Jangan Panggil Aku Pelakor!

Jangan Panggil Aku Pelakor!
Reyhan Sakit


__ADS_3

"Aku pulang!" Reyhan masuk ke dalam rumahnya. Ia baru saja sampai ke rumah setelah menginap dari rumah Nayla.


"Rey, kamu baru pulang?" Luna berhambur menyambut suaminya yang baru saja tiba.


"Iya," jawab Reyhan pendek. Ia berjalan melewati Luna. Reyhan berjalan menuju lantai atas dan masuk ke dalam kamarnya.


"Semalam kamu benar-benar tidur di rumah Nayla?" Tanya Luna dengan penuh selidik.


"Iya. Aku akan berusaha untuk mendapatkan Nayla lagi," Reyhan tersenyum ketika mengingat wajah Nayla yang baru ia lihat lagi tadi pagi. Walau Nayla bersikap cuek padanya, tetapi Reyhan sudah cukup senang sudah melihat wajah gadis itu.


Entah mengapa, diam-diam ada rasa tidak suka yang menyelinap di hati Luna ketika mendengar suaminya benar-benar menginap di rumah Nayla.


"Sebaiknya jangan lakukan lagi! Aku takut nanti mama tahu," Luna memberikan peringatan dengan raut wajah yang dingin.


"Kamu tenang saja! Aku akan berhati-hati. Mama tidak akan tahu," Reyhan tersenyum, kemudian ia membawa setelan santai dan masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti baju.


"Kamu mau ke mana?" Tanya Luna saat Reyhan membawa bantal dan selimut. Rupanya Reyhan akan beristirahat sebentar untuk meredakan pusingnya.


"Aku ingin tidur."


"Tidur saja di atas kasur!" Perintah Luna.


Reyhan pun tidak menjawab, ia kemudian berjalan ke arah kasur yang biasa Luna tiduri. Reyhan merebahkan tubuhnya tanpa bersuara lagi.


"Rey, wajahmu pucat sekali!" Luna memperhatikan wajah Reyhan. Ia menempelkan telapak tangannya di kening suaminya.


"Ya ampun, Rey! Badanmu panas sekali!" Luna terlonjak kaget saat merasakan suhu tubuh Reyhan yang sangat panas.


"Aku baik-baik saja," Reyhan berkata dengan pelan.


"Tunggu sebentar!" Luna bergegas keluar dari kamar, ia mengambil wadah kecil dan handuk kecil untuk mengompres Reyhan.


"Lun, aku tidak apa-apa," Reyhan menolak saat Luna duduk di sisinya dan hendak mengompres badannya.

__ADS_1


"Jangan cerewet! Kamu sakit," Luna menyingkirkan tangan Reyhan. Luna dengan cekatan mengompres tubuh Reyhan. Tak lupa ia memasang termometer untuk mengetahui suhu tubuh suaminya.


"Aku berharap yang merawatku Nayla bukan Luna," batin Reyhan sambil menatap Luna yang tengah mengompres keningnya dengan cekatan. Luna pun memakaikan kaos kaki basah agar suhu tubuh Reyhan segera turun.


"Aku buatkan bubur dulu," ucap Luna saat ia selesai mengompres Reyhan.


Luna segera ke dapur dan membuat bubur dengan bantuan google. Ia memang tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah sebelumnya. Setelah satu jam berjibaku di dapur dengan bersusah payah, Luna pun membawa bubur buatannya ke kamar. Ia melihat Reyhan tengah tertidur.


"Rey, bangun!" Luna menepuk pipi Reyhan dengan pelan.


"Nayla!" Reyhan mengigau. Lagi-lagi ada perasaan yang mengganggu hati Luna saat nama Nayla keluar dari bibir Reyhan.


"Bangun, Rey! Aku sudah membuatkanmu bubur," titah Luna dengan sedikit mengencangkan suaranya.


Reyhan pun membuka matanya. Lagi-lagi hatinya kecewa, karena bukan Nayla yang ia lihat.


"Aku membuatkanmu bubur, makanlah!" Luna membantu Reyhan untuk bangun. Reyhan pun bangun dan menyender di sisi tempat tidur.


Luna mulai menyuapi Reyhan dengan bubur yang baru saja ia buat. Tak lupa, Luna meniup-niup bubur itu sebelum Reyhan memakannya.


"Lun, terima kasih. Aku harap kamu mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari Reza," harap Reyhan dengan tulus.


"Apakah aku salah jika aku berharap pria itu suamiku sendiri?" Batin Luna.


Luna pun hanya tersenyum dan kembali menyuapi Reyhan. Setelah itu, ia membantu Reyhan untuk minum.


"Sekarang tidurlah!" Luna berdiri dari duduknya.


Reyhan pun berbaring lagi, ia memejamkan matanya. Kemudian tak lama, ia terlelap.


"Rey, sepertinya aku sudah mulai menyukaimu!" Luna membelai wajah laki-laki yang sudah berstatus sebagai suaminya itu.


"Tidak ada yang salah dengan perasaanku saat ini. Reyhan adalah suamiku. Aku akan membuatmu melupakan Nayla," tekad Luna.

__ADS_1


****


3 hari kemudian...


Kondisi Reyhan sudah membaik karena Luna merawatnya dengan sangat baik ketika ia sakit. Selama sakit, Reyhan pun mengambil cuti tidak masuk kerja.


"Aku rindu Nayla," Reyhan tersenyum. Sebelum bekerja, ia melajukan mobilnya ke galeri tempat Nayla bekerja.


"Aku memang berjodoh dengan Nayla. Buktinya aku tidak sulit menemukannya," Reyhan tersenyum saat melihat Nayla berjalan di halaman galeri.


Reyhan buru-buru memarkirkan mobilnya, ia pun keluar dari mobil dan berlari menghampiri Nayla.


"Nay?" Reyhan memegang tangan Nayla.


"Kamu?" Nayla terlonjak kaget ketika melihat mantan kekasihnya itu.


"Sedang apa kamu di sini?" Tanya Nayla dengan tidak bersahabat.


"Aku merindukanmu. Kemarin-kemarin setelah menginap dari rumahmu, aku sakit. Kamu tidak mencemaskanku?" Reyhan masih memegang pergelangan tangan Nayla.


"Untuk apa aku mencemaskan orang lain yang tidak ada hubungannya denganku? Untuk apa aku mencemaskan suami orang lain?" Nayla tersenyum sinis.


"Lepaskan!" Nayla berusaha melepaskan tangannya yang di genggam Reyha.


"Nay, kita perlu bicara!" Reyhan berkata dengan serius.


"Tidak. Aku tidak mau," Nayla menolak.


"Aku mohon sebentar saja!"


"Tidak, Rey. Lepaskan!" Nayla mengibas-ngibaskan tangannya.


"Tapi Nay-"

__ADS_1


"Anda tidak dengar? Dia tidak mau berbicara dengan anda," timpal suara seorang pria. Nayla menoleh ke arah sumber suara.


"Adit?" Ucap Nayla pada akhirnya.


__ADS_2