
Setelah Haris si Ketua Divisi Produksi pergi, Deris mengayunkan kakinya akan mendekati Dara. Namun, suara seseorang menghentikan langkahnya.
"Dara, apa Haris kurang ajar padamu?" cemas Tommy setengah berlari menghampiri Dara, lelaki mapan dan lanjang itu sudah merasakan gelagat buruk Haris.
"Hanya sedikit, tadinya aku masih ingin menghargai dia karena Pak Tommy. Maaf aku nggak bisa menahan diri tadi dan memberi pelajaran padanya." Dara nyengir.
"Kamu tuh, lain kali minta bantuan juga nggak apa-apa. Jangan mentang-mentang kamu kuat, terus melakukan hal seperti ini. Gimana kalau yang ganggu kamu itu gangster?" ujar Tommy penuh perhatian.
"Hehe, aku mau ke toilet. Pak Tommy silahkan pergi lebih dulu ke meja," sahut Dara.
"Dara, nanti pulang aku antar ya. Ada yang pengen aku omongin serius sama kamu," ujar Tommy dengan suara tegas.
Dara sepertinya mengerti apa yang ingin dibicarakan lelaki yang menjadi Bos di divisi-nya itu, ingin menolak tapi tak enak hati. Akhirnya Dara mengangguk, "Oke."
__ADS_1
Bibir Tommy tersenyum, "Aku pergi lebih dulu ke meja, kalau ada yang menganggu mu jangan lawan sendiri. Oke?"
Dara hanya tersenyum, baginya keahlian dalam bertarung masih cukup untuk melindungi dirinya sendiri dia tidak memerlukan bantuan siapapun.
Tommy pergi dari sana, rasa cemburu menyeruak dalam hati Deris. "Heh, Deris! Lo siapa nya Dara! Kenapa harus cemburu?!" gerutu Deris pada dirinya sendiri.
Deris berbalik pergi ingin kembali ke meja nya, tapi karena ingin kejelasan dari Dara ia akhirnya berbalik lagi untuk menyusul Dara ke toilet.
Deris menunggu di lorong antara toilet wanita dan toilet laki-laki, dia bersedekap bersikap santai padahal jantung nya berdegup kencang tangan nya berkeringat rasa tidak percaya diri menyerang nya. Ya! Dia hanya berpura - pura baik - baik saja.
Dara tertegun tak menyangka Deris akan menghampiri dan meminta bicara. "Bicara apa? Jika tetang pekerjaan, kita bisa bicara bersama staf lain atau Pak Tommy."
"Bukan, aku ingin menanyakan sesuatu hal pribadi. Aku minta waktu sebentar saja," Deris tetap mendesak Dara.
__ADS_1
Dara menghela nafas, "Disini banyak teman-teman sekantorku, juga Pak Tommy. Aku tidak ingin digosipkan denganmu, Der--"
"Sebentar saja, ikut aku." Deris tak menerima penolakan, dia menarik lengan Dara menuju ke luar club berputar tanpa melewati ruangan VVIP yang dipesan Tommy untuk party.
Diluar Deris membuka pintu mobil, "Masuk. Kita bicara di tempat lain."
"Enggak, kalau mau bicara disini aja" tolak Dara.
Deris menghembuskan nafas pelan, "Baiklah... aku nggak bawa kamu kemana - mana, cuma bicara di dalam mobil."
Dara akhirnya mengalah, masuk ke dalam mobil duduk di kursi penumpang di bagian depan. Deris ikut masuk duduk di kursi pengemudi depan setir.
"Aku dengar kamu adalah janda, kenapa berbohong padaku kalau kamu menikah dengan Alan?"
__ADS_1
"Aku nggak bohong, Der. Kamu bertanya apa aku menikah dengan Alan, aku jawab iya. Tapi aku nggak perlu bilang kalau aku sudah bercerai dengan Alan, bukan?" Dara mengangkat sebelah alisnya.
"Lagipula, kenapa kamu menanyaiku seperti ini? Kita nggak punya hubungan apapun. Aku rasa kamu nggak berhak tau kehidupan pribadiku, Der. Kita sudah mempunyai kehidupan masing - masing, kamu dengan kekasihmu dan aku dengan anakku dari Alan. Mau aku janda atau menikah, kita nggak akan pernah ada hubungan apapun lagi. Aku pergi..." Dara sudah mengatakan kebohongan dengan mulus, dia benar - benar tak ingin ada hubungan apapun lagi dengan Deris ingin menjauh dari keluarga mantan kekasihnya itu.