Jangan Rebut Anakku...!!!

Jangan Rebut Anakku...!!!
Bab - 22 Mampu melawan siapapun yang menyakiti Dara.


__ADS_3

Di ruangan pribadi kantor nya, Tommy sedang memikirkan obrolan antara Dara dan Sabrina. Lelaki itu tidak sengaja menguping, tadi dari dalam ruangan kantor nya ia mendengar Dara beradu mulut dengan Sisil. Baru saja ingin melerai, keburu Sabrina menarik tangan Dara pergi dari ruang kerja pemasaran.


"Jadi Dara belum pernah menikah apalagi mempunyai anak, dia mengaku janda hanya untuk melindungi anak nya dari keluarga Deris," gumam Tommy seraya menyatukan kesepuluh jari - jarinya.


"Dara membutuhkan pernikahan untuk mengadopsi putri kakak nya, tapi dia menolak tawaran teman nya. Dia sepertinya tidak ingin berhubungan dengan Deris lagi, apa aku mempunyai kesempatan?"


"Pak! Pak Tommy!"


Suara wakil-nya membuyarkan lamunan Tommy, "Ada apa?"


"Dari tadi saya ketuk pintu nggak ada jawaban, jadi saya nyelonong aja masuk. Maaf, Pak."


"Nggak apa - apa, ada apa?"


"Jangan lupa meeting nanti pukul 9 dengan semua kepala divisi, saya hanya mengingatkan," jawab sang wakil kepala.


"Oke, thanks udah ingetin. Dara udah kembali ke meja nya belum?"

__ADS_1


"Pas saya mau masuk kesini, dia baru datang sama Sabrina. Pak, ngomong - ngomong kerena masalah semalam apa kerjasama kita dengan Perusahaan Pak Deris masih bisa dilanjutkan?" cemas sang wakil, pasalnya jika gagal atau diberhentikan di tengah jalan para atasan akan ngamuk pada departemen Pemasaran dan departemen produksi.


"Setelah rapat aku akan pergi menemui Pak Deris, kamu telepon sekretarisnya dan buat janji temu."


"Baik, Pak Tommy."


...................


Di Perusahaan tempat Alan bekerja, Deris sudah menunggu di lobby Perusahaan. Tak lama menunggu, Alan masuk melewati lobby.


Di dalam mata Alan terlihat ada keterkejutan, Deris semakin mendekat. "Lu mesti minta ijin kalau lu bakal datang terlambat sama kantor, gue ingin bicara."


Alan tadinya ingin menolak, namun ia tau hal yang terus ditunda juga tidak baik. Alan segera menelepon pihak kantornya untuk meminta ijin dan berjalan ke arah kafe tak jauh dari Perusahaan.


"Jadi?" tanya Alan setelah duduk saling berhadapan dan hanya terhalang sebuah meja kecil kafe.


"Apa benar lu menikah dengan Dara karena Dara hamil anak lu, Lan? Di saat dia berpacaran sama gue? Jujur aja... masih banyak hal yang gue nggak ngerti," ucap Deris to the point.

__ADS_1


Alan menyeruput kopi di tangan nya, pandangan nya menatap orang - orang yang masih berseliweran diluar kafe padahal sudah waktunya bekerja.


"Lu masih penasaran dengan Dara?" tanya Alan tanpa menoleh.


"Gue nggak pernah melihat Dara dengan perasaan berbeda, perasaan gue sama Dara masih sama seperti dulu. Meskipun saat bertemu lagi dia mengatakan jika dia hamil anak lu saat berpacaran dengan gue, dan itu artinya dulu dia mengkhianati gue... tapi gue udah memaafkan nya dan nggak ingin memikirkan lagi rasa sakit gue karena Dara. Apalagi gue mendengar saat itu Kak Dira meninggal dan gue nggak bisa berada di samping Dara, sepertinya rasa sakit Dara pasti lebih banyak dari gue. Dara kehilangan satu - satunya keluarga karena ulah keluarga gue, mungkin pengkhianatan Dara adalah balasan setimpal bagi gue."


Alan menghela nafas panjang, menoleh pada Deris. Raut wajah Deris penuh penyesalan membuatnya seketika iba jika terus berbohong.


"Kalau gue jujur, lu yakin bisa jaga Dara dengan nyawa lu sendiri? Lu bisa memperjuangkan apapun bersama Dara? Pertanyaan terakhir, suatu hari jika Dara ingin melawan keluarga lu... apa lu mampu melawan keluarga lu sendiri? Sebelum menjawab semua itu, gue nggak akan mengatakan apapun sama luh!"


Deris sudah sedikit menduga apa yang dipikirkan Alan padanya namun keinginan pria itu belum bisa ia mengerti.


"Apa karena Dara Janda dan mempunyai anak, lu takut keluarga gue nolak hubungan kami?"


Alan menggeleng, "Bukan hanya itu, tapi ada hal lebih penting dari itu. Jadi jawab saja."


"Atas semua pertanyaan luh, gue yakin bisa. Gue mampu melawan siapapun yang menyakiti Dara, meskipun keluarga gue sendiri." Jawab Deris penuh ketegasan.

__ADS_1


__ADS_2