
"Anda siapa? Mengapa ikut campur urusan saya dan Nayla?" Ketus Reyhan dengan sorot mata tidak suka.
"Tidak sepantasnya pria beristri mengejar-ngejar mantan kekasihnya. Pulanglah! Ada istrimu yang menunggumu di rumah!" Tantang Aditya dengan wajah tak ramah.
"Sudahlah, ayo kita pergi!" Nayla menengahi. Ia melepaskan cekalan tangan Reyhan dan Aditya pun mengikutinya dari belakang.
Saat Nayla berjalan selangkah meninggalkan Reyhan, pemuda itu mengejar lagi Nayla. Reyhan kembali menggenggam pergelangan tangan mantan kekasih yang masih sangat dicintainya itu.
"Dia siapa, Nay? Tolong jelaskan!" Reyhan menatap tajam ke arah Aditya.
"Rey, lepaskan! Itu bukan urusanmu!!" Suara Nayla meninggi, ia mengibaskan tangannya.
"Aku tidak akan pergi sebelum aku tahu dia siapa!!" Reyhan masih bersikeras. Ia bersikap seolah Nayla masih menjadi kekasihnya.
Hatinya benar-benar takut bahwa pria yang ada di hadapannya adalah kekasih baru Nayla. Reyhan tidak akan pernah bisa melihat Nayla bersama pria lain. Ia akan meyakinkan Nayla bahwa dirinyalah yang pantas mendampingi Nayla, bukan pria lain, termasuk pria yang ada di hadapannya.
"Dia kekasih baruku. Puas kamu? Apa lagi yang kamu harapkan? Kamu sudah menikah, Rey. Harusnya kita tidak perlu bertemu lagi!" Bentak Nayla dengan emosi yang sudah siap untuk diledakan.
Reyhan membulatkan matanya dengan sempurna. Ia menatap Aditya yang sedang menyenderkan punggungnya dengan santai di gerbang pintu masuk galeri. Tidak ada ekspresi yang muncul di wajah Adit.
" Kamu bohong kan, Nay? Tidak mungkin secepat itu kamu lupain aku. Aku tahu dan kenal kamu lebih dari siapa pun! " Reyhan mengguncang bahu Nayla.
Sementara Nayla melangkah mundur, ia melepaskan tangan Reyhan dari bahunya "Lepaskan aku, Rey! Tolong jangan seperti ini!"
__ADS_1
"Jangan kurang ajar dengan kekasih saya! Ayo sayang, kita masuk!" Aditya menuntun lengan Nayla dan masuk ke dalam galeri. Aditya menutup gerbang galeri yang lumayan tinggi sehingga Reyhan sudah tidak terlihat lagi.
Sementara semua karyawan yang menyaksikan adegan dramatis tadi langsung membubarkan diri mereka. Mereka berpura-pura tidak melihatnya. Mereka langsung berpura-pura memasangkan gaun yang baru saja datang ke Mannequin.
Adit langsung melepaskan genggaman tangannya pada lengan Nayla. Ia menatap Nayla dingin tanpa ekspresi. Adit meninggalkan gadis cantik yang masih termangu menatap nya.
"Pak Adit, maafkan saya atas kejadian tadi!" Suara Nayla membuat langkah Aditya berhenti. Pria jangkung itu langsung menoleh dan tersenyum sinis.
"Lupakan! Jangan kepedean!"
"Aneh sekali pria itu. Mengapa dia sangat menyebalkan?" Gerutu Nayla dalam hatinya.
Nayla langsung memulai aktivitasnya bekerja, sementara Aditya masuk ke dalam ruangan ibunya. Terlihat Nia yang senyum sumringah menatap anak kesayangannya.
"Tadi Mama liat kamu lho sama Nayla. Kalian serasi!" Goda Nia dengan wajah ceria.
"Tapi kamu biasanya apatis, Dit. Tapi dengan Nayla kamu sampai begitu. Mama gak larang kamu kok. Mama justru senang kamu bisa berhubungan dengan Nayla. Terlebih Nayla gadis yang baik," Nia seakan tak menyerah membujuk putranya untuk membuka hati terhadap gadis lain.
Adit yang sedang memegang toples keripik pisang, langsung menghentikan aktivitasnya. Ia segera bangkit dari duduknya. "Adit gak mau sepagi ini berdebat sama Mama, Adit pergi dulu!"
"Apa ini karena Olivia, Dit? Apa kamu belum bisa melupakan gadis itu? Sampai kapan kamu begini? Menutup hatimu pada gadis lain!"
Perkataan Nia berhasil menghentikan langkah Aditya. Pikirannya melayang pada dua tahun yang lalu, di mana Olivia mencampakan dirinya demi laki-laki yang baru. Olivia adalah mantan kekasih Aditya. Olivia mengenyam pendidikannya di Fakultas kedokteran gigi di salah satu universitas ternama di Bandung.
__ADS_1
Jujur saja sampai sekarang Aditya enggan untuk membuka hatinya pada wanita mana pun. Dia tidak mau mengalami rasa sakit hati lagi hanya karena seorang wanita. Lebih tepatnya, Aditya trauma bukan tidak bisa Move on.
"Sudahlah, Ma! Adit pergi dulu. Bye, Ma!" Aditya tak menghiraukan teriakan Nia yang memanggil-manggil namanya. Pemuda itu langsung menutup ruangan ibunya.
Saat Aditya berjalan, ia melihat Nayla sedang berbincang-bincang dengan customer yang akan membooking WO untuk acara pernikahannya. Nayla sangat ramah kepada para customer, sesekali Nayla tertawa renyah seakan tak ada beban dalam hidupnya.
"Mengapa pria tadi begitu terobsesi dengan gadis ini? Apa kelebihan dia?" Gumam Adit dalam hati sambil terus memperhatikan Nayla.
Sementara itu..
"Lun, di mana Rey?" Tanya Rika pada Luna, Rika baru saja datang bersama Winie untuk mengunjungi anak dan menantu kesayangannya.
Luna memasang wajah sedih, ia menundukan pandangannya. "Reyhan sedang mengejar Nayla, Ma."
Mendengar pengakuan Luna, Rika dan Winnie begitu murka. Mereka membelalakkan matanya karena terkejut.
"Apa kak? Jadi kak Rey masih berhubungan sama si gadis miskin itu?" Tanya Winie dengan nada yang merendahkan.
"Iya, Win. Kakak pikir dengan kakak menikahi Rey, dia akan melupakan Nayla," lirih Luna, ia memang sangat bersedih ketika tahu bahwa suaminya akan berjuang mendapatkan Nayla kembali.
"Dasar wanita tidak tahu diri!! Kita harus buat perhitungan sama dia. Lelaki sudah bersuami dia ganggu. Kita gak boleh diemin ini. Tenang saja kamu, Lun! Mama akan membuat perhitungan dengan si Nayla."
Luna bangkit dari duduknya, ia lalu memeluk Rika dan tersenyum penuh maksud. " Makasih ya, Mam. Makasih Mama mau menyelamatkan rumah tangga aku."
__ADS_1
"Apapun akan maama lakukan untukmu, sayang."
"Nay, maafkan aku. Tapi aku sudah jatuh cinta dengan Reyhan. Aku yakin Reyhan yang dikirim untuk menggantikan Reza. Tidak ada yang salah dengan semua ini. Aku hanya menginginkan Reyhan, dia suami sahku sekarang. Aku ingin Reyhan melupakanmu dan mencintaiku. Mama Rika benar, kamu harus diberi pelajaran agar kamu bisa menolak Reyhan dengan tegas. Melihat sikap Reyhan yang masih terus mengejarmu, aku yakin karena kamu memang memberikan harapan padanya."