Jangan Rebut Anakku...!!!

Jangan Rebut Anakku...!!!
Bab - 42 Sudah Melupakan.


__ADS_3

Bulu kuduk Dara meremang saat tadi bertabrakan dengan pria di depannya, ada getaran yang tidak ia mengerti. Saat pria itu menawarkan minuman, ingin rasanya menjawab ya. Namun ia segera menggenggam cincin yang ada di jari manisnya, mengingatkan dirinya sendiri jika dia mempunyai kekasih yang luar biasa baik padanya.


"Lalu kemana dia?"


"Dulu hilang, dia kini kembali... namun sepertinya dia sudah melupakanku."


Pria itu menatap nanar padanya membuat kening Dara mengernyit seolah rasa sakit di dalam mata lelaki di depannya itu bisa ia rasakan juga.


Hei Dira! Sadar! Ingat Rocky! Selama ini kamu adalah wanita beruntung mendapatkan pria seperti Rocky! Gerutu Dara pada dirinya sendiri karena tiba-tiba terkecoh dengan lelaki di depannya.


"Aku belum memperkenalkan namaku, aku Deris." Deris mengulurkan tangan.


Dara menyambut uluran tangan Deris, ia hanya merespon begitu saja seolah tingkah laku mereka berdua pernah ia alami.


"Maaf, tapi aku harus pergi." Dara ingin cepat-cepat menghindar, perasaan nya merasa tak aman saat tangan mereka bersentuhan ada sesuatu yang membuat jantungnya berdegup kencang.


Aku nggak mau mengkhianati Rocky! Aku harus sadar!

__ADS_1


"Tak bisakah meminta nomor telepon mu?" Deris tak menyerah.


"No, sorry." Dara menolak kemudian berlalu meninggalkan Deris yang menatap dengan mata terluka.


"Sayang, kamu mencariku?" Rocky sudah merasa cukup memberi kesempatan pada Deris agar lelaki rival cintanya itu mengerti dengan jelas jika cinta Dara sekarang adalah miliknya. Melihat mata terluka Deris, sepertinya Dara memang menolak pendekatan Deris.


"Aku mencarimu, dimana anak perempuan tadi?" tanya Dara.


"Sudah aman bersama keluarganya, ayo kembali pada teman-teman kita." Rocky dengan sengaja merangkul pinggang Dara dan Dara membalas dengan bergelayut manja menggandeng lengan Rocky.


Deris menonjok dinding hotel, ia geram melihat kemesraan Dara dan Rocky. "Aku ingin mencekik pria brengsek itu! Arghttt!!!"


Semua mata di lobby hotel menoleh pada Deris dengan tatapan seperti pandangan melihat orang stres, mereka menggeleng lalu membiarkan kelakuan Deris.


Alan, Dimas dan Darwin menggeleng - gelengkan kepala ikut frustasi karena barusan Dara melewati mereka tanpa mengenali.


"Dara udah nggak kenal gue lagi," lirih Dimas dengan suara sedih.

__ADS_1


"Hhhhhh..." Alan hanya mendesaah.


Darwin melihat adik lelakinya begitu frustasi, ia mendekat merangkul pundak adiknya. "Kita sudah menemukan Dara, kini tinggal mencari solusi agar Dara bisa mengingat kehidupan nya tapi tidak dengan menyakitinya."


Deris menyipitkan matanya, ia siapa? Dia adalah Deris anak bandel saat sekolah, apa akan menyerah begitu saja saat Dara tak mengenalinya dan akan diam menunggu begitu saja? Oh tentu tidak!


Tunggu aku sayang! Aku tau kamu wanita kuat dan tak akan kalah oleh traumatis dan segala penyakit mentalmu seperti kata pria be jat itu! Aku akan merebutmu kembali!


Benar saja dengan membututi Dara, Deris mengetahui di kamar mana Dara tidur di hotel itu. Malam hari saat semua orang harusnya sudah terlelap dengan mimpi-mimpinya, Deris menyiapkan alat untuk meloncat melalui balkon untuk sampai di kamar Dara. Untung saja jarak antara balkon satu kamar ke balkon kamar lainnya tidak jauh memudahkan rencana Deris.


Huft!


Tubuh Deris bergelantung di pagar balkon kamar Dara, dengan cepat menaiki pagar dan meloncat ke lantai balkon. Sedikit mengotak-atik kunci pintu kaca balkon, Deris berhasil membuka pintu balkon dan menyusup ke dalam kamar. Ia tau jika kamar Dara dan Rocky terpisah, dengan percaya diri dia semakin mendekat ke ranjang menatap penuh kerinduan pada wanita yang sudah memejamkan mata. Tangan Deris terulur ke arah wajah Dara, namun...


Grep!


Tangan Deris dicekal oleh tangan Dara, mata wanita itu terbuka menatap tak percaya ada orang yang berani menyusup ke kamarnya apalagi si penyusup adalah pria yang tadi tubuhnya bertabrakan dengan nya. "Sebenarnya siapa kamu dan apa mau mu?!"

__ADS_1


__ADS_2