menggenggam tangan Reyhan ketika giliran mereka disebutkan.


"Ayo, Rey!" Ucap Rika saat Reyhan masih saja duduk di kursinya.


"Kalian saja yang foto! Aku tidak mau!" Reyhan bangkit dari duduknya. Ia langsung berjalan meninggalkan keluarganya.


"Kak, gak bisa gitu dong!" Winie tidak terima.


"Rey!!!" Bentak Luna.


"Apa?" Reyhan balas berteriak. Ia langsung keluar dari studio foto itu.

__ADS_1


__ADS_2