Jangan Rebut Anakku...!!!

Jangan Rebut Anakku...!!!
Bab - 24 Kenapa Deris Terdengar Begitu Melindungi nya?


__ADS_3

Feli menenteng sebuah kotak makan, ia pura - pura tersenyum nyatanya jantung nya sedang tidak baik - baik saja. Diluar pintu tadi ia sempat mendengar percakapan Deris dengan pria yang baru keluar.


Siapa Dara? Kenapa Deris terdengar begitu melindungi nya? Aku harus mencari tahu!


"Abang, aku masak makanan kesukaan kamu. Loh, wajah kamu kenapa?" Feli menaruh kotak makan di atas meja begitu saja, berjalan cepat lalu menyentuh pipi Deris yang memerah. "Ada yang pukul kamu? Siapa? Berani - beraninya!" geran Feli.


Deris melepaskan tangan Feli yang berada di wajahnya, "Aku nggak apa - apa. Kebetulan kamu datang, aku mau bicara."


Deris membangunkan dirinya dari kursi kerja berjalan ke sofa lalu duduk disana dengan posisi serius dan wajah dingin membuat Feli bertanya - tanya. Namun, wanita itu segera mengikuti sang kekasih duduk.


"Ada apa, Bang? Kok mukanya serius gitu." Feli menyentuh tangan Deris namun sekali lagi Deris melepasnya.


"Aku mau bicara serius, ini tentang hubungan kita. Aku ingin kita putus, Fel. Maaf, selama ini aku sudah berusaha untuk mencintai kamu tapi aku nggak bisa..." Deris menggeleng dengan wajah menyesal.


"Bang! Apa kamu sadar apa yang kamu katakan?! Kita udah ada niatan serius dan tunangan tahun depan. Kita udah satu tahun pacaran Bang, bahkan bagiku kamu bukan hanya pacarku tapi kamu calon suamiku! Apa - apaan ini Bang! Aku nggak terima!" Feli berdiri dengan marah.


"Fel, aku belum selesai bicara. Duduk," dengan sabar Deris bicara karena dia lah yang bersalah dalam hubungan mereka.

__ADS_1


"Nggak mau! Kita nggak akan pernah putus Bang! Lebih baik aku mati daripada kita berpisah...!!!" Feli mengambil tas tangan nya yang tergeletak di atas sofa dengan cepat pergi keluar sebelum Deris berkata lebih banyak lagi.


"Sial! Padahal aku ingin bicara baik-baik dengan nya!" Deris mengusap wajahnya kasar.


Diluar gedung Perusahan tubuh Feli gemetar hebat, ia tak ingin kehilangan Deris. Hubungan nya dan Deris bukan hanya karena dijodohkan tetapi dia sendiri yang meminta dipasangkan dengan Deris pada kedua orang tuanya. Sejak pertama kali melihat Deris di suatu acara pesta, ia sudah tertarik pada Deris.


"Aku nggak mau pisah sama kamu Bang! Apa ini karena wanita yang kamu panggil Dara itu?! Aku akan cari tau siapa dia!" Feli mengeratkan kedua tangannya.


Di Perusahaan tempat Dara bekerja, wanita itu sedang membereskan meja kerja nya karena sebentar lagi waktu nya pulang. Tiba - tiba ponsel Dara bergetar, nomor Dimas.


Apa sesuatu terjadi pada Abel?


"Santai woi, nggak ada apa-apa sama Abel. Putri cantik gue udah sama bibi sejak siang tadi, kan tadi gue udah chat lo."


"Terus? Lo nelepon kenapa?"


"Si Alan tadi nelepon terus ngajakin hang out ke night club, katanya lagi suntuk. Suara tuh anak juga kayak sedih gitu, lo tau dia kenapa? Apa dia berantem sama pacarnya?"

__ADS_1


"Hm, gara - gara gue sih. Lo sendirian aja temenin dia deh, gue nggak enak ninggalin Abel terus tiap malam buat keluar. Oke?"


"Oke deh, gue tutup!"


Dara menatap layar ponsel lalu menoleh pada Sabrina, sepertinya dia harus memperbaiki hubungan kedua sahabatnya. Dara langsung berdiri, berjalan ke meja Sabrina.


"Na, selesai kerja bicara serius bentar."


"Apaan lagi, Ra? Bukan nya kita udah selesai bicara, ada masalah apa lagi?"


"Ini tentang Alan, mau sampai kapan kamu marah sama dia?"


"Aku nggak marah, cuma lagi nenangin diri dulu aja. Emang kenapa?"


"Alan kayaknya lagi depresi deh, Dimas barusan nelepon katanya Alan ngajak dugem ntar malem. Kata Dimas, Alan kayak lagi sedih gitu."


"Ih! Bikin cemas aja!" gerutu Sabrina.

__ADS_1


Sabrina menggigit bibirnya, ia akhirnya berniat mengalah dan akan menemui Alan untuk memperbaiki hubungan mereka berdua.


__ADS_2