Jangan Rebut Anakku...!!!

Jangan Rebut Anakku...!!!
Bab - 30 Beraninya!


__ADS_3

Siangnya setelah menjemput Abel dari sekolah, Deris membawa anak itu ke Perusahaan miliknya. Setiap staff karyawan yang berpapasan langsung menyapa dan menatap ke arah Abel dengan rasa penasaran. Deris hanya tersenyum sumringah menggandeng tangan kecil Abel di sebelah kanan dan melampirkan tas sekolah Abel di pundak kirinya dengan cuek.


"Om, hati-hati tas Abel jangan sampai rusak. Itu tas kesukaan Abel."


"Siap, Bos kecil-ku."


"Hihi..." Abel memperlihatkan gigi susunya.


"Capek nggak, mau Om gendong?"


"Engga, Abel kuat."


Deris mengelus kepala Abel dengan sayang, langkahnya terhenti ketika membuka pintu kantornya. Di dalam ada sang Mama dan Feli sedang duduk di sofa, ia melototi sekretarisnya yang tidak memberi kabar padanya.


"Kamu dipecat!" bentak Deris marah pada sang Sekertaris.


"Tapi Pak, say--"


"Nggak ada alasan! Kamu sudah tau saya paling tidak suka menerima tamu yang tidak ada janji dengan saya!"


"Tapi mereka keluarga Anda."


"Tidak ada pengecualian!"

__ADS_1


"Maafkan saya, Pak. Tapi saya mempunyai tanggungan keluarga, Pak. Jangan pecat saya," mohon si sekertaris.


"Baik! Kamu masih bisa bekerja tapi ingat kesalahanmu kali ini! Jangan sampai kamu melakukan kesalahan seperti ini lagi!" Deris memeluk Abel yang mencengkram kakinya.


"Baik, Pak. Apa saya harus mengusir Ibu dan kekasih Anda sekarang?" sekertaris itu ketakutan.


"Deris...!!! Kamu keterlaluan! Beraninya ingin mengusir Mama!" sang Mama, Nyonya Tiara maju mendekat ke arah pintu.


Deris menyembunyikan tubuh Abel ke belakang tubuhnya, Abel anak pintar dia pun menurut bersembunyi.


"Kalau ada yang ingin dibicarakan, kita bicara di rumah. Aku banyak urusan," Deris menatap sang Mama dengan datar.


"Bagaimana Mama bisa bicara sama kamu kalau kamu nggak pernah pulang ke rumah dan selalu tinggal di Apartemen mu. Lalu, apa maksud urusan mu adalah anak kecil ini dari janda itu?! Dia wanita yang menyerang mu, kan? Dia seorang wanita janda beranak satu, Deris! Kamu sudah gila!" teriak sang Mama.


Deris berbalik pada Abel, "Sayang, ikut sekertaris Om dulu ya. Nanti Om datang menjemput Abel."


"Kamu, bawa anak ini ke ruangan serba guna. Jangan biarkan siapapun masuk, dan berikan makanan serta minum yang dia mau. Perlakukan dia seperti anakku, mengerti!" ujar Deris dengan tatapan dingin pada sekertaris nya.


"Baik, Pak."


Setelah Abel dibawa pergi, Deris menutup pintu menguncinya dari dalam dan mengantongi kunci itu.


"Oke Mah, sekarang kita bisa bicara," tatapan Deris mengarah ke Feli yang menunduk seperti tak nyaman dengan kemarahan Deris, wanita berusia lebih muda dari Deris itu sepertinya tidak menyangka Deris akan marah - marah jika ia membawa Mama Deris sebagai backingan yang sudah diberitahukan tentang keadaan Dara.

__ADS_1


Deris melangkah dengan perlahan ke arah Feli, sengaja duduk di samping wanita itu. Tubuh Feli gemetar, kedua telapak tangannya berkeringat.


Sang Mama duduk terhalang meja sofa, wajah wanita setengah baya itu mengerikan.


"Jangan temui wanita itu lagi! Mama melarangmu! Lihat Feli, dia wanita cocok untuk kamu jadikan istri tidak seperti wanita janda beranak satu itu!"


"Darimana Mama tau Dara mempunyai anak, apa Mama memeriksanya?"


Gawat! Kalau Mama memeriksa tentang latar belakang Dara sudah bisa dipastikan Mama akan tau siapa Dara sebenarnya dan hubungan Dara dengan kak Dira! Perasaan Deris tak tenang.


"Kalau kamu masih bersama wanita itu, Mama akan memeriksanya! Jangan memancing amarah Mama, Deris!"


"Kalau Mama belum memeriksanya, darimana Mama tau?" tanya Deris kembali, lalu dia menoleh menatap tajam pada Feli yang duduk di sampingnya. "Apa kamu yang memata-matai ku dan Dara, iya?!"


Feli terlonjak kaget dibentak Deris, ia semakin menundukkan kepalanya. "Itu karena aku cemburu, Abang juga memintaku putus. Jadi aku mengikuti mu kemarin, saat pulang aku langsung ke rumah Tante dan memberitahukan semua yang aku tau."


Deris bangkit dari duduknya, berdiri ke arah meja mengambil rokok lalu menyalakannya. Ia sedang emosi dan ingin menenangkan emosinya dengan beberapa hisapan.


Setelah sedikit tenang ia membuang puntung rokok dan mendekati Feli dan Mamanya. "Dengan tegas aku katakan, aku sudah putus denganmu Fel. Jangan keterlaluan dengan terus menempel padaku dan mengganggu aku lagi. Aku masih menghormatimu, jangan sampai aku bertindak atau mengucapkan kata kasar padamu. Mulai sekarang kita tidak ada hubungan apapun lagi, Mama juga sudah dengar. Sekarang kalian pergi dari sini, aku mohon."


Nyonya Tiara melihat mata Deris memerah, sejak kecil Deris memang tak pernah bisa diatur bahkan kini setelah dewasa ia masih kehilangan kendali untuk mengontrol Deris tidak seperti putranya Darwin.


"Ayo pergi, Feli. Kita akan bahas ini dengan suamiku!" Nyonya Tiara berdiri diikuti Feli.

__ADS_1


Deris membuka kunci pintu kantornya lalu keluar lebih dulu berjaga - jaga jika sang Mama dan mantan pacarnya datang menemui Abel yang ada di ruangan lain.


Setelah aman melihat keduanya pergi dari Perusahaan, barulah Deris menjemput Abel dengan berbagai snack untuk dinikmati di kantor Deris.


__ADS_2