Jangan Rebut Anakku...!!!

Jangan Rebut Anakku...!!!
Bab - 6 Setelah Melahirkan Keadaannya Kritis.


__ADS_3

Masih Flashback....


Lima bulan setelah resmi pacaran dengan Deris, sosok Deris semakin masuk ke dalam hati gadis yang masih berpenampilan tomboi itu. Cinta? Mungkin. Namun, di setiap ada kebahagian selalu disertai kesedihan.


"Beb, ada apa? Sejak kita ketemu, kamu terus ngelamun? Masalah ujian akhir, masih sebulan lagi 'kan?" tanya Deris menggenggam tangan Dara di sebuah kafe.


"Lagi mikirin Kak Dira, nggak pulang-pulang udah 3 bulan. Uang sering ngirim tapi di telepon sering sibuk, di VC kakak nggak mau angkat," Dara mendessah.


Deris mengelus kepala Dara penuh sayang, mengecup pipi gadis itu. "Kalau kamu kesepian, ingat ada aku bersamamu. Jangan lupakan selain kakakmu, aku juga menyayangimu."


Kenapa setiap kata yang keluar dari bibir Deris selalu bisa membuatku terbang, kenapa juga aku takut terjatuh setelah dibawa terbang oleh Deris?


Deris menyentil pelan dahi Dara, "Ngelamun lagi."


"Hehe, ayo pergi." Ajak Dara.


Keduanya keluar dari kafe, berjalan ke tempat parkir motor. Deris sengaja selalu memakai motor jika sedang nge-date bersama Dara, gadis itu ingin pacaran sederhana tanpa embel - embel nama besar dan kekayaan Deris.


Brushhh !!!


Hujan deras tiba - tiba turun, Deris menghentikan motornya di pinggir jalan. Namun sayang, baju mereka berdua sudah kebasahan.


"Aduh! Mana masih jauh ke rumah," celetuk Dara memeluk tubuh menggigilnya.

__ADS_1


Deris ingin membuka jaket namun dilarang Dara. "Percuma, jaket kamu juga basah."


"Mhuee, iya ..." Deris memakai kembali jaketnya.


"Mau ke hotel?" tawar Deris tiba-tiba, omes-nya mulai beraksi.


"Dih, mau ngapain?!" tolak Dara.


"Hasttciwww!!" Deris bersin entah beneran atau bohongan.


"Dingin banget emang?" cemas Dara padahal dia sendiri sudah kedinginan parah.


"Emm, gak apa-apa... aku bisa tahan kok," ujar Deris berbanding terbalik dengan yang ia katakan tubuhnya bergetar hebat.


"Ya udah, cari hotel yang paling deket." Akhirnya Dara mengiyakan.


Tak lama karena umur mereka yang sudah 18 tahun dan mempunyai KTP, mereka bisa mendapatkan satu kamar hotel dekat dari pemberhentian terakhir.


"Aku mandi duluan, ya." Ujar Dara mulai melangkah masuk ke dalam bathroom.


"Dara..." panggil Deris.


Langkah Dara yang ingin masuk ke kamar mandi terhenti, ia membalikkan tubuhnya. "Ada apa?"

__ADS_1


"Mau begituan?" ajak Deris.


Kening Dara mengernyit belum paham. "Begituan?"


"Itu, praktek tentang dua tubuh yang beradu tanpa baju--"


Tangan Dara menutup mulut Deris, "Otak mesum mu itu! Aku mau mandi." Dara berbalik kembali seraya menggeleng.


Dara masuk dengan jantung berdegup kencang, jujur saja darahnya berdesir hebat. Apalagi melihat mata kecewa Deris saat ia menolak nya tadi, ia tak enak hati. Dara baru saja akan berbalik keluar untuk menyetujui keinginan Deris tapi tiba - tiba ponsel di saku celananya bergetar.


"Ya, halo?"


"Apa ini dengan Dara?" tanya seseorang di seberang telepon.


"Ya, siapa ini?" tanya Dara karena tak mengenali nomor si pemanggil.


"Saya teman kakakmu Dira, namaku Septi. Sekarang kakakmu ada di ruang operasi, setelah melahirkan keadaannya kritis."


"Melahirkan? Ka-kakakku? Kritis... tunggu! Apa maksudnya?!"


"Datang saja ke rumah sakit HM, aku akan menunggu diluar rumah sakit. Aku tutup teleponnya."


"Kakak... kakak..." Dara keluar dari kamar mandi tanpa sadar berlari keluar kamar hotel terus berlari sekencangnya sampai naik ke dalam sebuah taxi.

__ADS_1


"Dara...!!!!" teriakan Deris sejak dari dalam kamar hotel tak digubris oleh Dara. "Ada apa ini?" kebingungan menyelimuti Deris.


"Apa Dara tak ingin melakukannya? Dia tinggal bilang padaku, kenapa harus pergi?" Deris menarik rambutnya frustasi merasa bersalah dan memaki dirinya sendiri karena terlalu cepat meminta hal itu pada Dara.


__ADS_2