Jangan Rebut Anakku...!!!

Jangan Rebut Anakku...!!!
Bab - 16 Kami Sebenarnya Adalah Mantan Kekasih.


__ADS_3

Suasana kamar rawat begitu hening tatkala Darwin selesai dengan cerita perjalanan hubungan nya dengan Dira, bahkan pria yang belum juga dikaruniai seorang anak itu tersenyum miris.


"Ini hukuman untuk kakak, kan? Kakak belum juga bisa punya anak bahkan setelah menikah selama 8 tahun," lirih Darwin.


Deris masih terdiam lebih kepada syok bagai disambar petir di siang bolong, jadi apa Dara menghilang waktu itu karena kak Dira meninggal. Apa Dara mengetahui hubungan kak Darwin dan kak Dira, karena itu Dara tak ingin berhubungan dengan nya lagi? Tunggu! Malam itu, malam di hotel... apa saat itu kak Dira meninggal? Malam itu Dara berlarian dari dalam kamar hotel, apa Dara sedang kesakitan karena kehilangan?


"Dara... Dara..." Deris menyingkap selimut dengan terburu - buru turun dari atas ranjang rawat.


"Ada apa? Mau kemana kamu?" Darwin bangkit dari kursi nya.


"Aku harus menemui Dara! Saat itu aku tak bersamanya saat dia kehilangan kakaknya, dia sendirian! Dara nggak punya siapa - siapa... hanya kakak nya. Kamu seorang ba jingan kak! Gara - gara kamu Dara kehilangan satu - satunya keluarga nya! Pantas saja saat melihatku dia selalu menghindari ku! Dia pasti juga membenciku! Kamu, Mama dan kak Mawar jahat! Kalian semua! Aku nggak akan memaafkan kalian!" Deris keluar dari kamar rawat dengan perasaan sakit. Rasa benci dan penyesalan bercampur menjadi satu, benci pada keluarganya.


"Pak, jalan." Ujar Deris masuk ke mobil.


"Ya, Tuan."


Deris mencari nomor telepon Tommy, Bos Dara pasti mengetahui alamat Dara bukan?


"Halo, Pak Deris. Gimana tubuh Anda? Tadi Anda dan Dara pergi begitu saja dari kantor polisi, apa kalian baik - baik saja."

__ADS_1


"Baik, Pak Tommy. Begini, saya minta alamat Dara. Ini sangat penting."


Hening, tak ada jawaban dari pihak seberang.


"Pak Tommy, saya bukan ingin mengganggu Dara. Saya sangat mencintai Dara, kami sebenarnya adalah mantan kekasih. Saya juga tau Anda menyukai Dara, iya kan?"


Tarikan nafas pelan terdengar dari pihak Tommy. "Saya mengerti, saya tidak akan picik. Meskipun saya menyukai Dara, tapi sepertinya hubungan kalian belum usai dan dalam hal itu saya tidak akan mengusik dan mempersulit Anda Pak Deris. Silahkan tulis alamat Dara," Tommy segera memberitahukan alamat Dara.


"Terima kasih. Kapan - kapan kita bisa bicara antar lelaki, saya harus pergi."


Tutttt.


"Ke alamat ini, Pak." Deris menyebutkan sebuah alamat.


Tuk


Tuk


Tuk

__ADS_1


Deris mengetuk - ngetuk gerbang besi berulang - ulang, tiba - tiba pintu terbuka dari dalam rumah. Dara dengan baju tidur sopan keluar rumah, wanita itu merapatkan sweater yang membungkus bagian atas tubuh nya.


"Siapa ya malam - malam begini?" tanya Dara memakai sendal berjalan ke arah gerbang namun tak langsung membuka gembok gerbang.


"Ini aku Dar, aku Deris."


Terdengar tarikan nafas kaget Dara, mungkin wanita itu tak menyangka Deris akan datang ke rumah nya.


"Mau apa? Kenapa kamu nggak di rumah sakit? Malam - malam gini malah keluyuran." Ujar Dara lebih ke teguran.


"Dara, biarkan aku masuk. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan, pliss..." pinta Deris.


"Nggak, ini udah hampir jam sepuluh malam. Disini ketat, tamu harus lapor ke Pak RT. Apalagi aku hidup sendiri dengan anak, nggak bisa macem - macem masukin orang." Tolak Dara lebih ke tak ingin bertemu apapun alasan nya akan ia katakan untuk menolak Deris.


"Dimana rumah Pak Rt nya? Aku akan meminta ijin kesana jika perlu, aku benar - benar ingin bicara serius dengan kamu." Kekeuh Deris.


"Memang nya mau bahas apalagi?"


"Ini tentang kak Darwin dan kak Dira, aku baru tau jika mereka pernah berhubungan. Buka Dar, ayo bicara sebentar saja. Aku nggak bisa tenang, hatiku risau Dar... aku mohon..."

__ADS_1


Klontang.


Gerbang besi terbuka, dengan cepat Deris mendorong gerbang besi beroda ke samping. Deris masuk lalu berdiri di depan Dara dengan wajah tak bisa terbaca.


__ADS_2