Jangan Panggil Aku Pelakor!

Jangan Panggil Aku Pelakor!
Tekad Reyhan


__ADS_3

Setelah selesai akad, Nayla membantu Luna untuk berganti baju. Kini Luna memakai gaun modern untuk resepsi. Nayla tersenyum getir karena gaun itu adalah gaun impiannya jika menikah nanti. Nayla mencoba mengikhlaskan, mungkin ini rezeki Luna mendapat gaun perdana dari galeri.


Nayla begitu cekatan membaurkan make-up di wajah Luna, kali ini Nayla memberi kesan Make-up ala Barbie. Bibir yang di ombre pink, dan bola mata yang diperbesar dengan memakai lensa kontak. Hasilnya Luna seperti benar-benar bak Barbie hidup. Hasil riasan Nayla memang tidak bisa disepelekan. Suatu saat Nayla bermimpi ia akan memiliki galeri sendiri. Itulah mimpi barunya saat ini, bukan menikah bersama Reyhan lagi.


"Nay?" Panggil Luna dengan pelan.


"Ya?" Nayla masih memakaikan kuku-kuku palsu di jari lentik Luna. Tak lupa ia memberikan bedak di punggung telapak tangan Luna, agar warna tangan Luna senada dengan warna kulit wajahnya.


"Maafkan aku, aku sudah menikah dengan pacarmu!" Luna merasa tak enak hati.


"Sudahlah, Lun. Reyhan adalah buku yang selesai aku baca. Kini lembaran barunya adalah bersamamu. Berbahagialah! Aku sudah mengikhlaskan. Aku berdoa semoga rumah tangga kalian selalu diselimuti kebahagiaan sampai akhir hayat kalian."


Mendengar ucapan Nayla, Luna merasa lega. Kini ia tak harus ada perasaan tak enak lagi jika berdekatan dengan Reyhan.


"Terima kasih, Nay. Kamu memang sahabatku," Luna tersenyum.


Saat mendengar Reyhan mengucapkan ijab kabul, hati Luna bergetar. Ia sama sekali tidak mengingat dan tidak merindukan Reza, kekasihnya. Entah perasaan macam apa ini, Luna pun tak mengerti.


"Sudah diriasnya. Sekarang saatnya kamu ke pelaminan dan sambut tamu-tamu yang datang," Nayla memberikan sentuhan akhir di rambut Luna.

__ADS_1


Luna mengangguk dan tersenyum. "Ayo antar aku ke pelaminan, Nay! Kali ini saja. Aku ingin melihat sahabatku berfoto bersamaku."


Hati Nayla mencelos mendengar permintaan Luna, apa Luna tidak peka bahwa kini Nayla sedang bersedih? Tapi Nayla tidak mampu menolak permintaan Luna. Ia segera menggandeng tangan sahabatnya itu menuju tempat pelaminan.


Reyhan yang sedang duduk di kursi pelaminan terkejut bukan main saat melihat Nayla menggandeng tangan Luna menuju pelaminan. Tak hanya Reyhan, keluarga Reyhan dan Luna pun sama-sama kaget. Apalagi Winie, dia menerka-nerka bahwa Nayla akan membuat keributan di tempat resepsi. Namun ia menahan diri untuk tidak menegur Nayla, mengingat banyak sekali tamu yang hadir.


"Nay, ayo foto bersama kami!" Luna merengek manja, Nayla hanya mengiyakan.


Luna segera memberi perintah kepada fotografer yang bertugas untuk memfoto mereka bertiga. Fotografer segera memainkan perannya dan memotret orang-orang yang tengah diterpa cinta segitiga itu. Nayla berada di tengah-tengah pengantin. Reyhan hanya menatap Nayla dengan sedih. Bahkan aroma parfum yang Nayla pakai sangat jelas di indra penciumannya. Mungkin setelah ini, Reyhan akan sangat sulit mendekati Nayla lagi.


Saat selesai berfoto, Ayu mendekati mereka dan memberikan kado yang dititipkan Nayla padanya. Nayla langsung mengambilnya dan memberikannya pada Reyhan dan Luna.


"Ini kado untuk kalian. Maaf bukan barang yang mewah! Aku harap kalian suka," Nayla tersenyum tabah. Tangannya menyodorkan hadiah yang sudah ia bungkus dengan gambar bungkus kado Menara Eiffel.


"Ya sudah, aku turun dulu ya? Banyak tamu yang ingin berfoto bersama kalian."


"Iya Nay," Luna menyahut, sedangkan Reyhan hanya diam saja menatap Nayla.


Saat Nayla akan meninggalkan pelaminan, Reyhan menarik tangan Nayla. Ia sudah tidak bisa membendung perasaannya kini. Ia tak peduli lagi pada tatapan tamu yang menatapnya heran.

__ADS_1


"Rey, apa-apaan?" Nayla mencoba mengibaskan tangannya, namun sulit sekali. Cengkraman tangan Reyhan terlalu kuat.


"Aku cuma hanya ingin mengatakan, aku tidak menginginkan pernikahan ini, Nay! Aku tidak suka dengan perjodohan ini!!!" Teriak Reyhan menggelegar.


"Rey, lepasin!" Nayla berkata dengan geram.


Sementara wajah Luna tampak pucat pasi. Ia sangat malu, karena kini mereka menjadi tontonan banyak orang. Ada sebagian tamu yang merekam saat Reyhan menarik-narik tangan Nayla.


"Kasihan sekali dijodohkan! Keluarga yang tidak mengerti perasaan anak," kata salah satu tamu, mereka mulai berdesas-desus dengan heboh. Kejadian di pelaminan tentu menjadi bahan empuk untuk bergibah ria.


"Iya, Jeng. Kasihan sekali manten lakinya. Keliatan sekali jika dia frustasi dan tertekan," tamu yang lain ikut berkomentar


Sementara Nayla mengibaskan sekali lagi tangannya dengan kuat hingga cekalan tangan Reyhan terlepas. Nayla segera meninggalkan pelaminan dengan setengah berlari. Ia langsung izin kepada Adam untuk meninggalkan resepsi karena tugasnya pun sudah selesai. Untuk tugas berikutnya, Adam lah yang akan menghandle.


"Nit, Farhan? Maafkan kelakuan anakku!" Rika mencoba meminta maaf, ia merasa tak enak kepada besannya itu.


"Lagian sih mama kenapa nyerahin Nayla yang make-up sih? Jadi gini kan kita yang malu," Winie menggerutu.


"Aku sangat malu, Rik. Tapi ya sudahlah biarkan Reyhan seperti itu, yang penting pernikahan ini berjalan dengan lancar," Anita mencoba berlapang dada.

__ADS_1


Sepeninggal Nayla, Rika dan Anita memarahi Reyhan habis-habisan saat acara istrirahat untuk kedua pengantin. Bagai kerbau yang dicocoki hidungnya, Reyhan hanya mengangguk dan meminta maaf pada ibu dan mertuanya itu. Reyhan juga tak mengerti mengapa ia bisa se emosional seperti tadi saat melihat Nayla.


"Ini semua tak akan berhenti, Nay. Lihat saja, aku akan terus meyakinkan kamu sampai kamu mau kembali lagi padaku!"


__ADS_2