Jangan Rebut Anakku...!!!

Jangan Rebut Anakku...!!!
Bab - 45 Kenapa Tega Ingin Meninggalkan Abel dan Aku?


__ADS_3

Pagi hari Dara dan Rocky sudah bersiap akan pulang ke Vietnam, memesan tiket penerbangan paling awal.


Baru saja mereka check-out dari hotel, suara Darwin berteriak memanggil nama Abel dengan panik terdengar.


"Abel! Nak! Bangun sayang!" Darwin berlarian di sepanjang koridor hotel sembari memangku anak itu.


"Abel!!!" teriak semua orang.


Tubuh Dara bergetar hebat saat mendengar kepanikan dalam suara semua orang, tanpa berpikir lagi ia berbalik berlari ke arah Darwin yang mengendong Abel yang tak sadarkan diri dalam pelukan.


"Dira!" teriak Rocky tapi tak digubris.


"Abel! Ada apa?! Ada apa dengannya? Bagaimana kalian mengurus putriku?! Hah?!" Dara berteriak histeris. "Panas! Tubuhnya sangat panas! Kulitnya merah-merah, Abel alergi kacang!"


Semua orang mematung mendengar Dara begitu lancar mengingat semuanya tentang Abel.


"Cepat bawa ke rumah sakit! Nafasnya mulai tersengal-sengal!"

__ADS_1


"Permisi, ada apa?" seseorang berlari mendekat. "Saya adalah Dokter." ujarnya lagi.


"Anak saya alergi kacang, Dok! Sepertinya anakku makan kacang." Dara terus panik, tak mengindahkan apapun lagi.


"Saya ada obat alergi di kamar saya, biar asisten saya ambil." Lalu si Dokter mulai memeriksa denyut nadi dan ruam-ruam merah, ia mengangguk membenarkan jika Abel kambuh alergi nya.


"Apa anak ini tidak sengaja memakan yang membuatnya alergi?"


"Saya tadi memesan layanan hotel untuk makan malam, saya tidak tau murid saya alergi kacang." Inara juga sama kagetnya, ia juga sangat ketakutan.


"Jangan panik, asisten saya kembali." Si Dokter langsung mengobati Abel dengan segala alat Dokter nya dan memberi obat alergi. "Untuk penanganan darurat, saya rasa cukup. Silahkan bawa anak ini ke rumah sakit untuk pemeriksaan lain nya."


"Ah, saya belum memperkenalkan diri. Saya Delima."


"Sekali lagi terima kasih, Dokter Delima."


"Sama-sama, jika ada yang dibutuhkan saya masih menginap di hotel ini sampai besok. Hubungi saya di kamar 208, jika ada yang membutuhkan Dokter. Saya permisi."

__ADS_1


Seperginya Dokter, Dara merebut tubuh berat Abel dari Darwin. "Kalian banyak, tapi mengurus anakku saja tidak bisa! Aku akan membawanya ke rumah sakit!"


Semua orang masih tak mempercayai jika Dara ternyata sudah mengingat mereka semua berdasarkan dari perkataan sejak tadi.


Dari belakang mereka, Rocky menghela nafas kasar mendengar Dara berbicara seperti sudah mengingat jelas kehidupannya.


Di kamar rawat rumah sakit, Dara terus duduk di samping ranjang rawat menggenggam tangan kecil milik Abel. "Maafin Mama yang egois akan pergi meninggalkan Abel hari ini, Mama kira Abel udah bahagia dengan semua keluarga Abel tanpa Mama."


"Kamu salah, Dar. Abel selama ini nggak pernah mau seterbuka itu sama siapapun. Dia terus menyuruh kami mencarimu, bahkan dia selalu sengaja membuat masalah di sekolah karena ingin kamu kembali lalu memarahinya karena menjadi anak nakal." Tutur Deris.


"Aku baru mengingat semuanya kemarin, saat di rumah sakit aku udah inget. Tapi..." Dara menggeleng.


Deris sendiri tidak mengerti kenapa Dara ingin pergi lagi padahal sudah mengingat semuanya. "Katakan, Dara. Kenapa kamu ingin pergi meskipun kamu sudah mengingatnya? Aku ingin tau alasannya." Desak Deris.


Awalnya Dara terdiam tak ingin berkata jujur namun sepertinya dia harus bicara yang sebenarnya. "Karena Rocky, meskipun dia yang membawaku pergi dari kalian tapi dia benar-benar tulus merawat dan mencintaiku. Aku nggak bisa meninggalkan nya."


Degh!

__ADS_1


Hati Deris seketika terluka, hanya karena lelaki yang menculiknya Dara lebih memilih pergi demi lelaki itu. "Lalu aku? Apa cintaku kurang untukmu? Apa cintaku nggak tulus padamu? Kenapa kamu tega ingin pergi meninggalkan Abel dan aku?" suara Deris bergetar.


Dara kembali terdiam, ia sendiri masih tidak mempunyai jawaban.


__ADS_2