
Suasana di dalam rumah besar milik keluarga Sagantara seketika menegangkan, Darwin yang belum tau apa - apa terhenyak.
"Anak? Anak apa maksudnya??" Darwin mendongak melihat seorang gadis kecil berambut panjang dengan mata bulat wajah nya mirip sekali dengan seseorang yang terus membayangi nya di setiap malam dalam tidurnya.
"Namanya Annabel, dia putrimu dari Dira wanita yang sudah mati itu! Adiknya menyembunyikan nya selama ini dari kita!" jawab Nyonya Anita.
"A--anakku dan Dira?" Darwin menoleh pada Dara dan Deris, kenapa selama ini tidak ada yang memberitahunya?
"Kak, aku bisa jelaskan. Dara sengaja menyembunyikan nya karena dia kehilangan kakaknya dan hanya Abel satu-satunya keluarga Dara. Meskipun Dara sengaja menyembunyikan Abel dari kakak, bukankah itu memang pantas karena kalian semua dulunya menyakiti kak Dira?" Deris mendekati sang kakak menjelaskan.
Darwin menjauhkan tubuhnya, ia menatap tak percaya pada Dara. Tadinya ia mempersiapkan diri ingin meminta maaf pada Dara, hanya terus menunda-nunda karena tidak tau apa yang mesti ia katakan. Tapi apa?! Dara menyembunyikan anaknya. Anaknya dan Dira!
"Kenapa? Kenapa menyembunyikan dariku... aku adalah Ayah anak ini, kalian tau sakit hatiku karena harus kehilangan Dira tapi... anak ku pun kalian ambil...!!!" Darwin berubah emosi.
"Kak, dengarkan aku--"
__ADS_1
"Cukup!!! Mulai sekarang anak ini akan aku ambil! Dia anakku, darah dagingku! Pergi kalian!" Darwin berjalan menaiki tangga dengan sikap tegas, lalu memangku Abel yang memberontak. "Usir mereka! Aku akan mengambil anakku! Segera urus-urus surat-surat apapun yang berhubungan dengan anakku!"
"Mama! Abel mau pulang!" anak itu terus menangis.
"Kak Darwin!!! Kau jangan bersikap egois! Dara sudah merawat Abel sejak bayi! Dia yang selama ini membesarkan Abel! Kakak nggak tau perjuangan nya membesarkan Abel seorang diri!" Deris baru saja akan naik ke atas tangga untuk merebut Abel namun polisi berdatangan.
"Kami Polisi! Jangan bergerak!" para Polisi menodongkan pistol ke arah Dara dan yang lainnya termasuk ke arah Deris.
"Berani - beraninya menyembunyikan cucuku!!!" raungan marah pria paruh baya menggema di dalam rumah, sang Walikota.
"Bawa mereka dan penjarakan karena merusak barang pribadi dan juga menyerang orang - orang ku...!!" Walikota Dermawan Sagantara tak ingin mendengar apapun lagi. Apalagi itu adalah cucu pertamanya dan sang menantu Mawar belum bisa memberikan keturunan untuk keluarga Sagantara tentu saja ia tak ingin melepaskan cucu kandungnya.
"Tidak! Abel...!" Dara berlari menaiki tangga namun beberapa orang polisi bergegas menahan nya.
"Jangan kasar padanya!" Deris mendorong polisi yang menahan tubuh Dara dengan kasar.
__ADS_1
"Bawa semuanya termasuk anak keduaku! Mulai sekarang kau bukan anakku lagi...!!" Pak Dermawan menunjuk Deris, anak yang susah diatur sejak kecil ia sudah tak ingin mengakuinya lagi.
Polisi segera menahan semuanya, Alan dan Dimas hanya bisa pasrah menyerah tak ingin lebih menambah hukuman nantinya pada Dara sahabat nya.
Setelah proses penyelidikan, keempat orang itu akhirnya harus bermalam di dalam penjara. Kekuasaan w a l i kota benar-benar bisa membutakan hukum.
Sel Dara dipisahkan dari sel ketiga lelaki, ia ingin menangis tapi sekuat tenaga menahannya. Tak ingin berubah menjadi wanita lemah, ia berjanji pada dirinya sendiri sekeluarnya dari penjara ia akan merebut Abel kembali.
Di sel sebelah terhalang tembok, Deris menyenderkan punggung di dinding. "Dara, kamu dengar aku."
Dara mendengarnya tetapi wanita yang sedang kehilangan anaknya, tak ingin bicara.
"Dara, jangan menyerah. Sampai kapan pun aku akan mendukungmu, selalu bersamamu. Aku akan--"
Ucapan Deris terhenti, ia sudah gagal melindungi Abel dari keluarganya. Janji - janji yang ia berikan pada Dara sebelumnya kini hanyalah sekadar janji manis yang tidak bisa ditepati. Kini ia tak mampu lagi mengatakan apapun, karena itu akan terdengar hanyalah omong kosong belaka.
__ADS_1