
Diantara kegalauan dan kesedihan Dara dan Deris di dalam sana, Rocky mendengar nya dari balik pintu. Ia menatap semua orang yang sedang menunggu diluar kamar rawat Abel lalu tatapan nya beradu pandang dengan Darwin.
Rocky mendekati Darwin, "Ayo bicara sebentar." Lalu berjalan pergi dari sana.
Darwin tak mengiyakan tetapi dia mengikuti langkah Rocky yang terus berjalan ke arah taman rumah sakit. Ia melihat mantan rivalnya itu duduk di bangku panjang dengan bahu lunglai. "Ada apa?"
"Kamu ingat saat aku mengejar Dira dan kita sering berkelahi, tapi akhirnya yang dipilih Dira adalah kamu." Rocky tersenyum simpul mengingat masa - masa ia mengejar Dira.
"Hm, ingat." Timpal Darwin.
__ADS_1
"Apa kamu tau kenapa aku terus mengejar cintanya?" lanjut Rocky.
"Tidak, Dira nggak pernah cerita."
"Aku berasal dari panti asuhan, saat aku SMP pernah kabur untuk mencari orang tua kandungku. Lucunya aku lupa membawa uang dan berakhir kelaparan di halte bus. Disana lah pertama kali aku bertemu Dira yang memakai pakaian lusuh. Kami memulai perbincangan dan dia mengatakan baru selesai bekerja sebagai pembantu di rumah orang kaya. Waktu itu usianya masih muda sepertiku tapi dia mencari uang untuk keperluan keluarganya karena Ayahnya sering mabuk dan jarang memberi uang hanya untuk sekadar makan dia dan adiknya. Tapi, saat dia tau aku tak membawa uang ia malah menyisihkan uang nya memberikan nya padaku untuk pulang kembali ke Panti. Ia menasehati ku jika orang-orang di Panti akan cemas karena aku menghilang, Dira bilang bagaimana pun mereka lah keluargaku yang menjagaku bukan orang tua yang tega membuang anaknya di Panti."
"Tentang Dara, jujur aku awalnya ingin membalas dendam pada seluruh keluargamu termasuk Deris dengan memanipulasi ingatan - ingatan nya. Tapi... aku tak melakukannya. Aku tak tega dan seiring waktu kami bersama aku mencintai Dara meskipun nama Dira yang terus terucap saat aku memanggil Dara. Apa menurutmu di dalam sini aku sebenarnya masih belum merelakan Dira dan melihat dirinya pada sosok Dara?"
Darwin menghembuskan nafas panjang setelah mendengar penuturan Rocky. "Memang aku yang bersalah, aku menang darimu tapi aku menyia-nyiakan Dira hanya karena aku takut berdiri dengan kakiku sendiri dan takut berakhir melarat jika tidak ada embel-embel nama Ayahku. Aku pengecut, aku penakut. Rocky, selama lima tahun kematian nya bahkan aku ji jik pada diriku sendiri. Aku menyesali setiap langkah yang aku ambil termasuk saat merebut Abel dari Dara. Entah Dara akan mengampuniku atau tidak, tapi setidaknya sekarang aku sudah berusaha menjadi lebih baik. Jadi, mari kita tutup sama-sama cerita kita bersama Dira. Kita tinggal mendoakan jiwa-nya agar tenang disana."
__ADS_1
Rocky tersenyum tipis, "Hidup harus berlanjut, bukan?"
"Ya."
"Aku juga akan menyerah pada Dara, hatinya hanya untuk Deris. Tiga tahun sebagai kekasih bahkan kami hanya berpelukan, tak pernah lebih dari itu. Hubungan kami lebih seperti kakak yang menjaga adiknya," Rocky menggeleng pasrah. "Cinta Dara hanya untuk Deris. Ayo lakukan sesuatu untuk mereka berdua," Rocky mempunyai ide.
Akhirnya sore itu Abel dibawa pulang dengan terus menempel pada Dara, tak ingin berpisah sebentar pun.
Sedangkan Deris pergi ke bar ditemani Dimas, lelaki itu ingin menenggelamkan dirinya pada minuman karena kecewa dengan keputusan Dara yang jelas-jelas ingin meninggalkan nya dan lebih memilih bersama Rocky.
__ADS_1