
Di dalam ruangan kantor Deris menunggu kedatangan Tommy yang ingin bertemu, ia lalu mengingat obrolan nya tadi pagi dengan Alan di Perusahaan lelaki itu bekerja. Setelah ia berjanji, Alan akhirnya mengatakan seluruh kebenaran tentang hidup Dara. Namun, Alan meminta agar ia berpura - pura belum mengetahui kebenaran itu sebelum Dara mengatakan nya lebih dulu menunggu Dara jujur dan mengatakan segalanya padanya.
Tok
Tok
"Pak Deris, Pak Tommy sudah datang." Ujar Sekertaris.
"Masuk."
Pintu terbuka, lelaki dengan paras tampan ke bule - bulean dengan tinggi sekitar 182 cm itu menatap Deris saat berjalan mendekati meja kerja Deris.
"Duduklah," Deris mempersilahkan Tommy duduk. Ia sendiri bersandar di kursi kerjanya, sengaja bersikap santai.
"Saya ingin membicarakan masalah semalam, masalah Anda dan Dara. Apa itu akan berpengaruh pada kerja sama kita?"
Deris menggeleng, "Kejadian semalam tidak ada hubungan nya dengan masalah pekerjaan. Lagipula urusanku dan Dara kamu sudah mengerti, itu urusan pribadi."
__ADS_1
Tommy mengangguk. "Saya mengerti, berarti masalah pekerjaan tak ada masalah. Apa kita sekarang bisa bicara masalah pribadi, Deris?"
Deris mengangkat sebelah alisnya mendengar Tommy bicara informal padanya memanggil namanya secara langsung. "Silahkan."
"Apa hubungan kamu dan Dara sudah selesai? Entah itu cinta masa lalu atau hubungan lain?"
"Apa yang ingin kamu tau?" tanya balik Deris.
"Hubungan kalian sekarang," timpal Tommy.
"Kenapa? Apa karena kamu menyukai Dara?" Deris masih tak menjawab dan terus memutar balikan pertanyaan.
"Hubungan kami saat ini bisa dibilang ambigu... kamu tau kenapa? Karena kami baru bertemu lagi setelah 5 tahun lamanya, benar katamu di telepon jika hubungan kami memang belum usai. Hubungan kami terlalu rumit jika dikatakan hanya sekedar mantan kekasih, hubungan kami lebih dari itu." Deris menatap tajam Tommy.
"Jadi, bisa dibilang aku mempunyai saingan dalam mendapatkan hati Dara dan itu kamu?" tanya Tommy meminta kejelasan.
"Yup, aku masih mencintainya dan tak akan menyerah untuk mendapatkan hatinya." Jawab Deris yakin.
__ADS_1
"Meskipun nantinya hati Dara akan terluka?" timpal Tommy.
"Aku tak akan membiarkan perasaan bahkan tubuh Dara terluka sedikit pun," Deris tak suka dengan perkataan Tommy, ia menipiskan bibirnya.
"Kamu terlalu yakin," sahut Tommy.
Tok
Tok
Tok
"Pak Deris, Nona Feli datang."
Deris mengernyitkan kening nya merasa tidak ada janji dengan kekasih nya, bahkan ia sempat lupa jika dirinya masih mempunyai kekasih.
"Kalau begitu aku permisi, kamu masih ada tamu. Namun ingat ini Deris, dalam pekerjaan kita relasi bisnis tapi dalam hal asmara kita adalah rival. Permisi," Tommy bangkit dari kursi bertekad akan menjauhkan Dara dari Deris dan keluarga lelaki itu agar Dara tidak terluka dan jika semua berjalan lancar dan Dara menerima cintanya, ia akan segera melamar dan menikahi Dara untuk segera mengadopsi putri kakak perempuan nya itu.
__ADS_1
Saat akan keluar, Tommy menatap sekilas ke arah wanita yang baru saja masuk. Merasa mengenali wajah dan terasa familiar oleh wajah itu, ia menggeleng kan kepalanya lalu berjalan keluar dari ruang kantor Deris.
Saat sudah berada di mobilnya, Tommy baru ingat wanita yang datang untuk bertemu Deris tadi. "Itu kan putri dari Pak Marwan, teman papa. Kabarnya kekasihnya adalah putra kedua dari W a l i kota... tunggu!" Tommy membuka ponsel dan melakukan pencarian di internet tentang W a l i kota karena merasa pernah mendengar nama anak dari W a l i kota, benar saja bukan hanya pernah mendengar tapi ia mengenal lelaki itu. Deris! Jadi yang dikatakan ada sosok berpengaruh oleh Dara di Rooftop tadi adalah W a l i kota, orang tua Deris. Pantas saja selama ini Dara ketakutan, keluarga Deris ternyata bukan sosok sembarangan.