Jangan Rebut Anakku...!!!

Jangan Rebut Anakku...!!!
Bab - 35 Tiga Puluh Lima.


__ADS_3

Beberapa hari ini Dara hidup dengan normal, namun nyatanya ia seolah berjalan di atas kaca tipis hatinya teramat sakit karena tak bisa menemui Abel. Dulu jika ke luar kota karena urusan pekerjaan paling lama Dara hanya tiga hari berpisah dari Abel.


"Ra, bagian ini salah tapi aku udah revisi." Sabrina maklum beberapa hari ini Dara selalu melakukan kesalahan dalam pekerjaan, itu pun diketahui oleh Tommy.


"Sorry dan thanks."


Sabrina menepuk pundak sang sahabat menguatkan. "Fighting!"


Dara tersenyum berterima kasih, wajahnya sangat tirus dan pucat. Dimas bertugas menjaga Dara jika sampai di rumah, sahabat lelakinya itu meminta ijin menginap pada RT setempat. Para sahabatnya juga Denis sepakat akan bergantian menemani Dara, karena mereka takut wanita yang sudah kehilangan keponakan yang sudah seperti putri kandung nya itu melakukan hal nekad. Mereka terlalu mengenal baik sifat berani Dara, mungkin sekarang diluar tampak tenang tapi di dalam diri Dara sedang ada badai yang berkecamuk.


Sabrina bertugas terus mengamati gerak-gerik Dara jika di Perusahaan, jika Dara tidak mau makan ia akan memaksa dengan menyuapi Dara. Bagaimana pun hidup harus berlanjut, para sahabatnya tak ingin Dara sakit.


Tommy yang juga tidak tahan melihat wajah menyedihkan Dara memanggil Sabrina untuk mengetahui apa penyebab Dara seperti itu.


"Pak, Anda memanggil saya."

__ADS_1


"Duduk."


Sabrina menurut duduk di kursi depan meja kerja Tommy, ia sudah menebak apa yang ingin dibicarakan lelaki yang menjadi kepala di divisinya itu.


"Ada apa dengan Dara? Aku ingin kejujuran."


"Bapak masih menyukai Dara?" alih-alih menjawab Sabrina bertanya balik.


"Ya, sangat menyukainya. Apa ini berhubungan dengan keluarga Deris, w a l i kota?"


"Aku tak sengaja mendengar pembicaraan kalian berdua beberapa waktu lalu di rooftop." Jawab Tommy.


"Hm, jadi begitu. Karena Pak Tommy sudah tau, saya akan menceritakan yang terjadi pada Dara."


Tommy mendengarkan dengan mengangguk mengerti, sesekali matanya menatap Dara dari jendela kantor yang mengarah pada para bawahannya.

__ADS_1


"Aku mengerti, terima kasih." Ujar Tommy setelah Sabrina selesai bercerita.


"Kalau begitu saya akan kembali bekerja."


"Ya."


Tommy memikirkan apa yang bisa ia bantu untuk Dara, namun tidak ada. Dia tidak bisa berbuat apapun, kecuali dia meminta pada Ayah tirinya yang menjadi pengucur dana untuk pemilihan dewan Ayah Feli.


"Apa Papa mau membantu untuk bicara dengan Papa Feli, dan Papa Feli bicara pada keluarga Deris? Apa mungkin?" Tommy tak terlalu berani karena yang menjadi Ayahnya sekarang hanyalah Ayah tiri, dan Ayah tirinya sedikit ambisius kemungkinan untuk mau membantu Dara yang bukan siapa - siapa nya Tommy itu sangat lah kecil.


"Hhhh... sepertinya itu tidak mungkin."


Seminggu berlalu sejak kejadian Dara dipenjara karena menerobos masuk ke rumah keluarga Sagantara, beberapa kali Deris membiarkan Dara melakukan video call dengan Abel dengan sembunyi - sembunyi. Namun, tetap saja rasa rindu tak bisa Dara bendung lagi. Akhirnya Dara mempersiapkan sesuatu hal agar dia bisa membawa kabur Abel menjauh dari semua orang dan hanya akan hidup berdua saja.


Malam itu, Dara tau Dimas tidak akan tidur karena menjaganya. Saat ia berpamitan akan tidur, Dara sengaja memasukkan obat tidur ke dalam kopi yang ia buatkan untuk Dimas. Benar saja tak lama Dimas tertidur begitu pulas, dengan cepat Dara mengambil tas yang sudah berisi uang cash, paspor dan visa untuk jaga - jaga juga beberapa pakaian. Satu tas lainnya berisi alat - alat untuk ia menyusup ke dalam rumah, beserta satu set pakaian untuk masuk. Dengan memanggil ojeg online, Dara pergi dari rumah menuju kediaman Sagantara.

__ADS_1


__ADS_2