
"Sedang apa kalian mengerubuni kekasihku?" Aditya yang tidak tahu dari mana datangnya tiba-tiba datang bersama dengan ibunya, Nia.
"Kekasih?" Rika, Luna, Reyhan, Winie dan yang lainnya kaget atas kedatangan Aditya.
"Bukannya dia pelayan di cafe itu?" Winie sangat mengenal wajah Aditya.
"Kalian ini kenapa merekam wajah kekasihku?" Tanya Aditya kepada orang-orang yang masih merekam video yang akan mereka viralkan itu.
"Kamu gak apa-apa kan, sayang?" Aditya berdiri di depan Nayla. Ia mengelus wajah Nayla dengan lembut.
Bu Asih dan yang lain tersentak. Akan tetapi, Bu Asih dengan cepat memulihkan keterkejutannya. Ia amat yakin jika ini adalah rencana Nia agar putrinya tidak dipermalukan lebih jauh. Padahal sejatinya Aditya lah yang langsung bertindak demikian untuk melindungi Nayla.
"Aku tidak apa-apa, Dit!" Nayla tersenyum dan menyingkirkan tangan Aditya dari pipinya dengan lembut.
"Selera rendahan!" Winie tertawa.
"Maksudmu apa, Win?" Nayla bertanya dengan tidak suka.
"Ya, mantan pacarmu itu kakak ku yang kaya raya. Eh sekarang dapetnya cuma pelayan cafe. Haha!" Winie semakin kurang ajar.
"Memangnya ada apa dengan pelayan cafe? Bukannya itu pekerjaan halal? Bukan merampok atau juga menjual diri?" Aditya tersenyum sinis.
"Win, cukup ya? Jangan buat keributan!" Reyhan yang sedari tadi menahan amarah menatap adik perempuannya dengan penuh emosi.
"Buat keributan gimana? Emang bener pria ini cuma pelayan cafe. Kerjaannya cuma beres-beres dan cuci piring bekas makan pelanggan," Winie tersenyum meremehkan.
Rika yang sedari tadi diam menatap Nia. Nia memanglah teman SMA nya. Rika awalnya bertanya-tanya, mengapa Nia datang dengan pria yang mengaku kekasih Nayla? Rika takut pria itu adalah anak dari Nia. Tapi setelah mendengar perkataan Winie, hati Rika amatlah plong. Ternyata kekasih dari wanita yang ia benci adalah orang miskin.
__ADS_1
"Wah, kasian ya dapetnya gembel!" Rika tertawa merendahkan.
"Pantesan kamu goda suami saya ya? Ternyata pacarnya cuma tukang bersih-bersih dan pelayan!" Luna meledek dengan senyum memuakan.
Orang-orang semakin banyak yang merekam adegan pertengkaran itu. Mereka merasa ada tontonan seru di hari wisuda.
"Permisi? Maksud kalian apa ya hina-hina anak saya?" Nia yang tidak kuat anaknya dihina sedemikian rupa maju beberapa langkah.
"Anakmu?" Rika membulatkan matanya.
"Iya, Rik. Kenalin deh, ini anak saya. Namanya Aditya. Dia ini bukan pelayan ya. Anakku ini pemilik cafe itu. Ya, saking mandirinya anakku, jadi pengen ngelayanin pembelinya," Nia tersenyum miring.
"Oh iya, Rik. Aditya ini yang bikinin aku usaha WO sesukses itu di Bandung. Dia juga punya perusahaan periklanan. Selain perusahaan periklanan, anakku pun mewariskan pabrik pakaian yang di ekspor ke berbagai negara. Pabrik itu pemberian dari ayahnya. Pabrik itu ada di Jl. Moch Toha. Tahu kan ya perusahaan itu yang mana? Satu lagi, dia juga punya saham di perusahaan tempat anakmu bekerja," Nia bukan bermaksud sombong.
Nia hanya gerah saja terhadap seseorang yang merendahkan pekerjaan orang lain. Nia ingin membuka mata Rika dan keluarganya, jika ada yang lebih di atas mereka. Jadi Nia berharap mereka berhenti berada seakan di atas angin dan menghina orang lain.
"Bener itu, Ma?" Winie menyikut pelan ibunya.
"Bener, Win," Rika mengiyakan karena tahu jika suami Nia adalah seorang pengusaha yang sukses. Luna hanya mengepalkan tangannya dengan marah saat mengetahui lagi-lagi Nayla mendapatkan pria kaya raya.
"Bos, ini bunga yang bos inginkan!" Tiga orang datang menghampiri Aditya dengan membawa buket bunga yang sangat besar. Buket bunga itu dibeli oleh Aditya di florist tempat artis biasa memesan bunga.
"Terima kasih, ini tip buat kalian ya?" Aditya merogoh dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan kepada mereka.
"Selalu seneng deh kerja sama Bos. Gak pernah perhitungan sama uang," cicit mereka. Kemudian mereka berpamitan dan pergi meninggalkan area yang masih memiliki atmosfer tegang itu.
"Bunga ini aku berikan untuk kekasihku yang mempunyai hati sebersih mawar putih," Aditya memberikan buket bunga yang besar itu kepada Nayla.
__ADS_1
"Makasih, Sayang," Nayla tersenyum. Aditya pun salah tingkah saat Nayla memanggilnya sayang.
"Jadi, bener Nay dia kekasihmu?" Reyhan bertanya dengan sedih.
"Ngapain sih Rey kamu nanya kaya gitu?" Luna berkata dengan kesal.
"Iya. Dia kekasihku. Pria ini tidak akan pernah meninggalkan aku sama seperti kamu dulu yang ninggalin aku. Dan dengan kejamnya kamu menikahi sahabat aku sendiri, Rey," Nayla berkata dengan tatapan tajam. Ia harus bangkit untuk melawan orang-orang yang sudah menindasnya.
"Kalian semua?" Nayla menatap orang-orang yang berkerumun dan memvideo dirinya.
"Dengar ya? Saya bukan seorang pelakor. Jangan panggil saya seorang pelakor! Asal kalian tahu, wanita ini yang berkhianat dan merebut kekasih saya!"Nayla menunjuk Luna.
"Wanita ini dijodohkan dengan kekasih saya, tapi saat itu dia tidak pernah mengaku siapa yang dijodohkan dengan dirinya. Padahal wanita ini tahu jika pria yang dijodohkan dengannya adalah kekasih sahabatnya. Tapi dengan mudah dia menerima perjodohan itu dan tidak pernah berusaha untuk menolak. Dan hari ini dia berusaha menjatuhkan saya dengan mengirim bunga seperti itu. Hey, kok anda playing victim? Selama ini saya yang terzolimi di sini. Sekarang anda sudah menikahi pria ini, tapi kok masih ganggu saya? Apa anda tidak percaya diri dan terus menyerang saya dengan sebutan pelakor? Saya sudah punya kekasih setampan, sebaik dan sesukses ini!" Nayla menggandeng tangan Aditya.
"Jadi, untuk apa masih mengharapkan suami anda yang sudah memiliki istri? Jangan mimpi, ah! Saya orang berpendidikan dan tidak mungkin mempertaruhkan semuanya dengan mengejar pria beristri. Ada jutaan pria lain di luar sana yang lebih baik dari suami anda dan yang terbaik menurut saya adalah Aditya. Pria yang dihina oleh adik ipar anda sebagai pelayan cafe. Padahal sejatinya dia hanya ingin langsung berinteraksi dengan pembeli," Nayla terus mempermalukan Luna dan keluarganya. Nayla bertekad tidak akan diam lagi jika ditindas keluarga Reyhan.
"Kurang ajar kamu ya?" Luna menunjuk Nayla.
"Jaga mulut kamu ya wanita miskin!" Rika memaki Nayla. Sementara Reyhan hanya diam karena hatinya amat sakit dengan apa yang Nayla katakan.
"Kalian dengar sendiri kan? Keluarga ini adalah keluarga yang gila akan harta dan hormat. Mereka hanya menilai dari berapa jumlah kekayaan yang orang lain punya. Walaupun kekasih saya dari keluarga sederhana, tapi kekasih saya memiliki hati yang bersih. Dia mengizinkan sahabatnya untuk menikahi kekasihnya sendiri. Kalian bisa bayangkan bagaimana luasnya hati wanita ini," Aditya menatap Nayla dengan senyuman lembut. Tangannya pun membenarkan topi toga Nayla yang sedikit miring. Membuat orang-orang terbawa perasaan melihatnya. Tak lupa, membuat hati Reyhan semakin pedih.
"Wuuuu!" Orang-orang mulai menyuraki Rika dan keluarganya. Sementara Reyhan segera pergi dari sana. Ia tak sanggup lagi melihat kemesraan Nayla dan juga Aditya. Reyhan pun tak sanggup lagi melihat kelakuan keluarganya yang sangat tidak bermoral. Bagaimana tidak bermoral, mereka berusaha untuk mempermalukan Nayla di hari wisudanya.
"Sebaiknya kalian pergi dari sini!" Bu Asih memelototkan matanya.
Mereka pun kemudian meninggalkan Nayla dan keluarganya dengan perasaan dongkol.
__ADS_1