Jangan Rebut Anakku...!!!

Jangan Rebut Anakku...!!!
Bab - 39 Punya Ayah 4 Tapi Ibu Nggak Jelas.


__ADS_3

Sepulang dari sekolah, ketiga paman nya membawa Abel ke pusat perbelanjaan. Seminggu lagi adalah libur semester, mereka sepakat akan berangkat ke Bali untuk liburan kali ini.


"Makan eskrim yang banyak, terus ceritakan kenapa Abel memukul anak lelaki itu." Deris menaruh satu cup besar eskrim di depan wajah Abel yang menekuk.


"Jangan memperlakukan aku kayak anak kecil lagi, aku udah gede." Abel cemberut.


"Oke, so?" Deris menghela nafas pelan.


"Anak laki-laki itu menyebutku anak tanpa Ibu, punya Ayah 4 tapi Ibu nggak jelas, siapa yang nggak marah coba!"


Brakkk!


Dimas menggebrak meja, merasa emosi. "Kita harus cepat-cepat nikahin kak Darwin sama Bu Inara, nah... Abel bisa punya Mama kan!"


Brakkk!


"Nggak mau! Mama Abel cuma satu! Mama Dara!" tolak Abel mendorong cup eskrim dengan kesal.

__ADS_1


Deris memelototi Dimas, mulut pria itu asal nyablak saja. "Paman mu Dimas cuma bercanda, iya kan Dim?!"


"Um, iya." Dimas menggaruk belakang kepalanya.


"Kalian nggak ada gunanya, janji - janji bisa menemukan Mama Dara tapi apa nyatanya!" Abel berdiri melenggang pergi keluar dari toko eskrim.


"Kamu sih!" berengut Alan dan Deris pada Dimas lalu ketiga pria dewasa itu bergegas mengikuti Abel yang melangkah lebar dengan tubuh gadis kecil itu yang mulai tinggi.


Tiga Hari Kemudian...


"Bu Inara?" Abel yang maju mendekat.


"Hai, Abel. Maaf, Ibu ikut" ujar Inara dengan kikuk, ia menoleh pada Darwin yang memohon untuk dia ikut. Awalnya Inara menolak namun saat Darwin mengatakan kehidupan Abel yang tidak mempunyai seorang Ibu kandung sejak lahir dan meminta agar Inara lebih mendekat pada Abel sebagai guru pembimbing diluar pelajaran dengan gaji tujuh digit, akhirnya Inara menyetujui karena jujur gajinya sebagai Guru honorer tidak terlalu banyak untuk menghidupi satu keluarga yang menjadi tanggungan nya.


"Apa kak Darwin mulai modus padanya," bisik Dimas pada Alan.


"Apalagi, sudah pasti itu. Kalo nggak... mana mau Bu Inara ikut" jawab Alan.

__ADS_1


"Jadi benar, kak Darwin menyukai Bu Inara" tanya Sabrina berbisik pada suaminya. Ya... beberapa bulan setelah menghilang nya Dara, Sabrina dilamar Alan dan sekarang mereka sudah mempunyai seorang anak laki-laki berusia 2 tahun.


"Um, itu benar."


"Jangan bisik - bisik, hargai Bu Inara yang ikut dengan keluarga hancur seperti kita. Ayo, duduk di kursi masing - masing" tegur Darwin lebih ke tak ingin Inara mendengar bisik - bisik jika sebenarnya ia menaksir Inara.


"Abel, tempat duduk kamu sama Om." Deris memanggil Abel yang masih penasaran pada Inara sang Guru.


Abel melirik sekali lagi pada sang Guru, lalu membalikkan tubuh berjalan duduk di samping sang Paman.


"Om, siapa yang ajak Bu Inara. Abel nggak suka dia, galak."


"Papa-mu yang ajak, tapi... Bu Inara sebenarnya galak karena dia ingin Abel jadi anak baik dan pintar. Coba Guru yang lain, banyakan menji lat karena tau Abel cucu calon Dewan. Berarti Bu Guru Inara orang jujur dan baik, nggak terpengaruh sama status nya Abel."


Abel melirik lagi pada sang wali kelas, memang benar apa yang dikatakan sang Paman. Terkadang ada kemiripan juga sikap tegas Bu Inara dengan sang Bibi yang menghilang empat tahun lalu.


Deris melihat Abel tak menyanggah perkataan nya, ia tersenyum sepertinya ide kakaknya mengajak Inara sudah tepat mungkin di tempat liburan Abel bisa membuka hati pada wanita baru selain Dara. Meskipun Abel dekat dengan Sabrina namun setelah Sabrina mempunyai anak, waktu dari istri Alan itu selalu terbagi untuk anaknya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2