Jangan Rebut Anakku...!!!

Jangan Rebut Anakku...!!!
Bab - 44 Maafin Mama.


__ADS_3

Mata kebingungan Dara berubah menjadi mata emosi, ia bangun dari baringan nya melihat infus di tangan dengan cepat ia mencabutnya. "Pria Gila!" Plakkk!!!


Wajah Deris yang ditampar menyamping ke sebelah kanan, tangan Deris terangkat ke sebelah pipi kirinya lalu menoleh kembali menatap Dara.


"Ya, aku gila! Aku bilang aku jatuh cintamu padamu! Aku gila karena cinta!" Deris tak mau berhenti ingin terus mengingatkan kenangan - kenangan mereka berdua dulu.


Dara tak mau mendengar lagi, ia turun dari ranjang dengan tubuh sedikit bertenaga dengan secepat kilat berlari keluar dari kamar rawat. Keempat lelaki itu bergegas mengejar.


"Dara! Mau kemana kamu!" teriak Deris mengejar dari belakang.


"Pergi lelaki gila!" Dara berlari tanpa alas kaki, mencari pintu keluar rumah sakit. Setelah berhasil ia menyetop taksi dan menyebut alamat hotel.


Saat sampai di hotel, Sabrina mencegat Dara. Wanita sahabat nya itu sudah ditelepon Alan untuk menahan Dara jika Dara datang ke hotel.


"Ra! Kamu beneran nggak kenal aku?"


"Nggak, sorry lepasin tangan aku."


"Ra... kamu nggak mau ketemu Abel, ketemu anak aku sama Alan. Aku sama Alan udah nikah dan punya anak cowok, kamu nggak mau temuin mereka." Semampu Sabrina menahan.

__ADS_1


Degh!


Jantung Dara berdenyut sakti. "Lepasin!" cekalan Sabrina terlepas, Dara berlari masuk ke dalam lift ingin segera menemui Rocky.


Lift terbuka, Dara berlari ke kamar Rocky.


Dugh!


Dugh!


"Rocky! Buka!"


Pintu terbuka, Dara menyerbu masuk memeluk Rocky dengan erat. "Aku nggak mau ikut mereka, mereka jahat! Mereka memaksaku!"


"Ada apa? Mereka siapa?"


"Ayo pulang ke Vietnam, aku mau pergi malam ini juga!" pelukan Dara semakin erat seperti anak kecil yang sedang ketakutan.


"Oke! Oke! Tenanglah, duduk. Aku ambil minum dulu," Rocky belum mengerti apa yang terjadi pada Dara.

__ADS_1


"Aku lupa belum bayar taksi dibawah," lirih Dara.


"Taksi? Kamu baru datang dari mana? Kenapa pergi dari hotel tanpa memberitahu, kamu tau aku akan mati jika terjadi apapun padamu." Kini Rocky yang memeluk erat tubuh Dara.


Dara menghela nafas pelan, ia tau perasaan Rocky padanya benar - benar tulus. Sebenarnya ingatan nya sudah kembali sebelum pingsan, saat membuka mata di rumah sakit ingin memeluk Deris karena sangat merindukan lelaki itu namun balas budinya pada Rocky yang sudah merawat dan mencintainya membuatnya secepatnya kabur agar hatinya tak tersentuh oleh cinta yang ditunjukkan Deris padanya.


"Ayo segera pulang, malam ini." Dara membuat keputusan, ia bukannya tidak merindukan semua orang apalagi Abel tapi jika dia kembali bagaimana dengan perasaan Rocky.


Abel! Mama kangen! Maafkan Mama tak bisa kembali! Mama yakin kamu sudah bahagia dengan semua orang.


"Aku bayar dulu taksinya, jangan buka kunci pintu saat aku pergi." Rocky mengambil jaket lalu mengambil dompet dari atas nakas, sebelum keluar menoleh sebentar pada Dara dan menutup pintu.


Setelah pintu tertutup, Dara seketika menangis menangkup wajahnya dengan kedua tangan. "Maafin Mama, Abel. Maafin aku Deris... aku berhutang banyak pada pria ini. Aku... nggak bisa ninggalin Rocky. Aku tau dulu Rocky sangat mencintai kak Dira dan terluka oleh kakak. Aku nggak sanggup melukai pria baik seperti Rocky, aghttt! Sakit!" Dara memukul dadanya dengan keras berpikir itu bisa meredakan rasa sakitnya.


Sebelum Rocky kembali ke kamar, dia bertemu Deris di lobby. Melihat mereka baru datang dari luar sepertinya sesuatu memang terjadi pada Dara "Aku akan bertanya apa yang terjadi pada Dara langsung! Kalian sendiri yang memulai! Dara datang padaku dengan ketakutan dan menangis! Jika ada apa - apa padanya, itu semua salah kalian!"


Rocky kembali menuju kamarnya membuka kunci kamar dari luar lalu masuk, ia melihat Dara sudah tertidur di sofa kamar. Ia mengangkat Dara dan memindahkan nya ke ranjang, mengusap air mata yang masih mengalir dari sudur mata wanita itu.


"Aku nggak tau apa yang sedang terjadi padamu, tapi sayang... aku senang kamu datang padaku." Rocky mengecup kening Dara penuh kelembutan, lalu menyelimuti tubuh Dara. Ia lalu memasukkan barangnya satu - persatu ke dalam koper untuk segera pergi dari Bali menunggu Dara bangun dan membereskan barang - barang Dara di kamar Dara sendiri.

__ADS_1


__ADS_2