Jangan Panggil Aku Pelakor!

Jangan Panggil Aku Pelakor!
Pekerjaan Baru


__ADS_3

Nayla duduk termenung di sebuah kursi yang berada di taman yang khusus diperuntukan untuk orang orang yang belum mempunyai pasangan. Ya, Taman Jomblo namanya. Nayla masih sangat syok mendengar penuturan Reyhan yang meminta uangnya dikembalikan. Harus bagaimana lagi mencari uang tambahan, sementara biaya yang dikeluarkan Reyhan untuk kuliahnya sangatlah besar?


Bayangkan, untuk uang semester saja sudah sebelas juta. Sedangkan Reyhan membayar uang semester Nayla selama enam kali. Sisanya Nayla mendapatkan beasiswa dari kampus. Nayla menghirup udara yang terasa menyesakan dadanya. Pria yang dikiranya tulus, kini menagih uangnya kembali.


Nayla membuka HP nya, ia membuka fitur fitur Instagram dan mencari lowongan pekerjaan dari sana. Tapi apakah bisa jika Nayla bekerja di dua tempat? Sedangkan, di tempat ibu Aditya saja sudah cukup menyita banyak waktu.


"Hai, gadis hujan!" Suara pria mengagetkan dirinya yang tengah melamun.


"Adit, kau mengagetkanku" Nayla memegang dadanya.


" Jangan melamun sore hari begini! Mana mendung lagi! Nanti kesambet setan baru tau rasa," Aditya tertawa memamerkan giginya yang rapi dan bersih.


"Kamu kok bisa ke sini?" Tanya Nayla yang mengalihkan pembicaraan.


"Aku baru pulang dari kantor dan lewat ke taman ini, terus liat kamu ngelamun," tutur Aditya yang sudah tidak menggunakan bahasa formal, pasalnya kini hubungan Nayla dan Adit makin dekat.


"Ya udah yuk? Aku anterin kamu pulang," ajak Aditya seraya membukakan pintu mobilnya.


Nayla mengangguk, ia lalu masuk ke mobil lelaki jangkung itu. Hening di dalam mobil, tidak ada yang memulai pembicaraan. Aditya fokus menyetir, sedangkan Nayla larut dalam pikirannya. Bagaimana caranya ia mengembalikan uang Reyhan?


"Dit, boleh nyalakan musik?" Tanya Nayla seraya menatap Aditya.


"Boleh."


"Lagunya dari ponselku ya, Dit?"

__ADS_1


"Iya."


Nayla segera memutar musik kesukaannya.


Kukira kita kan bersama


Begitu banyak yang sama


Latarmu dan latarku


Kukira takkan ada kendala


Kukira ini kan mudah


Kau aku jadi kita.


"Jangan terlalu dipikirin, Nay! Nanti kamu stres!" Aditya membuyarkan lamunan Nayla.


"Aku lagi mikir, Dit. Dari mana ya aku dapat uang tambahan?"


"Uang? Buat apa, Nay?" Aditya mengernyitkan dahinya bingung.


"Buat keperluan sehari-hari, Dit. Kerja di WO belum cukup bayar hutang-hutang aku. Kayanya aku harus nyari kerja part time," keluh Nayla dan mulai menceritakan masalahnya pada Aditya.


"Kebetulan aku lagi buka outlet kafe kecil-kecilan, Nay. Kaya kafe kekinian. Lebih fokus ke makanan pedas gitu. Kalau kamu mau, kamu bisa kerja sama aku. Jam kerjanya jam 5 aja sampai jam 9," Aditya mulai menawarkan pekerjaan pada Nayla. Pas sekali, Aditya memang akan mencoba peruntungannya di dunia bisnis kuliner.

__ADS_1


"Yang bener, Dit? Kalau gitu, aku mau," Nayla menganggukkan kepalanya cepat, matanya berbinar-binar karena saking senangnya.


"Ya udah, senin kamu udah bisa mulai kerja."


"Oke, makasih ya, Dit?"


Nayla tersenyum hangat ke arah Aditya, membuat dadanya berdegup kencang. Yang jelas, Aditya hanya selalu ingin gadis rambut panjang itu selalu tersenyum.


 ***


Setelah pulang bekerja dari WO mamanya Aditya, Nayla bersiap-siap untuk berangkat ke kafe Aditya. Hari ini adalah hari pertama Nayla masuk kerja di kafe milik anak bosnya itu. Beruntung kuliah Nayla telah selesai dan tinggal menunggu wisuda. Sehingga waktu sore sampai malam bisa ia gunakan untuk bekerja di kafe Aditya.


Nayla memperhatikan menu-menu yang ada di kafe Aditya. Ada seblak, ayam geprek, basreng kekinian. Juga minuman kekinian seperti Boba, jus buah-buahan, kopi, dll. Nayla menatap belanjaan Aditya, beruntung ia pintar masak. Sehingga pekerjaan itu tidaklah sulit baginya.


"Nay, kamu kupasin bawang dan sayuran ya?" Perintah Aditya, pria itu kini telah memakai celemek miliknya.


"Oke, Dit. Ngomong-ngomong kok cuma ada kita berdua aja, Diit? Apa gak ada karyawan lain?" Nayla merasa bingung karena hanya ada dirinya dan Aditya yang akan menghandle dapur dan menjadi waiters.


"Baru kamu aja, Nay. Aku belum Nemu yang cocok, masih tahap seleksi," Aditya mulai menggoreng ayam untuk dijadikan ayam geprek.


Sementara Nayla membuat bumbu dan sambal yang sangat pedas untuk menu ayam kekinian itu. Setelah selesai memasak, mereka segera merapihkan meja-meja dan kursi pengunjung.


"Kok belum ada yang datang ya, Dit?" Keluh Nayla seraya mengusap keringat di dahinya.


"Ya belum lah, Nay. Kamu aja belum balik papan opennya kok!" Aditya tertawa renyah.

__ADS_1


Nayla menggaruk rambutnya yang tidak gatal, dengan kikuk ia segera membalikan papan close menjadi open. Tak lama banyak pengunjung yang berdatangan silih berganti.


__ADS_2