
Bali.
Kamar suite hotel yang dipesan Rocky untuk menghadiri pernikahan karyawan nya sekaligus teman kantor Dara di hari kemarin begitu besar ditempati Dara seorang diri, ia membuka pintu balkon yang mengarah ke samping. Kamarnya berada di lantai 3, bersebelahan dengan Rocky.
Dara memakai baju tali pantai memperlihatkan hampir sebagian kulit punggung mulusnya, dengan tubuh bagian bawah memakai kain endek yang merupakan kain tenun khas bali. Ia menunggu Rocky menjemput untuk pergi ke pantai dengan sunglasses bertengger di hidung mancung wanita yang kini sudah berusia 27 tahun itu.
Tok
Tok
Tok
"Sayang, udah siap? Jangan lupa bawa sun screen !" panggil Rocky dari luar pintu kamar.
"Untuk apa tabir surya, ini kan malam... tôi sẵn sàng ( aku siap )" jawab Dara terkadang memakai bahasa Vietnam karena ruang lingkup kerjanya mengharuskan berbahasa Vietnam, belajar selama 3 bulan lamanya membuahkan hasil.
" Dừng vội vàng ( Jangan buru-buru )" timpal Rocky.
Dara berjalan ke ranjang mengambil tas kecil yang berisi perlengkapan wanita dan ponsel.
Ceklek.
"Ayo," Dara membuka pintu lalu menggandeng lengan Rocky dengan mesra.
Rocky mengelus pipi Dara yang sedikit berwarna kecoklatan karena sudah tiga hari di Bali.
__ADS_1
"Lihat warna kulitmu, tiga hari disini sudah berubah gelap," ujar Rocky.
"Kamu juga sama. Apa teman - teman yang lain sudah berkumpul disana?"
"Ya, tinggal kita dan beberapa lagi. Apalagi pasangan pengantin baru, mereka pasti paling terlambat."
Dara tersenyum senang, "Aku betah disini, bisakah kita tinggal lebih lama lagi... jangan pulang bareng sama yang lain? Aku nggak mau pulang besok," ujarnya merajuk.
"Lihat, jika sedang ada maunya kamu selalu merajuk. Apa mau sekalian menikah disini? Kamu tau aku sangat mencintaimu..." pancing Rocky.
Tubuh Dara menegang, kepalanya tiba - tiba sakit. "Arghttt..."
"Ada apa?" tubuh Rocky ikut tegang, ia selalu waspada jika Dara kesakitan.
"Telingaku berdenging, sakit sebentar. Udah nggak apa - apa." Dara menghirup nafas dalam - dalam.
"Nggak perlu, nggak enak sama yang lain." Dara menggeleng, "Ayo."
Saat sampai di tepi pantai, kursi - kursi malas pantai sudah dipenuhi teman-teman sekantor Dara dengan Rocky menjabat sebagai CEO. Api unggun sudah menyala terang di tengah mereka dengan musik pop Vietnam yang mengalun menambah nuansa romantis malam itu.
"CEO kita dan sang kekasih sudah datang, tepuk tangan!" jahil salah satu teman Dara dengan berbahasa Vietnam, jika diluar pekerjaan mereka selalu bersikap santai pada Rocky.
"Woi! Malam gini pakai kacamata. Haha..."
"Itu yang mau aku tanyakan tadi, sayang. Kamu bilang untuk apa memakai tabir surya. But... see! Kamu memakai kacamata hitam di malam hari," timpal Rocky ikut menjahili Dara.
__ADS_1
"Hanya gaya-gayaan, ini pantai!" Dara cemberut pada Rocky. "Kamu pacarku atau bukan? Kenapa ikut meledek kayak mereka!" Dara pura-pura marah lalu menjauh dari Rocky dan duduk menyempil diantara teman-temannya.
Tak jauh dari kehebohan perkumpulan orang-orang Vietnam, sosok kecil sedang menangis karena mengenali wanita aneh yang memakai kacamata hitam di malam hari.
"Mama... Mama Dara..." Abel terisak menangis, ia lalu berlari ke arah perkumpulan orang-orang Vietnam itu.
"Mama!" teriak Abel dengan kencang kerinduan begitu menyesakkan untuk gadis kecil itu.
Semua mata yang sedang bersenda gurau menoleh pada arah suara dan menatap gadis kecil yang menangis menyedihkan.
"Dia bicara apa?" ujar seseorang yang tidak paham bahasa Indonesia.
"Dia memanggil Mama. Dek, dimana Mama kamu? Apa kamu tersesat?" salah satu yang lain nya mengerti bahasa Indonesia.
Dara merasa familiar dengan suara anak perempuan yang sedang menangis tak jauh darinya, namun ia tak bisa mengingat apapun. Tetapi karena rasa penasaran dan merasa kasihan, ia berdiri ingin berjalan mendekat namun tangan nya ditahan oleh Rocky. "Tunggu disini, aku yang akan bertanya pada anak itu."
Rocky melepaskan cekalan pada tangan Dara, segera mendekat ke arah Abel dengan jelas ia sangat mengenali siapa anak itu.
"Kamu tersesat? Mau Om bantu cari keluarga kamu?" pura - pura Rocky.
"Aku mengenali Mama ku, dia Mamaku." Tunjuk Abel pada Dara.
"No, dia bukan Ibumu. Dia kekasih Paman," elak Rocky. "Ayo Paman bantu cari keluargamu."
Abel menggeleng tetap yakin dengan yang dilihatnya, namun Rocky menarik sedikit memaksa Abel pergi dari sana.
__ADS_1
"Kenapa Rocky kasar, harusnya bicara pelan-pelan pada anak itu." Dara terus bergumam sampai sosok anak perempuan itu tak terlihat lagi dari pandangan nya.