
Indonesia.
Di sebuah sekolah swasta, beberapa anak berusia 9 tahun berkumpul di ruang BK. Mereka dikumpulkan karena kelas belajar jadi ajang tempat perkelahian, bukan perkelahian antar anak lelaki tetapi anak perempuan dan laki-laki. Siapa lagi kalau bukan Abel, perempuan tomboi seperti Dara.
"Abel, kamu lagi." Seorang Guru memijit kepalanya, jujur jika bukan karena di wanti - wanti oleh Kepsek yang menyuruhnya untuk tak mempermasalahkan kelakuan Abel karena sang kakek adalah calon anggota Dewan ia tak akan menahan kesabaran nya dengan kelakuan nakal Abel.
"Huh!" Abel berwajah masa bodo.
Semakin menyulut amarah sang Guru, namun apa daya ia hanyalah Guru honorer yang hanya bisa banyak bersabar.
Tok.
Tok.
Tok.
"Masuk."
Sekali lagi Guru itu terkejut, setiap sang Guru bernama Inara menelepon Ayah Abel yang datang pasti empat orang pria dewasa.
"Abel, Papa datang." Darwin.
__ADS_1
"Abel, Om datang." Deris.
"Abel, Paman Alan datang."
"Abel, Paman Dimas datang."
Gadis kecil yang sekarang sudah kelas 3 SD itu memutar bola matanya kesal, dibilang tidak usah telepon pihak keluarganya lagi - lagi Guru wanita menyebalkan menelepon mereka.
"Ekhm, saya hanya menelepon Pak Darwin--"
"Kebetulan kami memang satu frekuensi, Bu Inara." Jawab Darwin cepat - cepat, pasalnya setelah ia bercerai 4 tahun lalu dari Mawar karena kejadian yang terjadi pada Dara dan adiknya Deris, beberapa bulan ini hatinya yang dulu mati rasa karena kepergian Dira kini sosok Guru Inara yang adalah wali kelas putri tomboi-nya sudah mengobrak - abrik perasaan Darwin.
"Saya belum selesai bicara, Pak Darwin. Bisa Bapak tidak menyela ucapan saya," tegas Inara tak segan - segan.
Deris, Alan dan Dimas cengengesan melihat tingkah Darwin seperti itu, pasalnya mereka bertiga mengetahui jika Darwin menaruh hati pada sang Wali kelas. Ya... keempat orang itu menjadi sahabat setelah hilangnya Dara, selalu menjaga Abel seolah gadis kecil itu adalah amanah yang harus dijaga.
"Kami akan membawa Abel pulang lebih dulu, Bu Inara. Jika ada yang perlu dibicarakan dan yang lainnya, ada Ayah kandungnya." Deris mendorong tubuh Darwin sedikit keras ke depan, alhasil tubuh kakaknya bersenggolan dengan tubuh Guru Inara.
Wajah Inara memerah, namun wanita yang mendedikasikan dirinya untuk pendidikan itu berjuang menahan diri kembali berwajah tenang.
"Baik kalau begitu. Abel, pulang. Hukuman kamu Ibu akan bicarakan dengan Papa-mu, mengerti." Sekali lagi Inara berwajah tegas.
__ADS_1
Abel berpura - pura tak mendengar, ia memainkan gantungan bola di resleting tas-nya.
"Abel! Jawab Ibu Guru." Darwin sedikit mengeraskan ucapannya.
"Pak Darwin! Saya sudah bilang bicara tegas bukan bicara dengan keras. Apalagi Abel anak perempuan, harus lebih banyak lembut bicara dengan nya." Inara menegur Darwin.
Darwin terhenyak serba salah. Kurang tegas salah, pasti dibilangnya aku terlalu memanjakan Abel. Tapi... bicara keras pun salah! Aku 'kan jadi bingung! Batin Darwin.
Deris yang merasakan gelagat kakaknya yang serba salah, langsung mendekati Abel. "Abel berdiri, ayo beli eskrim untuk mendinginkan pikiranmu."
"Pak Deris. Abel diberikan peringatan bukannya diberikan hadiah dengan diberikan eskrim."
"Ya, ya... baik." Deris cepat - cepat mengangguk lalu menarik tangan Abel keluar diikuti Alan dan Dimas yang menahan tawa.
"Anak - anak kembali ke kelas kalian, nanti orang tua kalian datang dan ibu akan bicara dengan orang tua kalian satu-persatu. Mengerti."
"Iya, Bu." Murid-murid itu pun bubar keluar dari ruang BK.
Kini tinggal Darwin yang salah tingkah menghadapi wanita yang sudah berhasil mencuri hatinya itu.
"Duduk, Pak Darwin."
__ADS_1
Seketika Darwin duduk dengan berwajah paling serius tapi kepalanya menunduk tidak sanggup jika saling bersitatap dengan Inara.