Jangan Rebut Anakku...!!!

Jangan Rebut Anakku...!!!
Bab - 12 Dia Adalah Kekasih Saya.


__ADS_3

Deris dengan cepat dilarikan ke rumah sakit, sedangkan dari Perusahaan pihak Deris mengajukan tuntutan pada Dara karena menginginkan pertanggung jawaban wanita bar-bar itu.


Jaminan dari pengacara Perusahaan untuk Dara ditolak, pihak dari keluarga Deris menelepon kepolisian agar tidak membiarkan pelaku pemukulan putra keduanya tidak dibebaskan.


Tommy menemani Dara di kantor polisi, mengurus beberapa berkas dengan polisi dengan Dara yang masih di interogasi.


"Mana pelakunya?!" Nyonya Tiara, Mama Deris masuk dengan amarahnya. Dengan diikuti Darwin kakak laki-laki Deris.


Polisi yang mengetahui identitas sang Nyonya yang adalah istri dari Walikota, seketika berdiri dari depan meja penyelidikan menghampiri wanita paruh baya yang berteriak.


"Saya polisi yang bertanggung jawab kasus pemukulan ini, saya Faisal." Polisi berusia 42 tahun memperkenalkan diri.


"Saya nggak perduli siapa nama kamu, dimana penyerang putra saya?!" ujar Nyonya Tiara masih dengan bentakan nya.

__ADS_1


"Saya penyerang nya," Dara bangun dari kursi di depan meja penyidik lalu berbalik menghadap si istri Pak Walikota.


Plakkkk!!!


Nyonya Tiara menampar Dara dengan keras, setelahnya menunjuk wajah Dara dengan telunjuk. " Kau! Beraninya memukul putraku sampai masuk rumah sakit! Aku nggak akan biarkan kamu bebas!"


Darwin menahan tubuh Ibu nya, " Mama! Apa yang Mama lakukan?! Ini kantor polisi! Jangan berbuat kasar!"


Pipi Dara merah terkena tamparan, mata wanita bar - bar itu memerah karena marah. Ia menatap tajam Darwin seketika teringat ketika kakak perempuan nya yang ditampar dulu. Apa seperti ini rasanya? Meskipun kakak nya lah yang salah karena menjadi orang ketiga, apa harus ditinggalkan disaat hamil? Bukan hanya kakak nya yang salah tapi Darwin juga! Kenapa hanya kakak nya yang dihukum bahkan meninggal karena stress dan pendarahan saat melahirkan. Namun, kakak nya masih tetap mempertahankan anak yang disuruh digugurkan lelaki tak bertanggung jawab di hadapan nya itu! Kakak nya sudah mendapatkan hukuman dengan meminggal dalam kesakitan, tapi apa Darwin sudah mendapatkan hukuman nya?! Seharusnya dua orang yang menjadi pelaku pengkhianatan dihukum sama besarnya, kenapa harus pihak dari wanita yang selalu dihukum?!


"Dara! Kamu nggak apa-apa?" Deris menarik Dara ke dalam pelukan, nafas pria itu terengah - engah karena berlari dari area parkir di luar. Saat tadi tersadar di rumah sakit dan mengetahui Dara ada di kantor polisi Deris tak berpikir lama seketika pergi dari rumah sakit.


"Maaf, aku yang salah. Kamu tau sejak dulu mulutku kurang ajar dan tidak bisa di rem. Maaf karena situasi memalukan tadi di club," Deris terus menerus bicara tanpa sadar semua orang sedang menatap kelakuan nya, ia terus mengelus kepala Dara lembut.

__ADS_1


Anehnya Dara hanya diam mematung, tindakan Deris sekarang padanya membuat perasaan nya tak karuan.


"Deris...!!! Kamu sudah gila! Dia yang sudah memukulimu!" teriak histeris sang Ibu.


Tubuh Deris tersentak, lalu ia tersadar matanya menatap ke sekeliling semua orang menatap ke arahnya dan Dara. Dengan perlahan Deris melepaskan pelukan nya, berdehem karena sedikit malu. "Ekhmm..."


Wajah nya yang babak belur sudah tak ia rasakan lagi rasa sakitnya karena rasa khawatir pada Dara dan juga rasa malunya saat ini.


"Maaf, Pak Deris ini adalah korban nya. Apa Anda ingin menindaklanjuti hukuman untuk Nona Dara?" Faisal sang polisi yang menangani kasus bertanya langsung.


"Apa maksud kamu bertanya begitu pada anak saya?! Sudah pasti wanita ini harus dihukum!" Nyonya Tiara tak terima.


"Tidak Pak, saya tidak ingin Dara dihukum. Sejak awal ini adalah kesalahan saya, saya tidak merasa menjadi korban. Saya mencabut apapun laporan yang tertuju pada Nona ini, dia adalah kekasih saya. Kami hanya sedang bertengkar," begitu saja Deris berujar membuat mata orang - orang yang dekat dengan Deris dan Dara termasuk Tommy membelalak saat mendengar pengakuan Deris.

__ADS_1


"Karena urusan nya sudah selesai, saya akan membawa Dara. Permisi..." tanpa minta ijin pada empu nya tangan, Deris begitu saja menarik tangan Dara menggenggam nya dan berjalan keluar dari kantor polisi.


Semua orang terbengong - bengong bahkan mulut Nyonya Tiara yang menganga lebar tak bisa mengeluarkan suara melihat putra keduanya pergi membawa si pelaku penyerangan dari sana.


__ADS_2