
Esok hari nya pengacara dari pihak keluarga Sagantara datang, dengan membawa berkas berisi berbagai perjanjian yang tertuang di dalamnya termasuk Dara yang harus menjauhi Abel dan tidak diperbolehkan mendekati dalam jarak aman.
"Jika ingin keluar dari penjara, silahkan Anda menandatangani berkas-berkas ini. Segala isi yang tertuang di dalamnya, harus Anda laksanakan. Sesuai hukum yang berlaku, jika Anda mendekati putri klien kami maka Anda akan ditangkap dan dijatuhi hukuman pidana dan perdata. Anda paham, Nona Dara?"
"Brengsek! Keluarga ba jingan!" bukan Dara yang berteriak mengutuk tapi Deris. "Aku malu mempunyai keluarga seperti mereka!"
Dara membaca setiap lampiran yang ada di dalam map, ia tersenyum sinis melihat nominal yang diberikan untuknya karena sudah merawat Abel selama lima tahun ini
"Apa ini kompensasi dari mereka? 5 miliar? Harga anakku?" tiba - tiba Dara tertawa layaknya orang gila, bagaimana tidak gila jika ia menghadapi orang - orang berkuasa yang tidak tahu malu dan tak mempunyai hati nurani.
"Ada apa? Apa kurang, Nona? Pak Dermawan dan Pak Darwin mengatakan jika Anda ingin menambah nominal, mereka setuju."
"Arghtt! Aku ingin mencekik mereka!" Deris sudah habis kesabaran.
__ADS_1
"Silahkan tanda tangan, Nona. Jika Anda ingin keluar atau dari pihak kami akan terus membawa masalah ini ke persidangan yang saya yakin tidak akan bisa Anda menangkan. Saya adalah pengacara berpengalaman, Nona. Apalagi hidup Anda tidak akan dibiarkan tenang oleh w a l i kota," pernyataan yang menyesatkan dari pengacara dan Dara tau itu. Dara sudah mempelajari tentang hukum jika anak diambil keluarga asli, ia memang tidak mempunyai kesempatan sama sekali.
Aku harus keluar lebih dulu baru langkah selanjutnya aku pikirkan lagi! Batin Dara.
Wanita yang sudah terdesak itu langsung menandatangani berkas - berkas itu tetapi dia mencoret nominal uang kompensasi yang tertera di dalam berkas.
"Anda tidak ingin uang kompensasi ini?" tanya Pengacara.
"Aku tidak membutuhkan uang menji jikan dari keluarga itu!" geram Dara.
"Jangan ulangi lagi, hormati Pak W a l i kota! Dia adalah panutan kita, mengerti!" bentak Pakpol.
"Cih!" Dimas ngeloyor keluar sel dengan berwajah ji jik pada petugas yang seharusnya mengayomi rakyat tapi lebih berat ke atas.
__ADS_1
Sama hal nya dengan Alan, wajah pria itu bahkan berwajah garang. Pria itu berpikir andai saja orang tuanya mempunyai kedudukan tinggi juga seperti orang tua Deris.
Dara memeluk Dimas merasa tubuhnya lemas, ia sengaja mengabaikan Deris padahal ia juga tau Deris sudah berusaha semampunya membantu. Ia hanya merasa hatinya sakit lagi melihat wajah dari salah satu keluarga yang menyakiti kakaknya dan sekarang menyakiti Abel dan dirinya.
Dimas balas memeluk Dara lebih kepada menguatkan sebagai teman, ia memberi kode pada Deris dengan tangan nya agar sabar.
Deris hanya mengangguk, ia menghela nafas pasrah wajahnya menunduk penuh kesedihan.
"Ayo pulang, aku akan mengantarmu." Ujar Dimas.
"Kamu juga sebaiknya pulang, Der." Alan menepuk bahu Deris menguatkan pria itu agar tak menyerah pada Dara.
"Oke. Dim... jaga Dara untukku." Deris menepuk bahu Dimas, ia ingin memeluk Dara atau hanya sekedar mengelus tangan nya tetapi ia tak berani.
__ADS_1
Keempat orang itu keluar dari kantor polisi, Deris memandangi Dara yang masuk ke dalam taksi bersama Dimas. Mobil - mobil mereka masih berada di kediaman W a l i kota, masih dalam penahanan.