Jangan Rebut Anakku...!!!

Jangan Rebut Anakku...!!!
Bab - 17 Mama, Siapa Om itu?


__ADS_3

Dalam kegamangan Dara antara mengijinkan Deris masuk ke dalam rumah atau mengusirnya karena tak ingin membicarakan tentang sang kakak dan kakak lelaki itu, tiba - tiba suara gadis kecil di belakang nya memanggil 'Mama'.


"Mama, Abel haus... Abel cari - cari di dalam rumah Mama nggak ada." Gadis kecil itu menggosok - gosok sepasang matanya lalu sesekali menguap.


Dara berbalik berlari lalu memangku Abel meskipun berat namun bagi Dara yang jago berkelahi tubuh Abel sangat ringan.


"Maaf, Mama ada tamu," Dara membalikkan tubuh dari arah pintu dia menatap Deris yang jaraknya sekitar 5 meter dari gerbang. "Der... masuk."


Tak menunggu lama Deris merasa diselamatkan oleh gadis kecil itu, dia berlari kecil dengan secepat kilat sudah berada di dekat Dara.


Dara tak bicara hanya berjalan masuk masih memangku Abel dalam gendongan nya, dia mendudukkan Abel di meja makan minimalis lalu ke arah dispenser mengambil air untuk Abel.


Deris langsung duduk di sofa kecil meskipun Dara tak menyuruh nya, ia memperhatikan gerak - gerik Dara saat mengurus putri kecil nya.


"Mama, siapa Om itu?" tanya Abel dengan suara imut nya.


Dara menoleh pada Deris, lelaki itu sedang menatapnya juga menunggu jawaban dari Dara tetang dirinya.

__ADS_1


"Teman sekolah dulu, sama kayak Paman Dimas." Jawab Dara jujur hanya berbohong sedikit, dia juga tak membawa - bawa nama Alan.


"Seperti Paman Alan juga?" Dara langsung menutup mulut putrinya, lalu membuka nya lagi.


"Jangan bicarakan Paman Alan, oke," bisik Dara, Abel mengangguk.


"Udah minumnya? Mau bobo lagi?" tanya Dara.


"Mau ditemenin Mama," jawab Abel.


"Loh, Abel kan udah bisa bobo sendiri sekarang. Mama juga ada tamu, harus bicara sebentar. Nggak enak kan kalau ada tamu dianggurin," sahut Dara mengelus belakang kepala Abel yang berambut pirang sepinggang.


"Annabel, sering dipanggil si boneka serem. Jadi sekarang ganti nama jadi Abel," gadis kecil itu cekikikan merasa lucu dengan namanya.


"Kamu sangat menggemaskan, apa Om boleh jadi teman Abel?"


"Uhm, minta ijin dulu sama Mama. Boleh Mah?" mata kecil Abel menatap polos Dara.

__ADS_1


"Tentu boleh, teman Mama teman Abel juga. Nah, masuk kamar lagi yuk... Abel bisa bobo sendiri kan?"


"Bisa," Abel turun dari kursi makan, menoleh pada Deris. "Met malem Om," lalu Abel berlari masuk ke kamar nya sendiri.


Dara mengikuti Abel, merapikan bantal kemudian menyelimuti tubuh Abel dan sebelum keluar mengecup kening gadis kecil menggemaskan itu.


"Met bobo putri Mama," ujar Dara seraya berjalan keluar.


"Malam, Mama."


Dara tersenyum lalu menutup pintu kamar setengah tak menutup full, dia berjalan ke arah ruang tamu dimana Deris menunggu lalu duduk agak menjauh dari lelaki itu.


"Bicaralah dengan pelan, biarkan putriku tidur," jutek Dara.


"Oke, berapa usia putrimu? Jika menghitung kamu hamil saat pacaran denganku, mungkin kah 4 tahun lebih." Deris menghitung usia kehamilan Dara 9 bulan dan kini mereka bertemu kembali setelah 5 tahun lamanya.


"Hm, sekitar segitu. Bukankah kamu ingin bicara tentang kak Dira dan kak Darwin? Bicaralah, ini udah larut banget. Aku nggak mau di cap wanita nggak bener memasukkan pria tengah malam."

__ADS_1


Deris mengingat wajah keibuan Dara tadi ketika wanita itu bersama putrinya, seketika ada rasa sesak yang tak bisa diungkapkan. Apa benar Dara menghilang malam itu hanya karena kak Dira meninggal dan karena hamil?


Tunggu! Aku tadi mendengar Abel memanggil Paman pada Alan, apa maksudnya?!


__ADS_2