
Di kediaman keluarga Sagantara, Abel terus menangis sepanjang malam ingin bertemu Dara. Gadis kecil itu tertidur saat lewat tengah malam, itu pun karena kecapean menangis.
Darwin memeluk putri yang baru ia ketahui ada di dunia itu dengan erat. Wajah tertidur putrinya bahkan lebih mirip dengan Dira, ia tak mengira teman Dira berbohong padanya jika anaknya dan Dira telah meninggal saat Dira melahirkan.
"Papa nggak tau kamu ada, Nak. Maafkan Papa bersikap egois pada Bibi-mu, tapi dia yang egois lebih dulu. Selama lima tahun ini hati Papa sakit karena merindukan Mama mu, sekarang ada kamu hati Papa kembali hidup. Papa nggak akan pernah melepaskan kamu pada siapapun!"
Mawar berdiri bersandar di ambang pintu, dia sudah bersandiwara dengan baik tadi. Ia terus menangis memeluk Abel seperti sangat menginginkan anak itu, nyatanya ia hanya ingin memanfaatkan anak itu. Sudah lima tahun suaminya bahkan tak pernah menyentuh nya lagi, seolah Darwin ji jik saat memandang nya.
"Mas, apa Abel belum bangun? Aku bawakan baju baru, tas baru dan juga su su." Mawar berwajah ceria, begitu terlihat seperti Ibu sambung yang penuh perhatian.
"Maaf, kamu harus menerima anakku dari Dira."
__ADS_1
"Mas ini bilang apa, anak kamu adalah anakku juga. Mari rawat dan besarkan Abel sama-sama, aku akan selalu ada untuk kalian berdua." Mawar menaruh semua barang di atas meja, lalu mendekati Darwin yang bangkit dari baringan nya memeluk Abel tidur. Ia mengambil kesempatan langsung memeluk tubuh suaminya. "Mas, berikan aku kesempatan menunjukkan cintaku padamu lagi. Maaf dulu aku selalu marah dan membentak mu membuatmu semakin tak menyukaiku. Kini, ayo kita hidup bahagia dengan anak kita. Ya?"
Darwin bergeming tadinya ingin melepaskan pelukan istrinya tapi saat mendengar Mawar menyebut Abel putri mereka seketika hatinya melembut. Akhirnya ia membiarkan pelukan Mawar yang selalu ia tolak selama lima tahun terakhir itu.
"Ma... ma..." Abel mengucek matanya yang masih lengket, "Mama..." sekali lagi ia memanggil Dara.
"Putri Papa sudah bangun," Darwin melepaskan pelukan Mawar, mengecup pipi Abel.
"Papa udah bilang, dia bukan Mama mu tapi bibi mu. Jangan panggil Paman tapi Papa, mengerti." Darwin sedikit kesal sejak semalam anaknya terus saja mencari Dara.
"Engga mau! Abel mau Mama!" gadis kecil itu meloncat turun dari ranjang besar milik Darwin, berlari keluar namun sayang baru saja sampai dibawah tangga sang Nenek sudah menunggu.
__ADS_1
"Mau kemana cucu Nenek? Ayo mandi dulu baru sarapan bareng, ya?" Nyonya Tiara terus tersenyum, ia akhirnya mempunyai seorang cucu seperti teman Ibu - Ibu arisan nya. Kini dia bisa seperti Ibu yang lain yang membanggakan mempunyai cucu.
"Gak mau! Abel mau Mama! Huwaaaa...." Abel menangis lagi seperti semalam.
Pintu rumah terbuka, Deris dengan wajah lelah karena semalaman tidak tidur di dalam sel namun sengaja datang ke rumah orang tuanya untuk memeriksa keadaan Abel.
"Abel, Om datang."
"Om! Huwaaa.... Mama mana? Abel mau ketemu Mama." Abel berlari langsung memeluk Deris.
Deris memangkunya, ia mengecup wajah sang keponakan. "Abel sabar ya, Mama lagi ada kerjaan ke luar kota. Abel tinggal disini sama Om dulu, ya. Kalau Abel nurut dan jadi anak baik, saat Mama Dara pulang kita nanti pergi ke tempat Abel mau main ski itu loh. Oke?"
__ADS_1
Abel pun berhenti menangis dan mengangguk, tapi sepanjang waktu anak itu tak mau melepaskan pelukan nya dari Deris. Darwin dan Nyonya Tiara mau tak mau akhirnya membiarkan Abel terus menempel pada Deris.