
Dalam kepanikan di dalam taxi Dara terus berdoa, bahkan tak mengindahkan pakaian nya yang basah. Setelah sampai Dara turun dari dalam Taxi, berlari ke depan rumah sakit.
"Dara?"
"Ya, aku."
"Aku Septi, ikut aku."
Dara mengikuti orang yang menamakan dirinya Septi, dengan tangan gemetar. Tak lama mereka sampai di sebuah ruangan NICU, Septi menunjuk satu box inkubator. "Itu adalah keponakanmu, kakakmu hamil baru 7 bulan tapi harus segera melahirkan karena sudah waktunya. Keponakan mu perempuan, lahir prematur."
Tubuh Dara merosot, tatapan nya kosong. "Lalu, kakak?"
"Kakakmu mengalami pendarahan hebat, mungkin karena stres saat hamil. Apa kamu tau kakakmu adalah seorang simpanan pria beristri?"
"Si-simpanan?" mata Dara membulat penuh tak mempercayai pendengarannya.
"Ya, itu adalah Bos-nya tempat Dira bekerja sebagai Sekertaris. Putra pertama keluarga Sagantara, putra Walikota. Sudah mempunyai istri, menikah sudah 3 tahun. Kakakmu cerita padaku, lelaki itu sudah berpacaran dengan kakakmu lebih dulu tapi Ayahnya menjodohkan lelaki itu dengan wanita kenalan nya agar posisi Walikota aman. Saat menikah, lelaki itu tak ingin putus dengan kakakmu hingga saat ini mereka masih menjadi pasangan." Jelas Septi.
"Sagantara... Apa itu Darwin Sagantara?" gumam Dara.
__ADS_1
"Kamu mengenal lelaki itu?" tanya Septi.
Dara menggeleng lemah, "Aku mengenal adik lelakinya, Deris."
"Begitu."
"Apa kakakku sangat mencintai lelaki itu?"
"Dulunya mereka saling mencintai, tapi beberapa bulan lalu affair mereka terendus istrinya. Wanita itu membawa Ibu mertuanya, Ibu dari Darwis untuk melabrak Dira. Kakakmu bahkan ditampar dan dimaki-maki, tapi itu bukan hal yang menyakiti kakakmu. Setelah kejadian itu, Darwis pun berubah pada Dira mengatakan tak ingin bersama lagi dan menyuruh Dira menggugurkan anak yang dikandung kakakmu."
"Menyuruh mengugurkan dan melepas tanggung jawab... lelaki brengsek! Aku tak akan memaafkan nya, aku akan menyobek mulut mereka semua! Aku akan membalas keluarga itu!" Dara berdiri dari lantai, matanya membara.
"Aku ngak perduli! Aku akan menghajar mereka, aku akan membalas kesakitan kakakku!"
"Permisi..."
Seorang perawat menghampiri.
"Ya."
__ADS_1
"Apa Anda keluarga Nyonya Dira?"
"Ya, saya adiknya." Dara mendekati si perawat.
"Maaf, nyawa Nyonya Dira tak bisa diselamatkan. Dokter sudah berusaha, tapi--"
"Kakak... kakak... kakak..." Dara berlari dari ruang NICU mencari keberadaan ruangan kakaknya.
"Ikut aku," Septi menarik lengan Dara menuju ruangan operasi.
Ranjang didorong keluar dari ruang operasi, diatasnya berbaring tubuh dingin Dira yang sudah tertutup kain putih dari kepala sampai kaki.
"Tidak...!!!! Kakak! Bangun! Kak Dira! Huhuhu... !!!" Dara memeluk tubuh kaku kakaknya, menangis histeris.
Esoknya pemakaman kakaknya dilakukan hanya dengan beberapa orang, itu pun dilakukan di rumah sewaan sang kakak selama beberapa bulan ini karena ingin menyembunyikan kehamilan nya dari Dara.
Dara menelepon Alan dan Dimas kedua sahabatnya, bahkan ia tidak ingin lagi bertemu dengan Deris. Ia tidak membenci lelaki itu, hanya saja jika bertemu lagi dan kembali bersama Deris ia merasa itu tidak pantas. Dara tidak ingin berbahagia bersama Deris diatas luka kakaknya yang disebabkan oleh keluarga lelaki itu.
Flashback 5 Tahun Lalu OFF.
__ADS_1