
Nayla dan ibunya kini sedang berada di galeri milik Nia, ibunda Aditya. Hari ini ada hari wisuda Nayla. Nayla sebenarnya ingin memakai make-up saja di rumah, tapi karena Nia memaksa, akhirnya mereka dirias di galeri miliknya.
Nayla memakai kebaya brukat berwarna Abu dengan rok batik yang senada. Rambut yang ia Cepol dan disisakan sedikit di bagian depan dan mengcurlynya. Ia tidak meminta orang lain merias wajahnya. Hari ini Nayla merias dirinya sendiri. Dengan cekatan, Nayla membaurkan make-up dengan gaya Korean Looks Glam.
Setelah selesai merias wajahnya, Nayla segera merias sang ibunda. Nayla membaurkan make-up yang tipis namun elegan. Ia juga memakaikan sang ibunda hijab dengan sangat rapi. Setelah semuanya selesai, Nayla memakai sepatu heels yang dipinjamkan Nia di galerinya. Sepatu itu berupa hak tinggi berwarna abu, dan ada pita di tengahnya. Mempermanis penampilannya hari ini.
"Anak ibu cantik sekali!!" Puji Asih, sang ibunda.
"Benar, Nay. Kamu cantik banget!" Nia ikut memuji.
"Ah, kalian berlebihan!" Nayla tersipu malu.
"Ya sudah cepat berangkat ya? Nanti ibu dan Adit akan menyusul untuk melihatmu wisuda," Nia tersenyum seraya menyentuh pipi Nayla yang lembut.
Mendengar nama Aditya, Nayla tersipu malu. Entah mengapa setiap kali mendengar nama itu, Nayla menjadi deg-degan. Karena alasan pekerjaan, Nayla dan Adit semakin dekat satu sama lain. Bahkan, tak jarang mereka berbagi cerita jika di kafe ketika sedang sepi pembeli.
"Terima kasih, Bu. Kalau begitu Nay sama ibu berangkat ya? Minta doanya ya, Bu?" Nayla mencium tangan Nia.
Betapa terharunya Nia, ia ikut bangga melihat Nayla sebentar lagi memakai Toga. Nayla sangat baik dan cekatan saat bekerja. Tak heran, Nia begitu menyayangi Nayla seperti keluarganya sendiri.
"Iya, sayang, hati-hati ya?"
Nayla segera menaiki mobil taksi online yang ia pesan, mereka menikmati perjalanan dengan bersenda gurau. Asih begitu terharu, momen yang ia tunggu kini terlaksana. Bisa menyaksikan anak sulungnya memakai toga.
__ADS_1
"Ayahmu pasti bangga, Nay!" Asih mengelus rambut Nayla lembut.
"Iya, Bu. Ini semua atas jasa ayah dan ibu. Kalian berjuang menyekolahkan Nayla dari TK sampai hari ini. Terima kasih, Bu. Nayla sayang ayah dan ibu. Nayla berjanji akan lebih giat bekerja agar kondisi perekonomian kita bisa membaik," ucap Nayla parau, ia sedih karena ayahnya tidak bisa menyaksikan dirinya wisuda hari ini.
"Tidak, Nay. Kamu gak wajib nyari nafkah. Ibu yang harusnya bekerja, Nak. Setelah ini, kamu pun akan menikah dan mempunyai kehidupan sendiri. Ibu tidak mau egois menjadikan kamu tulang punggung terus," air mata menitik membasahi pipi Asih.
"Nay belum memikirkan menikah, Bu. Nay ingin fokus berbakti pada ibu. Sudah jangan nangis! Nanti make-upnya luntur," Nayla menyeka air mata ibunya yang lolos begitu saja.
Mereka pun berbincang kembali hingga Tak tidak menyadari mobil sudah memasuki perataran kampus. Setelah membayar, Nayla dan Asih segera turun dari mobil. Pemandangan mahasiswa mahasiswi yang memakai kebaya dan jas berlalu lalang di hadapan Nayla dan ibunya.
Banyak sekali tukang bunga dan boneka, dalam hatinya Nayla berharap ada yang memberikannya bunga. Namun, ia segera menepis perasaan itu. Lagi pula, siapa yang akan memberinya? Ah, sudahlah mengapa ia jadi teringat Adit.
Nayla dan Asih berjalan menuju aula kampus tempat diselenggarakannya wisuda tahun ini.
"Nayla!!!" Teriak Zara teman sekelas Nayla.
Mendengar nama Nayla, spontan keluarga Luna melirik ke arah Nayla. Tak cuma keluarga Luna, tapi Reyhan dan Keluarganya pun hadir.
"Nay?" Lirih Reyhan.
Rika menyenggol pinggang Reyhan pelan. Ia sangat tidak suka anaknya bertemu dengan gadis yang dibencinya hari ini. Rika segera berjalan menghampiri Nayla dan Zara yang sedang asyik berbincang.
"Akhirnya kamu wisuda juga ya? Itu semua berkat biaya dari anak saya kan?" Rika mengangkat dagu angkuh, sorot matanya terlihat jelas meremehkan.
__ADS_1
"Sudah wisuda pun paling jadi pelayan kafe, Ma!" Hina Winnie dengan tersenyum kecut
"Ma, please jangan mulai! Kalau Mama kaya gini terus, aku pulang saja!" Reyhan menengahi, ia menatap ibunya dengan tatapan tak suka.
"Maaf ya, Nay?" Lirih Reyhan dengan sendu.
"Memang kok Bu, ada uang Reyhan. Saya tidak munafik, tapi setelah ini saya berjanji akan menggantinya," jawab Nayla dengan tenang.
"Mengganti kapan? Jangan angkuh! Dengan gaji kerja jadi pelayan? Berapa puluh tahun kamu akan ganti?" Luna mendekati mereka dan tersenyum merendahkan.
"Sudah cukup kalian menghina anak saya, dan kamu Reyhan!" Bu Asih menunjuk wajah Reyhan.
"Cepat bawa keluarga kamu menjauh dari anak saya!!" Bentak Asih yang tak terima Nayla dihina sedemikian rupa.
"Maafkan keluargaku, Bu!" Reyhan merendahkan suaranya.
"Oh ya Nay, aku punya kejutan buat kamu. Aku akan memberikan hadiah terindah Buat sahabatku tersayang," Luna tersenyum menyeringai, ia segera menjentikan jarinya. Dan beberapa saat kemudian, terlihat ada empat pria yang membawa karangan bunga yang sangat besar dengan kata yang tertulis.
"SD, SMP, SMA, S1, kok jadi pelakor?"
Lalu, muncul spanduk dengan wajah Nayla dengan tulisan Pelakor wisuda.
Nayla dan Bu Asih syok melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Ia tidak menyangka Luna dan keluarganya akan bertindak jauh seperti ini. Sedangkan semua mata sudah tertuju pada mereka. Suasana semakin riuh saat mereka melihat hadiah yang Luna berikan pada Nayla. Hampir semua yang berada di sana mengeluarkan ponselnya, dan mulai merekam moment itu. Sementara Reyhan sudah terlihat geram, ia menggertakan giginya karena menahan amarah akibat dari perbuatan wanita yang kini berstatus istrinya itu.
__ADS_1