
Semua orang yang ada di galeri sedang bergosip mengenai Nayla. Gosip mengenai Nayla, Reyhan dan Luna memang viral di media sosial, akibat ada tamu undangan yang menyerahkan video dan foto mereka ke sebuah akun gosip. Akun gosip itu memang gemar membagikan mengenai topik seseorang yang ditinggal menikah.
"Kasian Nayla. Dia gadis yang baik!" Salah seorang teman bekerja Nayla merasa iba akan nasib sahabatnya itu.
"Iya, benar. Aku saksinya. Aku kan jadi asisten Nayla pas ngerias pengantin. Tahu gak kalian? Si pengantin pria pas akad terus-terusan nyebut nama Nayla. Akad berhasil gara-gara ijab kabulnya ditulis di kertas," cerocos Adam yang menyaksikan langsung akad pernikahan Reyhan dan Luna.
"Kalau aku jadi manten perempuannya, mending aku batalin aja. Males banget nikah sama cowok yang masih ngarepin mantannya," Ayu yang juga jadi asisten Nayla pun menimpali.
"Ya gak bisa gitu sih. Secara kan mantan si Nayla dijodohin," Adam membuka kipasnya.
Tanpa mereka sadari, sedari tadi Aditya yang diam di pintu galeri mendengarkan obrolan mereka.
"Eh Pak Adit!" Adam berdiri ketika menyadari kedatangan bosnya itu.
"Kalian ya ngegosip terus!" Gerutu Aditya sambil masuk ke dalam galeri.
"Bukan bergosip, Pak. Tapi ini real bin nyata. Si Nayla lagi viral di medsos tuh, Pak!" Ucap Ayu kepada Aditya.
"Viral?" Aditya tampak bingung.
Adam pun mendekati Aditya dan memperlihatkan video ketika Reyhan menarik narik tangan Nayla ketika acara pernikahannya. Aditya pun menonton video itu dengan seksama.
"Jangan campuri urusan orang lain!" Itulah kata yang terlontar dari mulut Aditya. Aditya memang bukan tipe orang yang suka mengurusi urusan orang lain.
"Ya sudah, kembali lagi bekerja!" Suruh Aditya, kemudian ia masuk ke dalam ruangan milik ibunya.
"Sayang, kok gak kasih tahu mama kalau mau ke sini?" Tegur Nia saat melihat putranya.
__ADS_1
"Ponsel mama susah dihubungin," kilah Aditya.
"Ponsel mama lagi dicharger."
"Ma, mama tahu pegawai kita viral di medsos? Apa itu tidak mempengaruhi citra perusahaan Wedding Organizer kita, Ma? Khususnya dibagian MUA? Karena setahu Adit, perempuan itu di sana jadi MUA kan?" Aditya mengeluarkan uneg-unegnya.
"Tentu saja itu bagus, sayang. Dengan viralnya berita itu, banyak yang simpati ke Nayla dan cari tahu mengenai WO kita," tangkas Nia.
"Mama tidak boleh manfaatin gadis itu. Itu tidak baik!" Aditya mengingatkan.
"Maaf, sayang! Bukan maksud mama seperti itu. Tapi kita bisa apa? Toh video itu sudah banyak tersebar. Masyarakat menilai Nayla sebagai korban dan bersimpati padanya. Jadi, kamu tidak perlu khawatir! Tidak akan ada dampak buruk kepada perusahaan kita. Justru banyak yang mencari tahu di mana Nayla ini bekerja," jelas Nia. Aditya pun hanya mengangguk setelah mendengar penjelasan dari ibunya.
"Tapi kok Aditya tidak melihat gadis itu hari ini, Ma?" Aditya tampak ingin tahu.
"Mama kasih dia libur hari ini setelah melihat video Nayla tersebar. Mama rasa Nayla butuh healing dulu untuk mentalnya," beri tahu Nia.
"Apalagi yang mama baca, Nayla sudah berpacaran dengan pemuda itu selama 5 tahun."
"Jadi, tempo hari gadis itu menangis di jalanan gara-gara kekasihnya nikah sama perempuan lain?" Batin Adit.
"Nayla gadis yang baik. Mama harap dia mendapatkan pemuda yang jauh lebih baik dari pada anaknya si Rika itu."
"Rika?" Sebut Reyhan dengan bingung.
"Jadi, mantan pacar si Nay itu anaknya teman mama saat SMA."
"Apa sebelumnya mama tidak tahu tentang hal ini, Ma? Kasihan juga sih gadis itu, harus jadi MUA dinikahan mantannya," Aditya merasa iba.
__ADS_1
"Mama tidak tahu, sayang. Mama juga tidak akan menyuruh Nayla menghandle nikahan itu kalau dari awal mama tahu itu nikahan mantannya Nayla," Nia menyiratkan penyesalan.
"Ya sudahlah, Ma. Mama juga kan tidak tahu. Mama gak ada maksud nyakitin gadis itu," Reyhan mencoba menghibur ibunya.
"Oh iya, Dit. Weekend kamu ikut camping ya? Mama kan ulang tahun. Mama ingin merayakannya dengan camping bareng karyawan-karyawan kita di Rancaupas," Nia memberitahukan rencananya.
"Mama yakin kuat camping?" Aditya tampak ragu.
"Sayang, kita cuma camping di Bandung, bukan di salju," Nia tertawa.
"Rancaupas juga dingin banget kali, Ma. Adit malah gak tahan sama dinginnya."
"Kali-kali kamu camping sama Mama, Dit!" Gerutu Nia dengan sewot.
"Baiklah, Ma. Gadis itu ikut kan?"
"Sepertinya putra mama tertarik dengan gadis yang bernama Nayla," goda Nia.
"Bukan, Ma. Adit hanya kasihan. Adit pikir gadis itu perlu liburan," Aditya membantah.
"Benar?" Nia tersenyum.
"Iya lah, Ma. Lagi pula gadis itu bukan tipe Adit."
"Sudah saatnya sayang kamu mencoba membuka hati untuk wanita lain. Lupakan mantan kekasihmu!"
"Sudahlah, Ma. Adit ke toilet dulu!" Aditya mengalihkan. Ia pun masuk ke dalam toilet yang ada di dalam ruangan ibunya.
__ADS_1
"Anak itu selalu saja mengalihkan topik," Nia berdecak pelan.