Jangan Rebut Anakku...!!!

Jangan Rebut Anakku...!!!
Bab - 21 Abel Bukan Anakku.


__ADS_3

Kini Sabrina dan Dara berada di Rooftop gedung Perusahaan, duduk di bangku panjang dengan pikiran mereka masing - masing.


"Sekaramg boleh aku bicara, Na." Dara menghirup udara yang masih segar meskipun tak sesegar udara di pedesaan karena terlalu banyak polusi.


"Aku mendengarkan tapi jangan lama, tinggal 10 menit lagi masuk waktu kerja."


Dara berdiri dari kursi panjang berjalan ke arah pagar pembatas menyenderkan tubuh bagian depan ke pagar dan menatap bangunan tinggi lain nya di seberang gedung.


"Abel bukan anakku," lirihnya namun terdengar oleh Sabrina.


"Apa maksud mu, Ra?" Sabrina masih belum mengerti.

__ADS_1


"Abel anak kakak perempuan ku yang udah meninggal saat melahirkan Abel, aku mengasuh Abel sejak bayi. Alan dan Dimas yang selalu ada buat aku. Mereka sudah seperti keluargaku, nggak mungkin ada apa - apa antara aku sama Alan."


Sabrina terperangah tak percaya, dia berdiri berjalan mendekati sang sahabat menarik lengan Dara agar berhadapan dengan nya. "Kenapa kamu baru cerita ini, kita udah kenal dari kita kuliah Ra dan menjadi sahabat karena dipertemukan lagi di tempat kerja. Meskipun tidak selama persahabatan mu dengan Alan, tapi aku masih sahabatmu."


"Maaf, aku hanya nggak ingin identitas asli Abel terungkap. Keluarga dari pihak Ayah kandung Abel adalah sosok berpengaruh di kota ini, Na. Aku nggak ingin kehilangan Abel, karena seiring nya waktu aku sadar orang yang nggak punya pengaruh seperti aku nggak mungkin menang kalau melawan orang berkuasa. Apa kamu kecewa padaku karena aku nggak jujur sama kamu?"


"Ya ampun, Ra. Aku tau banget perjuangan kamu saat kuliah sambil membawa Abel pas bayi, itu lah yang membuatku ingin berteman denganmu. Saat itu aku berpikir, gila ya di zaman seperti ini ada loh wanita bawa anak bayi ke kampus dan nggak malu sedikit pun. Mental kamu sangat kuat, aku semakin penasaran saat Alan dan Dimas begitu menyayangi Abel dan selalu bergantian mengasuh Abel di kampus. Keperdulian itu lah yang membuat sosok Alan membuatku jatuh cinta, dia pria sempurna di mataku. Seorang pria yang setia pada persahabatan dan penyayang. Aku ingat saat kamu ditegur Dosen karena Abel menangis di dalam ruangan, Alan dan Dimas maju membela kamu dengan meminta HAM. Saat itu semua mahasiswa di ruangan akhirnya mendukung mu. Aku terharu dan menangis seperti aku lah yang mengasuh bayi sambil belajar. Aku adalah anak manja dari keluarga yang utuh tapi merasa selalu kurang kasih sayang karena orang tuaku selalu sibuk kerja. Melihatmu yang tidak manja dan selalu kuat aku termotivasi olehmu untuk menjadi wanita mandiri. Sekarang mendengar kebenaran nya, aku malah semakin bangga padamu. Sini peluk," Sabrina memeluk tubuh sahabatnya dengan mata basah. "Tuh kan, aku nangis terus kalau ingat kisah hidupmu Ra."


Sabrina melepaskan pelukan nya, "Aku tetap marah, harusnya kalian menyertakan aku dalam masalah apapun. Jadi, katakan... kenapa kamu mengatakan Alan mantan suamimu, dan Pak Deris bisa mengetahuinya."


"Deris mantan pacarku dulu sebelum kakakku meninggal..."

__ADS_1


"So?"


"Deris adalah adik dari Ayah kandung Abel, dia dari keluarga itu. Jadi aku katakan aku sudah menikah bersama Alan tapi sudah bercerai agar Deris nggak tau Abel bukan anak aku."


"What?! OMG...!!" Sabrina menepuk kepalanya sendiri, ternyata masalah tak sesederhana yang terlihat. "Astaga!"


Dara tersenyum pahit, "Andai Deris bukan dari keluarga itu dan adik dari lelaki yang menyakiti kakakku. Mungkin, aku nggak akan terlalu keras dalam menghadapinya. Aku hanya takut Abel diambil paksa, karena aku nggak bisa adopsi Abel. Aku belum menikah dan belum bisa mengajukan adopsi, posisiku sangat lemah dimata hukum. Itu lah ketakutan ku selama ini. Dimas pernah menyarankan untuk menikah dengan ku hanya untuk mengadopsi Abel secara sah, aku tolak mentah - mentah ide gila itu. Meskipun kami hanya pura - pura menikah untuk mendapatkan hak adopsi, aku nggak ingin menjebak Dimas. Bagaimana pun Dimas adalah anak lelaki dari sebuah keluarga yang mungkin berharap banyak padanya."


Sabrina mengelus rambut Dara, sungguh kasihan nasib sahabatnya.


Tak jauh dari sana, seseorang bersandar menempelkan diri di dinding bangunan agar tidak terlihat saat menguping setiap percakapan dari keduanya.

__ADS_1


__ADS_2