Jangan Rebut Anakku...!!!

Jangan Rebut Anakku...!!!
Bab - 51 Ada Dede Bayi Di Perut Mama Dara.


__ADS_3

Pengantin baru akhirnya kembali ke Jakarta dari bulan madu mereka selama hampir 2 minggu lamanya, disambut senyuman mengejek dari Dimas yang kebagian bertugas menjemput Dara dan Deris.


"Uhukkk, lepasin tuh tangan kasihanilah jomblo ini." Dimas menyetir mobil meninggalkan bandara, Dara dan Deris duduk di belakang saling berpegangan tangan.


"Jomblo! Huh! Lo kira gue kagak tau lo ada main sama Dokter Delima, lumayan hebat lo sebentar aja bisa dapetin hatinya." Cebik Dara.


"Hahaha...gue kan pilih-pilih kalau masalah cewek. Lo tau gue suka sama cewek pas SMA bisa dihitung jari." Balas Dimas.


"So, apa udah diterima cinta lo?"


"Doakan aja lah, gue pengen kawin juga kayak lo terus punya anak cewek kayak Abel." Dimas nyengir.


"Idih, langsung kawin sama maen punya anak aja. But... Jangan lama-lama, entar diembat cowok lain." Ujar Dara.


"Yes."


Mobil sampai di rumah Darwin, Dara kekeh ingin bertemu lebih dulu dengan Abel. Meskipun mereka selalu melakukan video call tetap itu berbeda dengan bertemu langsung.


"Mama!" teriak anak itu seraya memeluk Dara.


Dara balik memeluk balik, ia mensejajarkan tubuh nya dengan Abel. "Mama kangen... uhhh..."

__ADS_1


Deris mengelus kepala sang keponakan, "Abel nggak kangen Om?"


"Kangen, hehe..." jawab gadis kecil itu.


"Jangan erat - erat peluk Mama Dara, takutnya ada dede bayi di perut Mama Dara." Celetuk Deris membuat semua mata membulat penuh mendengarnya.


"Serius, Ra?" tanya Sabrina.


"Mungkin, soalnya aku udah telat 5 hari. Kami masih tebak-tebakan belum periksa apapun." Jawab Dara.


"Tunggu apa lagi! Cepet ke rumah sakit, bebeb gue entar periksa lo Dar... " timpal Dimas.


"Serah gue lah," Dimas meleletkan lidah.


"Nanti aja periksanya, aku masih belum yakin."


"Mau adain pesta penyambutan?" tanya Alan.


"Ada hal yang harus kami lakuin lebih dulu," Deris menoleh pada sang kakak. "Kak, penting. Ayo bicara."


Darwin menangguk berjalan ke ruang pribadi, diikuti Dara dan Deris. Selama hampir satu jam, mereka bertiga keluar dan sepakat sebelum melaporkan tentang kejadian di rumah Sagantara 4 tahun lalu ketiganya akan menemui orang tua Deris dan Darwin.

__ADS_1


Tak menunggu lama, berbekal bukti dari Rocky dan bukti - bukti yang dikumpulkan Deris yang terjadi empat tahun lalu. Deris dan Darwin memperlihatkan semuanya, akhirnya kedua orang tuanya meminta kasus itu ditutup.


"Dengar, lagipula ini berawal dari Dara yang menyusup ke rumah kita. Papa bisa melaporkan dia ingin menculik Abel, perjanjian hitam di atas putih pun masih berlaku tentang Dara yang dilarang mendekati Abel." Tegas Pak Dermawan.


"Papa salah, aku sudah merevisi isi yang tertuang dalam perjanjian. Karena aku adalah ayah kandung Abel dan lebih berhak dari Papa dan Mama, aku sudah mengganti semuanya. Aku sudah membebaskan Dara untuk bertemu kapanpun dia ingin bertemu dengan Abel, malah kalian yang aku larang bertemu Abel lagi." Timpal Darwin.


"Anak kurang ajjar! Kalian berdua mengecewakanku! Pergi kalian! Tuntut saja kami dan Mawar yang memerintah memukul Dara waktu itu! Papa nggak melakukan apapun, jadi nggak mungkin Papa diusut!" teriak Pak Dermawan.


"Papa salah lagi, aku akan bersaksi jika Papa berniat ingin menyembunyikan kasus ini dari hukum dan tidak ingin terendus wartawan. Selain Mawar, Papa juga akan ditangkap." Darwin berapi-api tidak ingin lagi memberi toleransi.


"Jangan begini, kami juga orang tua kalian. Lepaskan permasalahan ini, ya?" Nyonya Tiara membujuk kedua anaknya.


"Baik, asalkan Papa dan Mama minta maaf pada Dara dan berjanji nggak akan pernah lagi ikut campur lagi kehidupan kami berdua." Ujar Deris.


"Mama janji, Papa juga. Iya kan, Pah!" sekarang Nyonya Tiara membujuk suaminya.


Akhirnya Pak Dermawan mengangguk dengan tidak rela, dia akan menghancurkan anak-anaknya jika perlu kalau mereka menghambat pemilihan nya sebagai Dewan.


"Kalau begitu kita sudah selesai membicarakan nya, kami pamit. Ingat, jangan ganggu kehidupan kami. Ahya, aku dan Dara sudah menikah secara agama. Kami akan segera mengurus secara hukum dan juga melakukan resepsi besar-besaran. Kalian tentu saja diundang dan boleh datang." Deris memeluk Dara lalu berbalik keluar dari rumah orang tuanya.


Darwin pun ikut berdiri, menatap nanar kedua orang tuanya menggeleng karena di hari tua mereka tak akan ada anak-anaknya yang menemani, itu semua karena keserakahan duniawi.

__ADS_1


__ADS_2