
Di Kediaman Sagantara, melalui tali yang berhasil ia kaitkan di atas ujung tembok tinggi. Dara menaiki tembok seperti latihan panjat tebing, tak lama ia berhasil masuk yang ternyata halaman belakang.
Dengan pakaian serba hitam, ia masuk dengan peralatan membuka kunci di tangan nya dan berhasil menjebol kunci pintu dapur. Lampu dapur padam, ia masuk dengan perlahan tanpa bersuara semakin masuk ke ruangan yang hanya ada sedikit cahaya temaram. Ia naik ke lantai atas, mengingat di sebelah mana kamar Abel dari cerita anak itu saat bertelepon.
Krieet.
Pintu kamar Abel tak terkunci, Dara masuk dengan mengendap semakin mendekat ke arah ranjang.
Dara mengelus pipi tembem Abel, mengusap kepalanya sayang menciumi wajah anak itu.
"Mama kangen Abel," gumam nya.
"Mama..." Abel membuka mata kecilnya, menggosok mata dengan tangan.
"Iya, ini Mama. Malam ini Mama bawa Abel pergi, ayo."
Seketika gadis kecil itu mengangguk kesenangan, lalu bangun merangkul leher Dara.
Dengan cepat Dara memangku tubuh kecil Abel dalam pangkuan, ia setengah berlari kecil ke arah tangga.
Dara menaruh satu tas berisi paspor dan uang diluar kediaman, dia masuk hanya membawa alat - alat untuk menyusup. Dara keluar lagi melalui dapur, namun sayang baru saja keluar beberapa penjaga sudah ada disana sedang memeriksa tali yang ia lempar saat masuk tadi.
__ADS_1
"Itu penyusupnya! Tangkap!"
Dara kebingungan, ia menaruh Abel di tanah lalu maju mulai melawan satu - persatu penjaga berbadan besar. Namun mereka menggunakan senjata besi untuk memukul Dara membuat Dara kesakitan.
"Dara!" Deris datang serta seluruh penghuni rumah.
Dara tak mengindahkan teriakan Deris, ia sibuk melindungi diri. Deris membantu Dara dengan melawan.
"Bunuh saja wanita tak tau diri ini!" geram Mawar, dia sudah berhasil mengambil hati Darwin karena adanya Abel. Sekarang Dara ingin mengambil Abel, tak semudah itu.
Salah satu penjaga bersiap memukul Dara dengan batangan besi.
Bugh!
"Arghhht!" tubuh Deris seketika terkulai.
"Deris!" Dara lengah, ia menahan tubuh Deris yang akan terjatuh tumbang.
Bugh!
Sekali ini penjaga berhasil memukul kepala Dara dengan keras, seketika darah membanjiri kepala Dara lalu matanya terpejam. Tubuh wanita muda itu tumbang bersama Deris yang masih memeluknya.
__ADS_1
"Dara... arght... Dar...." Deris berusaha bangun tapi lelaki itu kesulitan, tangan nya menggapai kepala Dara darah kental memenuhi tangannya. "Dara.. tidak... tolong... dia... Ma... ma... kak..." lirih Deris lalu suaranya pun menghilang tak terdengar lagi.
Nyonya Tiara dan Pak Dermawan hanya berdiri syok, saat suara Deris tak terdengar lagi dan suasana berubah sunyi barulah Nyonya Tiara berteriak histeris. "Deris!!!"
Wanita setengah baya itu berlari menuju Deris yang tergolek di tanah bersama Dara, mereka berdua sudah tak sadarkan diri.
"Mama... huwaaa...'" Abel pun ikut menangis namun tubuhnya ditahan Mawar.
Darwin bahkan seperti kehilangan akalnya, dia hanya berdiri mematung melihat kejadian yang terjadi begitu cepat. Seketika ia tersadar, menoleh pada Mawar yang memerintah membunuh Dara dan malah Deris ikut kena.
PLAKKK
Darwin menampar Mawar dengan sangat keras. "Wanita ke jam..!!! Kau masih belum berubah! Kenapa kau menyuruh mereka membunuh?! Lihat keadaan adikku dan Dara!"
"Cepat siapkan mobil! Kita bawa mereka ke rumah sakit!" teriak Darwin
"Jangan sampai ini terendus media! Jangan membuat keributan...!!!" bentak Pak Dermawan.
"Papa harusnya mengkhawatirkan keadaan Deris, dia juga anak Papa! Bukan malah mengkhawatirkan image Papa di mata publik!" geram Darwin.
Setelah perdebatan lama, akhirnya Deris dan Dara dibawa ke rumah sakit dengan mobil mereka. Darah yang keluar dari kepala Dara sangat banyak, Darwin benar - benar mencemaskan nyawa Dara.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari tak jauh ada sebuah mobil mengikuti dari belakang, sejak Dara keluar rumah lelaki itu membuntuti Dara bahkan isi dalam tas berupa barang pribadi Dara sudah ia ambil saat Dara meninggalkan nya di suatu tempat sebelum Dara memanjat dinding pagar kediaman Sagantara.