Jangan Panggil Aku Pelakor!

Jangan Panggil Aku Pelakor!
Datang Ke Galeri


__ADS_3

Reyhan memakai kaca mata hitam miliknya dan menembus jalanan kota Bandung. Hari ini ia akan datang kepada Nayla dan menagih apa yang pernah ia berikan untuk wanita itu. Tujuan Reyhan adalah galeri tempat Nayla bekerja.


"Nay, ada yang cari kamu!" Beri tahu Adam kepada Nayla yang sedang merias muse untuk pemotretan katalog galeri hari ini.


"Siapa, Mas?" Tanya Nayla tanpa mengalihkan matanya dari muse yang sedang ia dandani.


"Kamu liat aja deh ke depan, Nay! Aku males bilangnya!" Adam mengipas-ngipas wajahnya dengan kipas bergambar partai di tangannya.


"Duh mas, tanggung nih! Bilang aja aku lagi sibuk!" Nayla masih memoleskan blush on ke pipi muse tersebut.


"Itu mantan kamu ada di depan, Nay! Mantan kamu yang dulu nikah itu lho, yang akadnya nyebutin nama kamu sampai dua kali. Siapa sih namanya?" Adam tampak mengingat-ngingat.


Degg....


Seketika tangan Nayla langsung terhenti. Gadis itu langsung menoleh ke arah rekan kerjanya.


"Reyhan?" Nayla memastikan sembari menatap wajah Adam.


"Iya itu. Lagian dia mau ngapain sih Nay cari cari kamu lagi? Nanti kamu disebut pelakor lagi deh sama istrinya yang tidak dicintai itu?" Adam menggerutu.


"Aku juga gak tahu mas dia mau ngapain. Aku rasa aku udah ga punya urusan lagi sama dia!" Nayla menyimpan blush yang dia pegang.


"Duh Nay mantan kamu itu cari perkara deh. Yang di ganggu sama istrinya nanti kamu lagi. Nyatanya Reyhan baik itu cuma ada di lagu deh Nay," Adam menghela nafasnya.


"Ada di lagu gimana, Mas?" Nayla mengernyitkan alisnya.


"Itu yang lagu apalagi Reyhan baik!" Adam menyanyikan lagu yang akhir-akhir ini sedang viral.


"Nyatanya Reyhan meresahkan ya, Nay? Dia terus aja bikin rugi idup kamu!" Seloroh Adam dengan suara ala-ala julidnya.


"Ya cuma Reyhan yang ini, Mas. Yang lain mah gak meresahkan," Nayla tertawa melihat wajah sewot Adam.


"Ya, yang baik cuma Pak Aditya kan Nay?" Goda Adam yang langsung membuat wajah Nayla memerah seketika.


"Apa sih, Mas?" Nayla berkata dengan gugup.


"Dih langsung malu-malu kucing gitu. Aku cuma nyebut nama Pak Aditya doang. Hah, kamu emang lagi kasmaran ya sama Pak Adit? Kalian kaya centong nasi sama nasi yang ga biaa dipisah. Akhir akhir ini berdua terus. Aku yakin deh pak Adit tuh suka sama kamu Nay! Kamu juga suka dia kan, Nay?" Adam terus bicara sampai lupa dengan Reyhan yang menunggu mereka di luar galeri.


"Aku temuin Reyhan dulu deh Mas. Takut dia bikin masalah," Nayla menghindari pertanyaan Adam.

__ADS_1


"Oh iya, aku sampai lupa kalau tuh bocah masih ada!" Adam memegangi keningnya. Nayla hanya tertawa kemudian segera beranjak keluar untuk bertanya ada keperluan apa Reyhan datang ke galeri tempatnya bekerja.


"Nay?" Reyhan terlihat sumringah ketika melihat Nayla keluar menemuinya.


"Ada apa lagi sih, Rey? Kamu pengen bikin keluarga kamu dateng ke sini beramai-ramai terus ngeroyok aku?" Nayla menyilangkan tangannya di dada.


"Nay, aku-"


"Rey, tolong jangan ganggu hidup aku lagi! Kamu gak puas liat aku dipermaluikan, di injak harga dirinya sama keluarga kamu?" Nayla berkata dengan tegas.


"Nay, aku ke sini cuma mau ngambil uang aku. Kamu inget kan? Aku mau uang itu balik lagi hari ini apapun caranya!" Reyhan tersenyum sinis. Apalagi saat melihat raut wajah Nayla yang berubah. Kini wajah cantik itu tampak pias.


"Rey, aku gak punya uang sebanyak itu sekarang. Tolong kasih aku waktu buat balikin nya!" Nayla meminta keringanan.


"Aku kasih dua pilihan. Kamu bayar uang aku sekarang atau kamu jadi pacar aku lagi!"


"Rey, kamu gila! Otak kamu udah terkontaminasi sama racun?" Nayla memelototkan matanya.


"Nay, aku gak bakalan menjadikan kamu pelakor. Kalau kamu bersedia balik lagi sama aku, aku bakal ceraikan Luna detik ini juga. Aku bakal talak tiga dia. Kita bisa bersama dan bahagia lagi kaya dulu. Please!" Reyhan memohon. Nayla seakan tidak melihat diri Reyhan yang dulu di diri Reyhan saat ini.


"Rey, semakin kamu neken aku kaya gini, semakin aku muak sama kamu!" Nayla menggelengkan kepalanya. Merasa tidak percaya dengan apa yang Reyhan katakan.


"Berapa hutang Nayla sama kamu?" Tanya Aditya yang tiba-tiba keluar dari galeri. Aditya memang sedang ada di dalam ruangan Nia. Ia keluar ketika Adam memberitahu jika Reyhan datang ke galeri.


Nayla dan Reyhan pun menoleh ke arah Aditya. Adit memandang Reyhan dengan tajam. Seakan siap untuk menerkam Reyhan.


"Jangan ikut campur!" Reyhan menautkan alisnya.


"Jangan ikut campur? Nayla ini adalah pacar saya!" Aditya merangkul bahu Nayla.


"Berapa hutang dia? Saya akan bayar sekarang," tanya Aditya kepada Reyhan.


"Dit, jangan lakuin ini! Biar aku yang bayar hutang aku ke orang ini!" Nayla seakan sudah tidak sudi menyebut nama pria yang pernah menghiasi hatinya itu.


"Nayla yang pake uang itu. Dia juga yang harus membayarnya!" Reyhan terus menekan.


"Dasar orang picik!" Aditya tertawa.


Reyhan mengepalkan tangannya. Bersiap untuk memukul Aditya.

__ADS_1


"Jangan buat keributan di sini atau aku hubungi polisi!" Nayla seakan tahu apa yang akan Reyhan lakukan.


"Saya hanya ingin Nayla yang mengembalikan uang itu, bukan anda yang mengembalikan!" Reyhan tampak sekuat tenanga meredam emosinya. Ia tidak ingin Nayla semakin membencinya.


"Oke. Nay, kalau gitu aku transfer uang ke kamu ya? Terserah kamu mau pakai untuk apa," Aditya mengambil ponselnya. Ia membuka M-banking dan mentransfer uang ke rekening Nayla dengan jumlah fantastis.


"Dit!" Nayla hendak protes, tapi Aditya menahan Nayla untuk bicara lagi.


"Itu uang sudah jadi milik kamu. Jadi terserah mau kamu pakai untuk apa," Aditya tersenyum penuh kemenangan.


"Makasih, Dit. Aku pakai untuk membayar hutangku saja," Nayla menatap Reyhan. Nayla harus membayarnya dengan uang Adit. Ia tidak ingin Reyhan terus menariknya ke dalam jurang tak berdasar.


Nayla pun segera mentrasfer uang yang diberikan Aditya kepada nomor rekening Reyhan. Tentu saja Nayla tahu nomor rekening Reyhan karena dulu pria itu selalu mengirimkan uang padanya untuk biaya kuliah.


"Aku udah bayar semua hutang aku. Jangan pernah muncul di hadapan aku lagi!" Nayla berkata dengan dingin. Kemudian ia masuk ke dalam galeri meninggalkan Reyhan yang masih terpaku di tempatnya berdiri. Aditya pun ikut masuk menyusul Nayla dan menutup pintu galeri yang terbuat dari kaca dengan keras.


"S*alan!!!!" Maki Reyhan sembari berteriak.


"Dit!???" Nayla langsung mendatangi Aditya. Ia ingin meluruskan perihal uang yang dikirimkan Adit padanya.


"Apa, Nay?" Tanya Aditya dengan dingin seolah tidak ada yang terjadi.


"Aku bakal balikin uang kamu yang dipakai bayar hutang aku tadi," Nayla menatap Adit dengan sungkan.


"Gak usah dibayar, Nay!"


"Tapi, Dit-


"Aku bilang gak usah dibayar. Lupain aja!" Aditya hendak melanjutkan langkahnya.


"Tapi, Dit. Aku gak akan bisa tenang. Aku mohon biarin aku nyicil uang tadi ya?" Nayla memohon.


"Kamu keras kepala ya, Nay? Tapi baiklah. Tolong bayar uang tadi dengan-" Aditya menggantung kata-katanya.


"Dengan? Jangan bilang dengan-" Nayla memelototkan matanya. Hal-hal kotor terlintas di kepalanya. Dengan cepat, Nayla menutupi tubuhnya dengan tangan.


"Kamu pikir apa?" Aditya tertawa.


"Tolong bayar uang tadi dengan kencan romantis. Nanti malam aku jemput jam 8," Aditya berkata sambil berlalu meninggalkan Nayla.

__ADS_1


"Apa katanya? Kencan?" Nayla berbisik dengan keterkejutannya.


__ADS_2