
Gairah dan hasratt serta kerinduan mendominasi akal sehat, Dara yang sudah terangsang membiarkan tindakan Deris yang menarik pakaiannya bahkan Dara menikmati setiap belaian dan cumbuan Deris di tubuhnya.
"Dara... Dara..."
"Kamu sadar apa yang kamu lakuin..." Dara menahan bibir Deris dari mencumbu tubuh telanjang nya.
Kepala Deris terangkat ia menatap wajah memerah bergairah Dara, "Aku hanya sedikit mabuk, aku juga berpura-pura... aku ikut bersandiwara. Jadi ya sayang... aku sadar melakukan ini padamu. Rocky sudah melepas mu untukku..."
Dara terperangah namun itu tak lama karena Deris menerkam bibir Dara kembali, akhirnya lidah mereka di dalam sana saling membelit menyessap melebur saling mengecap.
"Aku mencintaimu... Dara. Menikahlah denganku..."
"Deris..."
"Ayo menikah disini besok..."
Dara menatap wajah pria yang dicintainya, ia tersenyum lalu mengangguk. "Ya, ayo menikah."
Deris tak menunggu lama ia memposisikan bagian bawah tubuhnya di atas tubuh Dara. "Aku akan pelan, ini pertama kalinya untukmu..."
"Umm... aku milikmu." Dara sudah tak kuasa menahan gairah nya, ia tak ingin Deris melakukan dengan perlahan. Ia terus bergerak liar dibawah kungkungan tubuh Deris membuat lelaki yang ingin berhati-hati itu kewalahan.
"Dara... kalau kamu terus bergerak aku tak yakin bisa pelan--"
__ADS_1
"Jangan berhati-hati! Aku sudah nggak kuat lagi!" Dara kesal lalu mengigit kecil leher Deris membuat lelaki itu berteriak kecil.
"Akhhhh... kamu nakal! Aku nggak akan segan-segan lagi." Deris segera memasukkan miliknya yang sudah siap sejak tadi.
Dara hanya meringis sedikit selebihnya ia segera terlarut dalam permainan bercinta mereka saling membelitkan tubuh dengan keringat yang terus bercucuran.
"Hhhh.... akh... aku menunggu momen ini selama 9 tahun... lama aku menunggu saat ini..." Deris menyessap da da kencang milik Dara. "Akhirnya... ini menjadi milikku..."
Tubuh Dara menggellinjjang hebat dibawah kendali Deris, tubuh yang biasa kuat seketika lunglai saat membaur dengan lelaki itu.
"Deris... aku akhh... ini sangat..." Dara merasakan sesuatu seperti akan menyembur.
"Keluarkan sayang... ya... jangan tahan..." gerakan pingg gul Deris semakin cepat ingin menarik Dara pada kenikmatan.
"Akhhhhh..." Dara menjerit saat ia mencapainya.
Tanpa menunda lagi Deris ingin segera menyusul Dara, ia semakin mempercepat gerakan nya dan akhirnya.....
Tubuh Deris yang terpuaskan ambruk diatas tubuh Dara, masih dengan terengah - engah ia turun dari tubuh Dara lalu menarik tubuh wanita nya ke dalam pelukan. Deris mengecup kening Dara lembut, "Makasih sayang, aku mencintaimu."
Dara hanya tersenyum tiba-tiba ia malas hanya untuk menggerakkan tubuhnya, gelenyar nikmat masih ia rasakan di sekujur tubuhnya. Dara menempelkan tubuh nya semakin masuk ke dalam pelukan Deris lalu memejamkan mata merasa tak ada lagi yang mengusik pikirannya semua terasa begitu indah.
Pagi hari sinar matahari sudah menyusup melalui celah tirai, dua insan yang masih terjerat dalam mimpi indah tak terganggu dengan matahari yang sebentar lagi akan semakin naik diluar sana. Namun, suara deringan ponsel yang keras seketika membangunkan mereka.
__ADS_1
"Kamu bisa tetap berbaring, aku akan memeriksanya." Deris mengecup kening Dara lalu turun dari ranjang dengan tubuh tidak tertutup apapun.
"Kamu sedang memamerkan tubuh mu," Dara tak bisa mengalihkan tatapan nya dari tubuh polos kekar berotot Denis, lelaki yang sudah melamarnya itu seperti sengaja memamerkan.
"Ini terlalu lama untuk kita saling memamerkan tubuh bukan? Haha..."
Deris masuk ke dalam bathroom menarik bathrobe yang tergantung di kamar mandi mengikat tali nya, lalu keluar dan mulai mencari ponsel yang sejak tadi berbunyi di sekitar tumpukan pakaian yang berserakan di lantai.
"Halo?"
"Apa sudah puas? Bisakah Dara kesini, Abel terus menangis mencarinya." Ujar Darwin di ujung sambungan.
"Oke, Dara baru terbangun. Biarkan dia mempersiapkan diri sebentar, kami akan segera datang."
Tutttt.
"Pasti Abel mencari ku kan? Aku akan mandi lebih dulu," Dara melilitkan bed cover yang melingkari tubuh polosnya lalu turun dari ranjang dan sedikit tergesa-gesa berjalan masuk ke bathroom meskipun ada rasa nyeri di pangkal pahanya ia tak merasainya.
"Kenapa kamu nggak minta aku gendong aja sih ke kamar mandi? Aku ingin kamu manja padaku," gerutu Deris dari luar bathroom.
"Terus kenapa kamu nggak menawari?" timpal Dara dari dalam sana.
"Kamu pasti menolak dan bilang kalau kamu itu kuat." Jawab Deris.
__ADS_1
"Haha..." tawa Dara terdengar.