
Dua jam dalam satu ruangan yang mendebarkan untuk Dara dan Deris, akhirnya Tommy selesai dengan penjelasannya.
"Saya pamit pergi, Pak Deris." Tommy berdiri memberi salam.
"Saya akan mempelajari semuanya, nanti saya hubungi untuk kerjasamanya." Deris membalas salaman Tommy.
Dara hanya mengangguk, tak ingin bersalaman. Untung saja Tommy sang Bos tak menanggapi perilaku Dara.
Sepeninggal kedua tamu dari ruang kantornya, Deris menyandarkan kepalanya memijit kepalanya yang tiba - tiba pusing. "Kenapa aku harus dipertemukan kembali dengan Dara? Dia sudah menikah dan hidup bahagia bersama Alan."
Dua minggu kemudian, party untuk merayakan kerja sama dua Perusahaan diadakan di sebuah klub malam. Satu ruangan VVIP dipesan khusus oleh Tommy, beberapa staff darinya juga staff dari Deris datang.
Dara datang memakai dress selutut dengan rambut panjang gelombang terurai menambah gaya feminim nya padahal di dalam tak selembut terlihat diluar. Sifat dan sikap liar Dara sudah beberapa lelaki pernah merasakan, beberapa karena pernah melecehkan nya hanya karena gosip dia adalah seorang janda.
__ADS_1
Seperti hari ini seorang Kepala Divisi Produksi yang tidak percaya dengan sebutan Dara yang adalah janda bar-bar, pria bernama Haris itu menatap Dara dengan tatapan me sum.
Deris memperhatikan seorang pria dengan mata genit menatap pada tubuh Dara di meja Perusahaan Dara bekerja, sedangkan dia duduk di meja nya bersama para staff-nya matanya langsung tertuju pada Dara. Wanita yang dulu tomboi kini menjelma menjadi wanita feminin yang menawan dengan senyuman mempesona yang tak pernah lepas dari bibirnya.
"Apa dia masih merokok seperti dulu?" gumam Deris melihat bibir Dara yang ranum dipoles lipstik.
"Ada apa, Pak?" tanya seorang Staff pada Deris mendengar gumaman sang Bos. "Apa Anda sedang menatap Nona Dara yang terkenal dengan panggilan janda bar-bar?"
Deris tertegun, "Ja-janda?"
"Apa ini valid?" Deris terkejut tapi ada suatu kesenangan yang tak bisa diungkapkan.
"Seratus persen, Valid."
__ADS_1
Tatapan Deris kembali pada sosok Dara yang sedang tertawa bersama teman - teman sekantor wanita itu. Mata Deris menyipit, merasa aneh Dara berbohong padanya tentang statusnya. Ia menunggu kesempatan untuk mendekati Dara tanpa kentara dan ingin memancing.
Tak lama kesempatan itu datang, Dara beranjak dari sofa di meja nya. Namun, salah satu pria yang ada di meja bersama Dara yang sejak awal terus menatap tubuh Dara dengan pandangan kurang ajar mengekor Dara di belakang.
Deris mengepalkan tangan nya, sepertinya pria itu adalah pria o-mes. Dengan cepat ia mengikuti Dara pergi ke arah toilet, tiba - tiba langkah nya terhenti. Di depan nya, pria me sum tadi sedang meringis kesakitan karena Dara memelintir tangan lelaki itu ke belakang punggung.
"Hiyyyy, salah alamat tuh pria. Belum tau dia kejam nya Dara..." Deris bergidik ngeri karena dia sudah merasakan pukulan dan tendangan Dara.
"Ampun..!! Dara! Lepasin aku!" teriak si Kepala Produksi memohon.
"Gue udah biarin kelakuan lo selama ini karena gue masih menghormati Kepala Divisi gue! Kalau sekali lagi lo menatap gue dengan tatapan me sum, jangan salahin gue kalau suatu hari tangan dan kaki lo patah terus gue jadiin buat ngalis kue!"
"Ya! Ya! Sorry Dar! Aku cuma nggak percaya kalau kamu itu janda bar-bar kayak panggilan kamu. Sekarang aku sudah ngerti, aku nggak bakal ganggu kamu lagi. Lepasin..." wajah si Kepala Divisi Produksi sudah memerah menahan kesakitan.
__ADS_1
Dara melepas cekalan nya dari lengan Haris, "Gue lepasin lo kali ini! Nggak ada lain kali!"
Haris mengangguk lalu kabur dengan lari terbirit - birit, ada dendam dalam hatinya.