
Di kamar hotel Dara tidur menemani Abel di ranjang, Darwin memainkan ponselnya di balkon lalu tiba-tiba telepon masuk.
"Halo, apa?! Deris mabok dan berkelahi dengan orang, apa parah?" Darwin terdengar khawatir. "Darah!"
"Apa yang terjadi?! Deris kenapa?" Dara menarik lengan Darwin yang memegang ponsel dengan kasar agar berbalik menghadapnya.
"Deris mabuk lalu berkelahi di bar hotel."
"Pria itu!" desis Dara kesal, "Titip Abel, dia masih tidur karena efek obat. Aku akan segera kembali!"
Dara berlari keluar kamar masuk ke dalam lift, namun saat pintu lift terbuka Rocky sudah menunggu disana. Wajah Dara seketika merasa bersalah, ia lupa belum menghubungi Rocky sejak pagi. "Rocky... aku..."
"Apa nggak ada yang mau kamu jelaskan kenapa kamu meninggalkan ku disini seharian tanpa kabar?" Rocky menatap dingin Dara.
"A-aku, ingatan ku sudah pulih. Abel tadi--"
"Jadi karena ingatan kamu sudah pulih, kamu akan meninggalkan ku?"
"Nggak! Aku nggak akan meninggalkan mu, aku hanya meminta waktu untuk mengurus Abel sampai Abel baikan. Jangan marah," Dara mendekat ingin merangkul Rocky.
Namun Rocky memundurkan tubuhnya, "Aku nggak percaya, Abel hanya alasan untuk kamu kembali ke Deris kan? Kamu ingin menemui dia kan sekarang?"
"Dari mana kamu tau?" tanya Dara terkejut.
__ADS_1
"Aku baru keluar dari bar, dia babak belur--"
Dara tak ingin mendengar lagi rasa cemas menghantamnya, ia berbalik berjalan pergi.
"Tunggu Dara! Selangkah saja kamu meninggalkanku sekarang dan pergi pada Deris, kita nggak akan saling kenal lagi! Aku nggak akan pernah memaafkan mu!"
Langkah Dara terhenti, tubuhnya menegang. Kilasan tiga tahun bersama Rocky, dimanja dan selalu diperhatikan menohok hatinya tapi bayangan kenangan-kenangan nya bersama Deris yang tertawa penuh pengharapan padanya juga suara kecewa Deris padanya itu terlalu menyakitkan. "Maaf... Rocky maaf..." Dara pergi dengan langkah tegap sudah memantapkan pilihannya.
Bibir Rocky tersenyum, Alan keluar dari balik tembok. "Kamu yakin sudah merelakan Dara?"
"Kalau pun aku nggak melakukan ini sekarang, bisa dipastikan suatu hari Dara akan menyesal telah memilihku karena hatinya sudah tak ada cinta sedikit pun untukku. Cintanya hanya untuk Deris, lebih baik melepaskan sekarang," Rocky mengangkat bahu.
"Aku salut padamu, pria gentle." Alan menepuk pundak Rocky menyemangati pilihan pria itu.
"Terima kasih dan hati - hati." Alan sekali lagi menepuk pundak lelaki yang sudah berani merelakan Dara untuk lelaki lain.
Di dalam Bar Dara tak menemukan perkelahian yang dikatakan Darwin dan Rocky, yang ada hanya Deris yang berwajah sedikit merah karena mabuk.
"Dara..." Deris mengucek matanya. "Khe... he... aku pasti membayangkan nya lagi... dia lebih memilih bersama lelaki lain... ha... ha..." mulut tertawa tapi air mata menetes dari sudut matanya, Deris terlihat menyedihkan.
"Apa kak Darwin bohong?" tanya Dara menoleh pada Dimas yang sedang cengengesan karena Dara bisa tertipu.
"Kalau gitu gue pergi, jaga dia!" Dara kesal berniat membalikkan tubuh tapi malah bergerak maju saat tubuh Deris akan terjatuh dari kursi tinggi bar. "Kau!" teriak Dara memegangi tubuh Deris.
__ADS_1
"Bawa di ke kamarnya, ayo gue bantu." Dimas mulai merangkulkan tangan Deris pada tubuhnya.
Dara menghela nafas pasrah bisa-bisanya dia tertipu sandiwara mereka semua. Tunggu! Tapi kenapa Rocky membohongiku juga?!
Seraya berpikir tentang Rocky, mereka bertiga sampai di depan kamar yang di dalam nya sudah disulap sangat romantis.
Ceklek.
Lampu kamar masih padam, Dimas melepaskan rangkulan nya pada Deris. "Lo bawa dia ke ranjang, gue ngidupin lampu dulu."
Pyar!
Lampu kamar berpendar terang sangat pas dengan Dara menjatuhkan tubuh Deris ke atas ranjang.
"Apa ini?!" Tubuh Dara mundur melihat ranjang yang dihiasi kelopak - kelopak mawar merah bak ranjang pengantin.
"Sorry! Urus Deris! Gue pergi! Semoga malam ini indah buat kalian!" Dimas buru-buru kabur.
"Kalian semua!" Dara ingin pergi keluar tapi tangan Deris menggenggam pinggiran celana Dara.
"Jangan pergi... aku butuh kamu..."
Hufff!
__ADS_1
Tubuh Dara terjatuh di atas tubuh Deris karena tarikan lelaki itu, tanpa menunggu lama Deris mencium bibir terperanjat Dara. Membalikkan tubuh mereka, kini tubuh Deris berada di atas tubuh Dara.