
Reyhan meninggalkan villa miliknya untuk mencari makanan. Ia memutuskan untuk tetap menetap di villa itu selama beberapa hari ke depan. Reyhan sangat malas sekali harus bertemu dengan Luna atau pun keluarganya.
Reyhan mengemudikan mobilnya meninggalkan villa miliknya. Ia memutuskan untuk mencari makanan ke sekitar Alun-Alun, karena di sana biasanya banyak pedagang yang berjualan makanan favoritnya.
"Apa-apaan sih? Mereka kaya anak kecil aja!" Gerutu Reyhan saat melihat di depannya sedang meluncur sebuah sepeda.
"Pacaran gak gitu juga kali!!" Reyhan memukul kemudi mobilnya. Ia melihat seorang pemuda tengah membonceng seorang perempuan. Terlihat dari kaki perempuan itu yang melambai di depan.
"Aku salip saja," Reyhan menambah kecepatan mobilnya dan menyalip sepeda gunung yang ada di depannya.
Saat menyalip, Reyhan melirik sekilas pengemudi sepeda dan perempuan yang sedang diboncengnya.
"Nayla?" Mata Reyhan membulat sempurna. Ia pun segera merem mendadak.
"Aaaaaa!!!" Nayla berteriak saat mobil berwarna merah berhenti mendadak di depan mereka, Untung saja Aditya dapat merem sepedanya secara sempurna dan tepat waktu.
"Orang ini sengaja mau buat kita celaka?" Aditya geram akan tingkah pengemudi mobil yang berhenti mendadak di depannya. Apalagi ini adalah jalan yang lumayan menurun dan terjal.
Reyhan segera melepas sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya, ia segera turun dan menghampiri Nayla.
"Nay?" Reyhan menatap sendu Nayla yang masih duduk di sepeda Aditya.
"Anda lagi!" Aditya berdecak pelan ketika melihat pengemudi mobil yang tak lain adalah Reyhan.
"Hey, anda tadi hampir saja membuat kita celaka!" Cerocos Aditya. Ia menautkan alisnya geram karena hampir saja dirinya dan Nayla celaka.
Reyhan tidak bergeming, tatapannya terpaku kepada gadis yang masih sangat ia cintai. Nayla pun turun sejenak dari sepeda Aditya.
"Kamu hampir buat kita celaka, Rey!" Nayla berkata dengan ekpresi wajah yang sangat dingin.
Setelah kejadian beberapa waktu lalu, Nayla semakin menegaskan pada dirinya sendiri bahwa Reyhan sudah tidak pantas berada di hati dan hidupnya lagi.
"Aku tidak bermaksud. Nay, ayo kita bicara! Kita saat ini sangat perlu bicara berdua!" Reyhan berjalan mendekati Nayla. Ia seolah tidak memperdulikan kehadiran Aditya di sana.
"Apa lagi yang harus kita bicarakan?" Nayla menolak.
"Ayo Nay masuk ke dalam mobilku!" Reyhan mencekal tangan Nayla dan menarik gadis itu menuju mobilnya.
"Aku gak mau ya, Rey?" Nayla berusaha melepaskan tangannya dari cekalan Reyhan.
"Jangan bersikap kurang ajar! Dia tidak mau!" Aditya mendekati mereka dan melepaskan tangan Reyhan dari Nayla.
"Jangan ikut campur!" Reyhan menajamkan matanya kepada Aditya.
"Tentu saja saya berhak ikut campur. Nayla ini kekasih saya," Aditya tersenyum seolah menikmati raut wajah Reyhan yang ingin memakannya hidup-hidup.
__ADS_1
"Tidak usah mengaku-ngaku! Nayla hanya mencintai satu pria dan itu saya!" Reyhan mendorong bahu Aditya.
"Anda yakin Nayla masih memiliki hati pada anda setelah apa yang ia dengar?" Aditya tersenyum sinis.
"Sebelum anda mengejar wanita lain, hapus dulu noda m3rah di l*her anda! Mengaku cinta Nayla, tapi men*1kmati istrinya juga," Aditya tertawa.
"Kurang ajar!" Reyhan memukul wajah Aditya hingga pemuda itu tersungkur di tanah.
Aditya bangun dan membalas memukul wajah Reyhan. Reyhan pun balas memukul Aditya lagi.
"Sudah, Rey. Kamu ini kenapa? Kamu sudah punya istri sekarang. Sadar, Rey!" Nayla menengahi perkelahian itu. Ia menarik tangan Aditya. Mata Nayla berkaca-kaca. Ia seolah tidak mengenali Reyhan yang sekarang.
"Nay, aku hanya perlu bicara dengan kamu. Kita sedang butuh waktu berdua. Ya?" Suara Reyhan melunak.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, Rey. Semua sudah berakhir. Hiduplah dengan tenang bersama Luna!" Nayla menjerit.
"Tapi Nay, aku cinta kamu!" Mata Reyhan tampak memerah menahan tangis.
"Stop, Rey! Aku sudah muak. Kita tidak akan pernah bisa bersama. Kehidupan kita sudah berbeda. Jika memang kamu cinta, mengapa kamu menerima perjodohan itu? Mengapa tidak kamu perjuangkan sedikit lagi?" Bulir air mata menetes dari mata Nayla.
"Tidak usah berkata cinta lagi! Selama ini kamu hanya diam saat keluargamu menghinaku. Kamu menerima perjodohan itu dengan mudah. Itu yang namanya cinta?" Nayla berteriak.
"Waktu itu aku terpaksa, Nay. Mama sakit-"
"Kalau begitu, pulanglah dan berbaktilah kepada ibumu! Bahagiakan ibu dan istrimu!" Potong Nayla cepat.
"Aku hanya jijik mendengar suara kalian!" Nayla tersenyum sinis. Ia pun berbalik dan menarik tangan Aditya.
"Ayo, Dit!" Ajak Nayla.
Aditya pun tak menjawab, ia langsung naik ke sepedanya. Nayla duduk di depan Aditya dan mereka pun melanjutkan kembali perjalanan.
"Nay, kamu sedang emosi. Ayo kita bicara lagi dari hati kita masing-masing!" Reyhan berlari berusaha mengejar sepeda Aditya.
Aditya dan Nayla tidak menghiraukan teriakan Reyhan. Mereka pun melanjutkan pulang kembali untuk sampai di Alun-Alun.
"Dit, berhenti!" Pinta Nayla saat mereka sudah jauh dari Reyhan. Aditya pun menghentikan sepedanya tepat di depan sebuah warung kecil yang sedang tutup.
"Ayo menepi dulu!" Ajak Nayla kepada Aditya. Nayla pun turun dari sepeda gunung itu.
"Mau apa?" Aditya menyipitkan matanya. Aditya memperhatikan Nayla yang berjalan dan duduk di pendopo warung itu.
"Dit, ayo ke sini!" Nayla melambaikan tangannya.
Aditya pun memarkirkan sepedanya dan mengikuti Nayla.
__ADS_1
"Jangan macam-macam ya! Aku masih suci," Aditya menatap Nayla penuh curiga.
"Kamu ini kenapa?" Nayla tertawa melihat raut wajah pria yang ada di hadapannya.
"Kemari!" Lanjutnya.
Aditya pun terduduk di samping Nayla. Nayla dengan cepat berdiri. Nauyla berdiri tepat di depan wajah Aditya.
"Apa yang-"
"Aku hanya ingin tahu lukamu. Ini sakit?" Nayla menyentuh luka memar bekas pukulan Reyhan di wajah Aditya.
"Aww!" Aditya meringis.
"Maafkan aku! Gara-gara aku, kamu dipukul Reyhan," Nayla menyentuh luka itu dengan lembut.
"Tidak apa. Hanya saja kenapa pria itu sangat terobsesi kepada mu? Aneh saja. Memang apa kelebihan gadis hujan sepertimu?" Aditya menatap Nayla dengan serius.
"Aku? Aku hanya gadis bodoh yang gampang dipermainkan dan percaya kata-kata Reyhan. Aku bodoh karena bisa bertahan di dalam hubungan semu selama bertahun-tahun dengan Reyhan. Padahal kedua orang tuanya menentang keras hubungan kami. Aku gadis bodoh, karena selalu percaya jika suatu saat nanti hubungan kami akan direstui. Aku memang naif," Nayla tersenyum pilu.
"Hey, maafkan aku! Jangan bersedih!" Aditya tampak merasa bersalah.
"Tidak. Tidak ada yang bersedih. Waktuku terlalu berharga untuk bersedih. Ada ibu dan adik-adikku yang harus aku nafkahi dari pada hanya memikirkan masalah percintaan ini," Nayla mendahkan kepalanya, seakan menahan agar air matanya tidak menetes.
"Kamu masih mencintai pria tadi?" Aditya tampak mencari tahu.
"Tidak," jawab Nayla singkat.
Aditya terdiam, ia menatap wajah gadis yang ada di hadapannya. Entah mengapa, ada perasaan penasaran terhadap diri Nayla. Tanpa mereka sadari hujan pun mulai turun lagi.
"Ayo kita teruskan perjalanan untuk pulang!" Ajak Nayla.
"Ini hujan. Sebaiknya kita tunggu reda," Aditya tampak tidak setuju.
"Kalau di sini terus aku bisa kedinginan."
"Tidak apa-apa jika kita kehujanan?"
Nayla mengangguk.
"Ya sudah, ayo!" Aditya mengambil sepedanya. Mereka pun naik ke sepeda itu dan meneruskan perjalanan untuk pulang.
"Nay?" Panggil Aditya.
"Iya?"
__ADS_1
"Kamu ini memang gadis hujan ya?" Aditya tertawa.
"Sekalian saja panggil aku gadis petir!" Nayla mencubit pinggang Aditya. Mereka pun tertawa bersama di bawah guyuran hujan.