Jangan Rebut Anakku...!!!

Jangan Rebut Anakku...!!!
Bab - 52 Akhirnya Kebahagiaan Semua Orang Datang.


__ADS_3

Siang itu Dara sengaja menjemput Abel ke sekolah, ia berjalan masuk ke dalam sekolah sekalian ingin bertemu Bu Inara yang sudah lumayan akrab. Deris sudah mulai bekerja, buku nikah juga sudah ia kantongi dan resepsi pernikahan rencananya akan diadakan 10 hari lagi di Ballroom hotel.


Langkah Dara akhirnya sampai di ruang Guru, baru saja ingin mengetuk pintu suara keras teriakan seseorang terdengar.


"Kamu disini hanya jadi Guru, jadi wali kelas Abel. Jadi Guru jangan kegatelan! Abel anakku! Jangan jadikan Abel sebagai siasat mu menggoda Darwin!" teriak Mawar di ruangan, beberapa Guru ada disana dan berbisik - bisik.


"Maaf, Nyonya Mawar. Tapi Pak Darwin mengatakan kalau Mama Abel sudah meninggal dan Anda hanya lah mantan Ibu tiri Abel. Hanya mantan istri, Pak Darwin." Notasi Inara begitu jelas.


Dara yang membuka pintu dan ingin membantu Bu Inara yang dilabrak Mawar akhirnya tersenyum mendengar Bu Inara bisa membela dirinya sendiri.


"Pantas saja Kak Darwin tergila-gila pada Bu Inara, wanita kuat dan tegas." Gumam Dara bersandar di pintu menunggu balasan Mawar si wanita jahat tak tau malu.


"I-itu! Darwin bohong! Kami masih bersama. Mungkin kamu merayunya dan dia akhirnya tergoda olehmu dan mengatakan kebohongan itu!" elak Mawar.


"Astaga! Benar-benar wanita tak tau malu!"


Plok!


Plok!


Plok!


Dara maju mendekat seraya bertepuk tangan, ia tersenyum penuh ejekan pada Mawar. "Wah, mantan menantu calon dewan ada disini rupanya. Salam dari menantu baru," ujar Dara sengaja.


"Kamu! Masih hidup!" Mawar memundurkan tubuhnya, seketika ia ketakutan.


"Kenapa mundur mantan kakak ipar? Aku sekarang istri Deris, dan kenalkan Bu Inara adalah calon ipar baruku. Calon istri Kak Darwin." Dara merangkul Bu Inara dengan akrab.


"Apa?!" semua orang terkejut, pasalnya Pak Darwin selain putra pertama keluarga Sagantara juga adalah Pengusaha sukses. Seketika mereka semua iri pada Bu Inara yang hanya dari keluarga sederhana dan hanya menjadi Guru honorer tak seperti yang lain yang sudah menjadi PNS.


"Kamu bohong!" teriak Mawar tak terima.

__ADS_1


"Ah, aku mempunyai bukti rekaman Cctv tentang kejadian empat tahun lalu. Apa kamu ingin melihatnya bersama di kantor polisi atau sama-sama melihatnya di internet saat aku menyebarkan rekaman nya nanti. Itu loh pas kamu menyuruh orang-orang memu--"


"Berhenti! Cukup!" sanggah Mawar, ia lalu pergi kabur keluar.


"Hahaha..." Dara tak menahan tawa puasnya, ia melepaskan rangkulan nya pada bahu Bu Inara. "Maaf, Bu. Saya bersikap lancang, orang seperti Mawar harus diperlakukan dengan tidak hormat."


"Tidak apa-apa, terima kasih." Bu Inara malah tersenyum.


Semua Guru dan petugas di ruang Guru pun bubar setelah kehebohan selesai, Bu Inara mempersilahkan Dara duduk di depan meja nya.


"Kamu ingin menjemput Abel?"


"Iya, Bu. Sekalian mau fitting baju seragaman untuk pernikahan. Apa Bu Inara ada waktu? Kalau sibuk, saya bisa minta pada pihak sekolah."


"Saya? Untuk apa?"


"Ikut aja, kita juga sudah dekat seperti teman. Ya?" Dara memaksa.


"Saya harus ijin dulu," akhirnya Bu Inara mengangguk, bahkan karena kabar Inara calon istri Darwin petugas sekolah memberi ijin dengan cepat.


Setelah penjahit mengukur ukuran tubuh, Bu Inara dan Sabrina serta Abel duduk di sofa menunggu Dara mencoba gaun pengantin.


"Inara...!!!" teriak Darwin yang ngos-ngosan masuk ke ruangan.


Inara bangun dari duduknya, "Ada apa Pak Darwin?"


"Katanya Mawar datang! Kamu nggak apa-apa? Dia menyakitimu?" cemas Darwin setelah Dara memberi pesan jika Mawar datang melabrak Inara.


"Saya baik, Anda tidak apa-apa?" Inara melihat keringat membanjiri wajah tampan Darwin.


"Aku nggak apa-apa selama kamu baik-baik saja," Darwin merasa lega.

__ADS_1


Wajah Inara menunduk malu, pipinya menghangat.


"Astaga kak Darwin! Kenapa nggak jujur aja sih? Katakan kakak menyukai Bu Inara dan ingin Bu Inara menikah denganmu! Kenapa bertele - tele?!" kesal Dara melihat kepengecutan Darwin.


"A-aku..." gagap Darwin, ia menoleh pada Inara. "Aku menyukaimu, Inara. Aku tidak memintamu menjadi Ibu dari Abel, karena sampai kapanpun Dira dan Dara adalah Ibunya. Aku meminta mu menjadi istriku dan Ibu dari anak-anak kita nanti. Inara, maukah kamu menikah denganku?"


Inara terperangah mendengar setiap kata yang terucap dari bibir Darwin, ia tak bisa berkata-kata.


"Terima aja, Bu. Abel setuju..." Ujar gadis kecil itu.


"Aku juga setuju," imbuh Sabrina.


"Aku juga," timpal Dara.


"Kami juga setuju," ujar serempak Alan, Deris juga Dimas yang membawa Dokter Delima masuk seraya tersenyum ikut memberi dorongan pada Inara agar menerima pinangan Darwin.


"Ya, aku menerima mu." Akhirnya Inara menjawab.


Darwin memeluk Inara tanpa sadar, memutar-mutar wanita yang berada dalam pelukan nya dengan tertawa bahagia diikuti tawa semua orang.


"Arghtt!" teriak Dara membungkam suara tawa bahagia semuanya.


"Ada apa?" Deris dengan sigap memeluk Dara.


"Kepalaku pusing, ini... oh... oeekkkk... " Dara menutup mulutnya yang terasa mual.


Mendengar penuturan Dimas tentang ada kemungkinan Dara hamil sepulang bulan madu, Dokter Delima maju memeriksa sebentar denyut nadi Dara. Bibirnya tersenyum, "Sepertinya kabar gembira ganda, Pak Darwin yang diterima lamaran nya dan janin yang ada dalam kandungan Dara. Untuk lebih memastikan, periksa dengan alat hamil atau pergi ke rumah sakit."


"Sayang..." Deris berkaca - kaca, refleks ia mencium Dara di hadapan semua orang.


Akhirnya kebahagiaan semua orang datang, setiap pertemuan akan ada perpisahan baik itu lewat kematian atau pun yang lainnya. Seperti Darwin dan Dira yang terpisahkan karena keegoisan dan kematian juga seperti Dara dan Rocky yang terpisahkan karena mereka bukan lah jodoh. Semoga setiap perpisahan akan ada pertemuan baru yang bisa menyembuhkan setiap perasaan orang yang mengalami kemalangan.

__ADS_1


______________Tamat_______________


Terima kasih untuk semua yang setia membaca karya ini, semoga banyak hal baik yang dapat dipetik jika pun tak ada semoga bisa menghibur kalian 🫰😍😘


__ADS_2