
Di Perusahaan yang bergerak dalam bidang kosmetik, Dara sebagai staff pemasaran sedang sibuk mengurus berkas dokumen yang akan ditawarkan ke Perusahaan baru untuk kerjasama.
"Kamu udah siap?" tanya Kepala Divisi.
"Tunggu 5 menit, plisss Bos." Jawab Dara masih sibuk memasukkan berkas ke dalam map.
"Oke," sang Kepala Divisi bernama Tommy bersedekap menyenderkan pinggulnya di meja menunggu Dara selesai sembari menatap wanita itu dengan pandangan suka. Ya, suka. Sejak Dara menjadi staff di Divisi-nya, ia menyukai wanita dengan sebutan Janda bar - bar oleh teman-teman satu kantor Dara. Kabar beredar tentang Dara yang mempunyai seorang anak, namun sudah bercerai. Sebutan Janda bar - bar karena setiap ada lelaki yang mendekati, Dara akan mengigit mengaum seperti singa betina alias sangat galak.
"Yup! Yuk, udah selesai Bos." Dara menghampiri Tommy dengan map di selipan lengannya.
"Yuk," keduanya keluar dari Perusahaan.
Sekitar 20 menit mobil yang dikendarai Tommy masuk ke sebuah Perusahaan yang baru berdiri beberapa bulan ini, dikabarkan pemilik Perusahaan sangat jenius dan menjadi seorang Presdir di usianya yang muda yaitu 23 tahun.
"Siapa sebenarnya pemilik Perusahan ini, Bos?" tanya Dara seraya mengikuti Tommy masuk ke dalam Perusahaan.
"Apa aku belum memberitahumu?" tanya balik Tommy.
"Belum sama sekali," geleng Dara.
__ADS_1
"Namanya Deris Sagantara, dia lelaki ulet dalam bidang nya. Aku pernah sekali bertemu--"
Tommy menghentikan langkahnya, karena tak terdengar lagi suara hentakan hak tinggi milik Dara. Tommy berbalik, Dara tertinggal jauh di belakangnya. "Dara, kamu ngapain disana?"
"Bos, boleh ganti sama Sabrina nggak? Aku tiba - tiba baru ingat ada keperluan mendesak," Dara tak ingin bertemu dengan Deris. Jika dari awal ia tahu, dia akan menolak saat sang Kepala Divisi mengajaknya.
"Ini terlalu penting, Dara. Untuk temu janji dengan orang sepenting Pak Deris ini sangat susah, ayo cepat." Tolak Tommy.
Dara menutup wajah nya dengan map di tangan, menggerutu sepanjang perjalanan di dalam lift sampai di lantai sang Presdir.
Tommy heran dengan kelakuan Dara yang seperti sembunyi di belakang punggung nya.
Sang sekretaris Deris sudah membuka pintu ke ruangan Deris. "Silahkan masuk, Anda dari PT Pramos? Pak Deris sedang menunggu."
"Halo, Pak Tommy." Deris bangkit dari duduknya di kursi putar miliknya, dia berjalan menghampiri Tommy dan bersalaman.
"Halo, Pak Deris. Senang akhirnya kita bisa bertemu untuk bisnis," Tommy menyalami Deris.
"Baik, silahkan duduk. Kita akan bahas bisnis kita, tapi... di belakang Anda?" tanya Deris yang hanya melihat rambut coklat kemerahan yang menyembul dari pundak Tommy.
__ADS_1
"Ah, ini adalah staff kami. Namanya Andara..." Tommy bergeser ke samping mengenalkan Dara pada Deris.
Darrr!!!
Hari apa sih ini? Kenapa sial banget harus ketemu mantan yang pengen gue lupain?! Alamakkkk....
"H-halo, Pak Deris. Saya Dara," Dara menyodorkan satu tangannya untuk bersalaman.
Deris masih termangu diam tak berkedip, jantungnya bergemuruh hebat. "H-halo."
Saat tangan mereka bersentuhan, tubuh mereka berdua bergetar seolah dialiri listrik tak kasat mata. Deris bahkan tak ingin melepaskan genggaman tangan mereka berdua, namun Dara lah yang lebih dulu menarik genggaman nya.
"Anda baik - baik saja, Pak Deris?" Tommy keheranan melihat sikap aneh keduanya.
"Ekhm, saya baik. Ayo, duduk." Deris berjalan lebih dulu ke arah sofa, menunggu tamu nya duduk baru dia duduk.
"Dara, perlihatkan sample barang - barang kita dan juga data profit kita setiap tahun." Ujar Tommy.
Tangan Dara sedikit gemetar, ia tak menyangka Perusahaan nya akan bekerja sama dengan Perusahaan Deris. Saat menarik kertas dari dalam map, kertas terlepas dari tangannya terjatuh ke lantai dan berserakan. "Maaf... maaf..."
__ADS_1
"Ada apa Dara? Kamu kok nggak seperti biasanya." Tommy menunduk mengambil kertas di lantai mengumpulkan satu - persatu.
Mata Dara dan Deris saling bertatapan, ada banyak rasa di dalam sana. Rasa rindu, rasa penyesalan, rasa ingin lebih banyak waktu lagi untuk bersama.