
Pintu kamar Dara tertutup, Deris sebenarnya tak ingin menganggu privasi wanita itu namun ia tak tahan lagi mendengar tangisan Dara dari balik pintu.
"Dar, aku masuk." Deris mendorong pintu yang tidak terkunci, membuka pintu setengah terbuka.
Deris menatap sekeliling ruangan kamar milik Dara, lalu tatapan nya terhenti di samping tempat tidur pada sosok Dara yang menenggelamkan kepalanya diantara kaki yang terangkat, wanita itu terduduk di atas lantai dingin.
Tangisan Dara berubah menjadi isak tangis, hanya terdengar suara lirih sisa - sisa tangisan. Deris duduk di samping Dara, lalu menarik tubuh Dara ke dalam pelukan nya.
"Aku tau aku gak bisa menghilangkan rasa sakit mu karena kehilangan sosok seorang kakak sekaligus figur Ibu, aku tak bisa memutar kembali waktu. Namun, bisakah kamu membagi kesedihan mu denganku mulai sekarang. Aku ingin mengobati rasa kehilanganmu, aku ingin menjadi sosok yang bisa kamu andalkan. Dara, aku tak ingin kehilanganmu untuk kedua kalinya."
Isak tangis Dara kembali terdengar namun kali ini wanita itu mengurai genggaman tangan nya yang sejak tadi mengerat lalu memeluk balik tubuh Deris. "A-aku... gadis nakal kan? Aku sangat menyesal disaat kakak kesusahan aku malah bersikap kekanakan dan nakal. Uang yang kakak berikan untuk aku hidup adalah hasil kerja keras kak Dira tapi aku... a-aku adik paling tak tau diri, brengsek--"
"Shh... aku mengerti. Tapi jangan salahin lagi dirimu sendiri, kak Dira ikhlas merawat kamu sejak bayi. Dia pasti akan sedih kalau kamu masih terus menangis karena menyalahkan dirimu sendiri," Deris terus menenangkan Dara, tubuh wanita itu bergetar dalam pelukannya ia mengelus penuh kelembutan.
Tak lama Dara malah tertidur dalam dekapan Deris masih diatas lantai, kaki Deris terasa kaku karena terlalu lama tak menggerakkan kakinya yang menahan tubuh Dara. Setelah menggerakkan sebentar, ia berdiri sambil memangku tubuh Dara kemudian membaringkan tubuh Dara di atas ranjang wanita itu.
Deris menarik selimut menyelimuti tubuh Dara lalu mengecup keningnya, setelah mematikan lampu kamar ia keluar.
__ADS_1
"Mama mana, Om?"
"Tidur, apa Abel lapar?" tanya Deris karena Dara meninggalkan dapur sebelum mulai memasak.
"Lapar," gadis kecil itu mengangguk.
"Pesan delivery, engga apa-apa?"
"Abel suka, Om."
Deris tersenyum untung saja Abel bukan anak rewel dan mudah sekali diajak berkompromi.
"Abel gak suka daun bawang," Abel menyingkirkan daun bawang ke samping makanan.
Satu lagi kemiripan Abel dan Kak Darwin.
"Om malah suka, sini buat Om." Deris mengambil nya lalu memasukkan ke dalam kotak makanan nya.
__ADS_1
"Mama kapan bangun? Om kan harus pulang," ujar Abel.
"Abel ingin Om pulang? Kenapa? Apa Abel ngga suka Om?"
"Kalau Paman Alan sama Paman Dimas datang kesini, pasti sebelum waktunya Abel tidur... Mama usir mereka. Kata Mama, gak boleh ada laki-laki malam-malam di rumah."
Deris malah tersenyum sumringah, itu artinya selama ini nggak ada lelaki yang tinggal sampai malam di rumah Dara.
"Tunggu Mama Abel bangun, Om baru pulang ya. Lagian ini baru jam 7 malam lewat. Hehe..."
Abel mengangguk ikut tersenyum, sebenarnya gadis ceria itu sangat senang jika Deris yang mengatakan akan menjadi calon Papa-nya tinggal lebih lama bersama nya.
"Abel, boleh Om nanya?"
"Boleh."
"Apa ada teman laki-laki Mama Abel datang kesini selain Paman Dimas dan Paman Alan? Atau sering ketemu Mama sama Abel?"
__ADS_1
Gadis kecil bermata bulat itu menggeleng, " Sejak kecil Abel cuma dekat sama Paman Dimas dan Paman Alan."
Mata Deris semakin berbinar ternyata Dara dan Tommy belum ke arah serius, rival cintanya ternyata belum masuk terlalu jauh ke dalam kehidupan Dara.